Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Sebanyak 63.544 orang di Indonesia terdeteksi mengalami Infeksi Menular Seksual (IMS) sepanjang 2025.
Angka ini menjadi perhatian karena banyak penderita tidak menyadari dirinya telah terinfeksi akibat penyakit tersebut sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Informasi tersebut disampaikan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melalui unggahan edukasi di akun Instagram resminya pada Kamis (18/6/2026).
Kemendukbangga menjelaskan IMS merupakan kelompok penyakit yang dapat menular melalui hubungan seksual. Jenisnya beragam, mulai dari sifilis, gonore, herpes genital, Human Papillomavirus (HPV), hingga infeksi klamidia.
Salah satu tantangan dalam penanganan IMS adalah banyaknya kasus yang tidak menunjukkan gejala. Akibatnya, seseorang dapat tetap beraktivitas seperti biasa dan tanpa sadar menularkan infeksi kepada pasangannya.
"IMS sering tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak yang tidak tahu sudah terinfeksi dan tanpa sadar menularkan ke pasangan," tulis Kemendukbangga dalam unggahannya.
Meski kerap tidak bergejala, sebagian penderita tetap dapat mengalami keluhan tertentu. Pada perempuan, gejala yang mungkin muncul antara lain keputihan tidak normal, luka, gatal, nyeri atau benjolan di area intim, serta nyeri pada perut bagian bawah.
Sementara pada laki-laki, gejala dapat berupa rasa nyeri atau perih saat buang air kecil, luka, gatal, nyeri atau benjolan di area kelamin, hingga keluarnya cairan tidak normal dari alat kelamin.
Kemendukbangga mengingatkan tidak munculnya gejala bukan berarti seseorang terbebas dari IMS. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
IMS yang tidak segera ditangani juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Menurut Kemendukbangga, luka yang ditimbulkan oleh IMS pada organ reproduksi dapat membuat risiko tertular HIV meningkat hingga lima sampai sepuluh kali lipat.
Untuk mencegah dampak yang lebih buruk, masyarakat diimbau tidak menunggu hingga gejala muncul sebelum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Selain itu, menjaga kesehatan reproduksi dapat dilakukan melalui pemeriksaan rutin, komunikasi terbuka dengan pasangan, setia pada satu pasangan, menggunakan perlindungan, serta menjadikan tes IMS sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala.
"Deteksi dini, pemeriksaan rutin, komunikasi yang terbuka dengan pasangan, serta perilaku seksual yang bertanggung jawab adalah langkah penting untuk melindungi diri dan orang yang kita sayangi," tulis Kemendukbangga.
Kemendukbangga menegaskan pemeriksaan kesehatan reproduksi tidak perlu dianggap sebagai hal yang memalukan. Sebaliknya, deteksi dan penanganan sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi serta mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Sebanyak 63.544 orang di Indonesia terdeteksi mengalami Infeksi Menular Seksual (IMS) sepanjang 2025.
Angka ini menjadi perhatian karena banyak penderita tidak menyadari dirinya telah terinfeksi akibat penyakit tersebut sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Informasi tersebut disampaikan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melalui unggahan edukasi di akun Instagram resminya pada Kamis (18/6/2026).
Kemendukbangga menjelaskan IMS merupakan kelompok penyakit yang dapat menular melalui hubungan seksual. Jenisnya beragam, mulai dari sifilis, gonore, herpes genital, Human Papillomavirus (HPV), hingga infeksi klamidia.
Salah satu tantangan dalam penanganan IMS adalah banyaknya kasus yang tidak menunjukkan gejala. Akibatnya, seseorang dapat tetap beraktivitas seperti biasa dan tanpa sadar menularkan infeksi kepada pasangannya.
"IMS sering tidak menunjukkan gejala, sehingga banyak yang tidak tahu sudah terinfeksi dan tanpa sadar menularkan ke pasangan," tulis Kemendukbangga dalam unggahannya.
Meski kerap tidak bergejala, sebagian penderita tetap dapat mengalami keluhan tertentu. Pada perempuan, gejala yang mungkin muncul antara lain keputihan tidak normal, luka, gatal, nyeri atau benjolan di area intim, serta nyeri pada perut bagian bawah.
Sementara pada laki-laki, gejala dapat berupa rasa nyeri atau perih saat buang air kecil, luka, gatal, nyeri atau benjolan di area kelamin, hingga keluarnya cairan tidak normal dari alat kelamin.
Kemendukbangga mengingatkan tidak munculnya gejala bukan berarti seseorang terbebas dari IMS. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
IMS yang tidak segera ditangani juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Menurut Kemendukbangga, luka yang ditimbulkan oleh IMS pada organ reproduksi dapat membuat risiko tertular HIV meningkat hingga lima sampai sepuluh kali lipat.
Untuk mencegah dampak yang lebih buruk, masyarakat diimbau tidak menunggu hingga gejala muncul sebelum memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Selain itu, menjaga kesehatan reproduksi dapat dilakukan melalui pemeriksaan rutin, komunikasi terbuka dengan pasangan, setia pada satu pasangan, menggunakan perlindungan, serta menjadikan tes IMS sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala.
"Deteksi dini, pemeriksaan rutin, komunikasi yang terbuka dengan pasangan, serta perilaku seksual yang bertanggung jawab adalah langkah penting untuk melindungi diri dan orang yang kita sayangi," tulis Kemendukbangga.
Kemendukbangga menegaskan pemeriksaan kesehatan reproduksi tidak perlu dianggap sebagai hal yang memalukan. Sebaliknya, deteksi dan penanganan sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi serta mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
(Sf/Lo)