Cari disini...
Lifestyle
Ratusan penari massal Erau 2026 saat mengikuti latihan tari (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Persiapan tari massal untuk memeriahkan Erau Adat Pelas Benua 2026 di Kutai Kartanegara (Kukar) yang dijadwalkan berlangsung pada 20-27 September terus dimatangkan.
Sebanyak 350 penari terlibat dalam pertunjukan yang mengangkat tajuk Penjaga Tahta di Tepi Sungai Mahakam.
Pimpinan Produksi Tari Massal Erau 2026, Misra Budiarto Ax mengatakan persiapan diawali dengan pelatihan terhadap 12 orang pelatih.
Setelah melewati masa pelatihan, para pelatih tersebut akan turun langsung membimbing ratusan penari yang terlibat dalam pertunjukan.
“Alhamdulillah, kita sudah cukup baik mempersiapkan tari massal di Erau tahun ini. Diawali dengan latihan para pelatih yang berjumlah 12 orang. Setelah itu mereka akan turun melatih para anggota yang terlibat dalam tari massal,” ujar Misra, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan makna di balik tajuk ‘Penjaga Tahta di Tepi Sungai Mahakam’ membawa pesan bahwa kelestarian alam dan Sungai Mahakam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan Kesultanan Kutai saja, tapi juga merupakan tangguhnya jawab bersama.
“Ini mengartikan bahwa alam dan sungai ini bukan saja tanggung jawab pemerintah dan kesultanan, tapi tanggung jawab kita bersama untuk memelihara alam dan sungai ini,” terangnya.
Ia menyatakan proses latihan akan terus berlangsung hingga menjelang pelaksanaan pertunjukan pada 20 September 2026 mendatang.
“Kita terus berlangsung sampai hari pelaksanaan. Tanggal 18 kita gladi bersih, tanggal 19 persiapan properti, kostum dan pendukung lainnya. Kemudian tanggal 20 kita sudah melakukan pagelaran untuk Erau,” ungkap Misra.
Dalam proses latihan, kesiapan kesehatan para penari juga menjadi perhatian, terutama karena latihan berlangsung di tengah kondisi cuaca panas dan kemarau.
Ia menuturkan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengantisipasi kondisi kesehatan para penari.
Salah satunya dengan Palang Merah Indonesia (PMI) yang telah memberikan dukungan sejak awal proses latihan.
Menurutnya, dukungan medis juga akan disiapkan dalam jumlah lebih besar saat memasuki tahapan gladi kotor, gladi bersih hingga hari pelaksanaan, termasuk penyediaan kebutuhan seperti vitamin maupun penanganan medis apabila terdapat penari yang mengalami gangguan kesehatan.
“Untuk kendala yang terlalu berarti tidak ada karena semua bisa berjalan kalau kita melakukan koordinasi, khususnya untuk kesehatan. Alhamdulillah, PMI dari awal sudah membantu kita sampai hari ini,” ungkapnya.
Misra menyampaikan tari massal tahun ini dirancang berbeda dibandingkan pertunjukan sebelumnya. Sebab, Ia memiliki keinginan agar pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi tarian yang dinikmati secara visual, tapi juga mampu memadukan kekuatan musik dan koreografi.
“Saya tidak mau yang ditonjolkan hanya tari. Karena kita ingin tari massal ini memang menjadi satu hiburan yang memukau. Saya sebagai koreografer maupun komposer selalu wanti-wanti, sehingga nanti orang bingung, saya ini mau mendengarkan musik atau mau menonton tari. Itu yang kita coba, mudah-mudahan memang bisa terwujud,” jelasnya.
Pertunjukan tersebut nantinya akan dikemas dalam lima babak hingga menuju bagian akhir. Dalam konsepnya akan melibatkan berbagai etnis yang ada di Kalimantan Timur, mulai dari Melayu, Pesisir, Dayak Benua, Modang, Kenyah, Tunjung hingga Bahau.
“Konsep kita pada tahun ini semua etnis itu kita libatkan. Karena ini namanya Erau. Kalau Erau itu artinya ramai-ramai. Jadi bagaimana kita melibatkan etnis-etnis ini,” katanya.
Ia berharap pelibatan seniman daerah dalam produksi tari massal Erau 2026 dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Berbeda dari sejumlah produksi sebelumnya yang melibatkan koreografer dan komposer dari Jakarta, tahun ini ia memilih memberikan kesempatan lebih besar kepada putra daerah.
“Biasanya saya mengambil teman-teman dari Jakarta untuk koreografer maupun komposer. Tahun ini berbeda karena saya mencoba putra daerah. Karena kita punya S1 dan S2, maka saya coba mereka. Bisa enggak mereka menerjemahkan konsep saya?,”ucapnya.
Misra menilai keberhasilan para seniman muda daerah dalam menerjemahkan konsep pertunjukan tersebut akan menjadi capaian penting bagi keberlanjutan seni pertunjukan di daerah.
