Lifestyle

    Sering Merasa Lelah Padahal Tak Banyak Aktivitas? Bisa Jadi Silent Burnout

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    24 Mei 2026 pukul 00:56 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Tenggarong - Banyak anak muda kini terlihat tetap aktif bekerja, produktif di media sosial, hingga masih mampu menjalani rutinitas harian seperti biasa. 

    Namun di balik itu, tidak sedikit yang sebenarnya mengalami silent burnout atau kelelahan mental tersembunyi yang sering tidak disadari.

    Fenomena ini mulai menjadi perhatian dalam dunia kesehatan mental karena gejalanya kerap dianggap sekadar lelah biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik hingga menurunkan kualitas hidup seseorang.

    Silent burnout merupakan kondisi kelelahan emosional dan mental berkepanjangan akibat tekanan hidup, pekerjaan, maupun tuntutan sosial yang terus menumpuk tanpa disadari. Penderitanya biasanya masih mampu beraktivitas normal, tetapi perlahan kehilangan motivasi, mudah lelah, sulit fokus, hingga merasa kosong secara emosional.

    Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sejak 2019 telah mengategorikan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan dalam International Classification of Diseases atau ICD-11. Burnout disebut muncul akibat stres kronis yang gagal dikelola dengan baik.

    Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health tahun 2024 menyebut generasi muda menjadi kelompok paling rentan mengalami burnout tersembunyi akibat tekanan produktivitas, ketidakstabilan ekonomi, serta paparan media sosial yang terus-menerus.

    Fenomena hustle culture atau budaya harus terus produktif juga dinilai memperparah kondisi tersebut. Banyak orang merasa harus selalu sibuk, sukses dan aktif agar dianggap berhasil, meski kondisi mental mereka sebenarnya kelelahan.

    Psikolog klinis dari American Psychological Association menyebut silent burnout sering sulit dikenali karena penderitanya tetap tampak “baik-baik saja” di depan orang lain. Namun tubuh sebenarnya terus berada dalam kondisi stres berkepanjangan.

    Kondisi itu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan seperti insomnia, kecemasan, nyeri kepala, gangguan pencernaan, penurunan imun tubuh, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung apabila berlangsung lama.

    Data Kementerian Kesehatan RI juga menunjukkan masalah kesehatan mental pada usia produktif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perubahan pola kerja dan tingginya tekanan sosial digital pascapandemi.

    Penelitian lain dalam Frontiers in Psychology tahun 2023 menemukan paparan media sosial berlebihan dapat memperkuat rasa lelah mental karena otak terus menerima stimulasi tanpa jeda istirahat yang cukup.

    Psikolog menyarankan masyarakat mulai mengenali tanda-tanda burnout sejak dini, seperti kehilangan semangat, mudah emosional, sulit menikmati waktu istirahat, hingga merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas berat.

    Selain menjaga pola tidur dan membatasi paparan digital, dukungan lingkungan sosial serta kemampuan mengatur ritme kerja dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah silent burnout berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.

    (Sf/Lo)

    Lifestyle

    Sering Merasa Lelah Padahal Tak Banyak Aktivitas? Bisa Jadi Silent Burnout

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    24 Mei 2026 pukul 00:56 WITA

    Ilustrasi (Generate Gemini AI)

    Tenggarong - Banyak anak muda kini terlihat tetap aktif bekerja, produktif di media sosial, hingga masih mampu menjalani rutinitas harian seperti biasa. 

    Namun di balik itu, tidak sedikit yang sebenarnya mengalami silent burnout atau kelelahan mental tersembunyi yang sering tidak disadari.

    Fenomena ini mulai menjadi perhatian dalam dunia kesehatan mental karena gejalanya kerap dianggap sekadar lelah biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik hingga menurunkan kualitas hidup seseorang.

    Silent burnout merupakan kondisi kelelahan emosional dan mental berkepanjangan akibat tekanan hidup, pekerjaan, maupun tuntutan sosial yang terus menumpuk tanpa disadari. Penderitanya biasanya masih mampu beraktivitas normal, tetapi perlahan kehilangan motivasi, mudah lelah, sulit fokus, hingga merasa kosong secara emosional.

    Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sejak 2019 telah mengategorikan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan dalam International Classification of Diseases atau ICD-11. Burnout disebut muncul akibat stres kronis yang gagal dikelola dengan baik.

    Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Occupational Health tahun 2024 menyebut generasi muda menjadi kelompok paling rentan mengalami burnout tersembunyi akibat tekanan produktivitas, ketidakstabilan ekonomi, serta paparan media sosial yang terus-menerus.

    Fenomena hustle culture atau budaya harus terus produktif juga dinilai memperparah kondisi tersebut. Banyak orang merasa harus selalu sibuk, sukses dan aktif agar dianggap berhasil, meski kondisi mental mereka sebenarnya kelelahan.

    Psikolog klinis dari American Psychological Association menyebut silent burnout sering sulit dikenali karena penderitanya tetap tampak “baik-baik saja” di depan orang lain. Namun tubuh sebenarnya terus berada dalam kondisi stres berkepanjangan.

    Kondisi itu dapat memicu berbagai gangguan kesehatan seperti insomnia, kecemasan, nyeri kepala, gangguan pencernaan, penurunan imun tubuh, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung apabila berlangsung lama.

    Data Kementerian Kesehatan RI juga menunjukkan masalah kesehatan mental pada usia produktif terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah perubahan pola kerja dan tingginya tekanan sosial digital pascapandemi.

    Penelitian lain dalam Frontiers in Psychology tahun 2023 menemukan paparan media sosial berlebihan dapat memperkuat rasa lelah mental karena otak terus menerima stimulasi tanpa jeda istirahat yang cukup.

    Psikolog menyarankan masyarakat mulai mengenali tanda-tanda burnout sejak dini, seperti kehilangan semangat, mudah emosional, sulit menikmati waktu istirahat, hingga merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas berat.

    Selain menjaga pola tidur dan membatasi paparan digital, dukungan lingkungan sosial serta kemampuan mengatur ritme kerja dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah silent burnout berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.

    (Sf/Lo)