Sering Dibilang Lemot Padahal Otaknya Lagi “Loading”, Kenali Gejala APD

    Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -

    Lifestyle

    16 Mei 2026 12:00 WIB

    Ilustrasi (foto: freepik)

    Tenggarong – Pernah berbicara dengan seseorang yang sering merespons dengan “hah?” meski suara terdengar jelas? Atau mungkin mengenal orang yang terlihat lambat menangkap percakapan, terutama saat berada di tempat ramai seperti ruang kelas, kantor, kafe atau pusat perbelanjaan? Banyak orang langsung menganggap kondisi itu sebagai tanda tidak fokus, cuek, bahkan “lemot”. 

    Padahal, kondisi tersebut bisa saja berkaitan dengan gangguan bernama Auditory Processing Disorder atau APD.

    Belakangan, istilah APD ramai dibahas di media sosial karena banyak orang merasa mengalami gejala serupa. Gangguan ini bukan tuli atau gangguan pendengaran biasa. Orang dengan APD umumnya masih bisa mendengar suara dengan baik, tetapi otaknya mengalami kesulitan memproses dan memahami suara yang masuk.

    Sederhananya, telinga berfungsi normal, tetapi proses penerjemahan suara di otak berjalan lebih lambat atau tidak maksimal.

     

    Menurut American Speech-Language-Hearing Association, APD adalah gangguan yang memengaruhi cara otak mengenali dan mengolah informasi suara. Penderitanya sering kesulitan membedakan suara, memahami percakapan atau menangkap instruksi lisan, terutama ketika berada di lingkungan bising.

    Orang dengan APD biasanya mengalami kesulitan fokus saat banyak suara terdengar bersamaan. Ketika orang lain masih bisa menyimak satu percakapan dengan jelas, penderita APD justru mendengar semua suara masuk tanpa filter yang jelas. Akibatnya, otak harus bekerja lebih keras untuk memilah mana suara yang perlu dipahami.

    Kondisi itu membuat penderita APD lebih cepat lelah saat mendengarkan percakapan panjang. Tidak sedikit yang mengaku mudah pusing atau kehabisan energi mental setelah terlalu lama berada di tempat ramai.

    Cleveland Clinic menjelaskan bahwa seseorang dengan APD sebenarnya dapat mendengar suara secara normal, tetapi otaknya mengalami kesulitan memahami arti dari suara tersebut.

    Gangguan ini juga cukup sering ditemukan pada anak-anak. Di sekolah, anak dengan APD kerap dianggap tidak memperhatikan guru, lambat memahami pelajaran atau sulit mengikuti instruksi. Padahal masalah utamanya bukan pada kecerdasan atau pendengaran, melainkan proses pengolahan suara di otak.

    Dalam jurnal Journal of Speech, Language and Hearing Research disebutkan APD dapat memengaruhi kemampuan memahami ucapan, memusatkan perhatian pada suara tertentu, hingga mengingat informasi verbal.

    Karena gejalanya mirip dengan gangguan konsentrasi atau ADHD, banyak kasus APD tidak terdeteksi sejak dini. Diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan khusus oleh dokter THT dan ahli audiologi.

    Dikutip dari National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, penyebab APD belum sepenuhnya diketahui. Namun kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf, cedera kepala, infeksi telinga berulang atau masalah neurologis tertentu.

    Para ahli mengingatkan penderita APD bukan orang yang malas, tidak cerdas atau sengaja tidak memperhatikan lawan bicara. Karena itu, masyarakat diminta lebih memahami kondisi ini dan tidak terburu-buru memberi stigma kepada seseorang yang tampak lambat merespons percakapan.

    (Sf/Lo)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Sering Dibilang Lemot Padahal Otaknya Lagi “Loading”, Kenali Gejala APD

    Seputarfakta.com - Arsensia Serlyani -

    Lifestyle

    16 Mei 2026 12:00 WIB

    Ilustrasi (foto: freepik)

    Tenggarong – Pernah berbicara dengan seseorang yang sering merespons dengan “hah?” meski suara terdengar jelas? Atau mungkin mengenal orang yang terlihat lambat menangkap percakapan, terutama saat berada di tempat ramai seperti ruang kelas, kantor, kafe atau pusat perbelanjaan? Banyak orang langsung menganggap kondisi itu sebagai tanda tidak fokus, cuek, bahkan “lemot”. 

    Padahal, kondisi tersebut bisa saja berkaitan dengan gangguan bernama Auditory Processing Disorder atau APD.

    Belakangan, istilah APD ramai dibahas di media sosial karena banyak orang merasa mengalami gejala serupa. Gangguan ini bukan tuli atau gangguan pendengaran biasa. Orang dengan APD umumnya masih bisa mendengar suara dengan baik, tetapi otaknya mengalami kesulitan memproses dan memahami suara yang masuk.

    Sederhananya, telinga berfungsi normal, tetapi proses penerjemahan suara di otak berjalan lebih lambat atau tidak maksimal.

     

    Menurut American Speech-Language-Hearing Association, APD adalah gangguan yang memengaruhi cara otak mengenali dan mengolah informasi suara. Penderitanya sering kesulitan membedakan suara, memahami percakapan atau menangkap instruksi lisan, terutama ketika berada di lingkungan bising.

    Orang dengan APD biasanya mengalami kesulitan fokus saat banyak suara terdengar bersamaan. Ketika orang lain masih bisa menyimak satu percakapan dengan jelas, penderita APD justru mendengar semua suara masuk tanpa filter yang jelas. Akibatnya, otak harus bekerja lebih keras untuk memilah mana suara yang perlu dipahami.

    Kondisi itu membuat penderita APD lebih cepat lelah saat mendengarkan percakapan panjang. Tidak sedikit yang mengaku mudah pusing atau kehabisan energi mental setelah terlalu lama berada di tempat ramai.

    Cleveland Clinic menjelaskan bahwa seseorang dengan APD sebenarnya dapat mendengar suara secara normal, tetapi otaknya mengalami kesulitan memahami arti dari suara tersebut.

    Gangguan ini juga cukup sering ditemukan pada anak-anak. Di sekolah, anak dengan APD kerap dianggap tidak memperhatikan guru, lambat memahami pelajaran atau sulit mengikuti instruksi. Padahal masalah utamanya bukan pada kecerdasan atau pendengaran, melainkan proses pengolahan suara di otak.

    Dalam jurnal Journal of Speech, Language and Hearing Research disebutkan APD dapat memengaruhi kemampuan memahami ucapan, memusatkan perhatian pada suara tertentu, hingga mengingat informasi verbal.

    Karena gejalanya mirip dengan gangguan konsentrasi atau ADHD, banyak kasus APD tidak terdeteksi sejak dini. Diagnosis biasanya dilakukan melalui pemeriksaan khusus oleh dokter THT dan ahli audiologi.

    Dikutip dari National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, penyebab APD belum sepenuhnya diketahui. Namun kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan saraf, cedera kepala, infeksi telinga berulang atau masalah neurologis tertentu.

    Para ahli mengingatkan penderita APD bukan orang yang malas, tidak cerdas atau sengaja tidak memperhatikan lawan bicara. Karena itu, masyarakat diminta lebih memahami kondisi ini dan tidak terburu-buru memberi stigma kepada seseorang yang tampak lambat merespons percakapan.

    (Sf/Lo)