“Kalau mereka bisa menerjemahkan itu, luar biasa. Ini bukan untuk saya. Kalau saya sudah usia emas, paling bagaimana saya menurunkan kepada generasi-generasi,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

Ratusan penari massal Erau 2026 saat mengikuti latihan tari (Foto: Agus Saputra/seputarfakta.com)
Tenggarong - Persiapan tari massal untuk memeriahkan Erau Adat Pelas Benua 2026 di Kutai Kartanegara (Kukar) yang dijadwalkan berlangsung pada 20-27 September terus dimatangkan.
Sebanyak 350 penari terlibat dalam pertunjukan yang mengangkat tajuk Penjaga Tahta di Tepi Sungai Mahakam.
Pimpinan Produksi Tari Massal Erau 2026, Misra Budiarto Ax mengatakan persiapan diawali dengan pelatihan terhadap 12 orang pelatih.
Setelah melewati masa pelatihan, para pelatih tersebut akan turun langsung membimbing ratusan penari yang terlibat dalam pertunjukan.
“Alhamdulillah, kita sudah cukup baik mempersiapkan tari massal di Erau tahun ini. Diawali dengan latihan para pelatih yang berjumlah 12 orang. Setelah itu mereka akan turun melatih para anggota yang terlibat dalam tari massal,” ujar Misra, Senin (7/9/2026).
Ia menjelaskan makna di balik tajuk ‘Penjaga Tahta di Tepi Sungai Mahakam’ membawa pesan bahwa kelestarian alam dan Sungai Mahakam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan Kesultanan Kutai saja, tapi juga merupakan tangguhnya jawab bersama.
“Ini mengartikan bahwa alam dan sungai ini bukan saja tanggung jawab pemerintah dan kesultanan, tapi tanggung jawab kita bersama untuk memelihara alam dan sungai ini,” terangnya.
Ia menyatakan proses latihan akan terus berlangsung hingga menjelang pelaksanaan pertunjukan pada 20 September 2026 mendatang.
“Kita terus berlangsung sampai hari pelaksanaan. Tanggal 18 kita gladi bersih, tanggal 19 persiapan properti, kostum dan pendukung lainnya. Kemudian tanggal 20 kita sudah melakukan pagelaran untuk Erau,” ungkap Misra.
Dalam proses latihan, kesiapan kesehatan para penari juga menjadi perhatian, terutama karena latihan berlangsung di tengah kondisi cuaca panas dan kemarau.
Ia menuturkan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mengantisipasi kondisi kesehatan para penari.
Salah satunya dengan Palang Merah Indonesia (PMI) yang telah memberikan dukungan sejak awal proses latihan.
Menurutnya, dukungan medis juga akan disiapkan dalam jumlah lebih besar saat memasuki tahapan gladi kotor, gladi bersih hingga hari pelaksanaan, termasuk penyediaan kebutuhan seperti vitamin maupun penanganan medis apabila terdapat penari yang mengalami gangguan kesehatan.
“Untuk kendala yang terlalu berarti tidak ada karena semua bisa berjalan kalau kita melakukan koordinasi, khususnya untuk kesehatan. Alhamdulillah, PMI dari awal sudah membantu kita sampai hari ini,” ungkapnya.
Misra menyampaikan tari massal tahun ini dirancang berbeda dibandingkan pertunjukan sebelumnya. Sebab, Ia memiliki keinginan agar pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi tarian yang dinikmati secara visual, tapi juga mampu memadukan kekuatan musik dan koreografi.
“Saya tidak mau yang ditonjolkan hanya tari. Karena kita ingin tari massal ini memang menjadi satu hiburan yang memukau. Saya sebagai koreografer maupun komposer selalu wanti-wanti, sehingga nanti orang bingung, saya ini mau mendengarkan musik atau mau menonton tari. Itu yang kita coba, mudah-mudahan memang bisa terwujud,” jelasnya.
Pertunjukan tersebut nantinya akan dikemas dalam lima babak hingga menuju bagian akhir. Dalam konsepnya akan melibatkan berbagai etnis yang ada di Kalimantan Timur, mulai dari Melayu, Pesisir, Dayak Benua, Modang, Kenyah, Tunjung hingga Bahau.
“Konsep kita pada tahun ini semua etnis itu kita libatkan. Karena ini namanya Erau. Kalau Erau itu artinya ramai-ramai. Jadi bagaimana kita melibatkan etnis-etnis ini,” katanya.
Ia berharap pelibatan seniman daerah dalam produksi tari massal Erau 2026 dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan mereka.
Berbeda dari sejumlah produksi sebelumnya yang melibatkan koreografer dan komposer dari Jakarta, tahun ini ia memilih memberikan kesempatan lebih besar kepada putra daerah.
“Biasanya saya mengambil teman-teman dari Jakarta untuk koreografer maupun komposer. Tahun ini berbeda karena saya mencoba putra daerah. Karena kita punya S1 dan S2, maka saya coba mereka. Bisa enggak mereka menerjemahkan konsep saya?,”ucapnya.
Misra menilai keberhasilan para seniman muda daerah dalam menerjemahkan konsep pertunjukan tersebut akan menjadi capaian penting bagi keberlanjutan seni pertunjukan di daerah.
“Kalau mereka bisa menerjemahkan itu, luar biasa. Ini bukan untuk saya. Kalau saya sudah usia emas, paling bagaimana saya menurunkan kepada generasi-generasi,” tandasnya.
(Sf/Lo)