Cari disini...
Lifestyle
ilustrasi pengukuran tekanan darah menggunakan alat tensimeter digital. (Dok: Shutterstock)
Samarinda – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan sekitar 1 juta warga Indonesia yang sebelumnya tidak terdeteksi mengalami hipertensi, namun kemudian diketahui memiliki tekanan darah tinggi setelah menjalani pemeriksaan.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui website resmi mereka yang bertajuk “Hasil CKG 2026: 1 Juta Warga yang Semula Sehat Kini Terdeteksi Hipertensi” pada 4 Agustus 2026.
Temuan itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui kondisi tekanan darahnya. Hipertensi dapat berkembang tanpa gejala yang dirasakan secara jelas, sehingga seseorang tetap merasa sehat meski sudah mengalami tekanan darah tinggi.
Kemenkes mencatat, dari 2,4 juta penderita hipertensi yang kembali melakukan pemeriksaan, sekitar 1,1 juta orang berhasil mengontrol tekanan darahnya ke rentang normal.
Namun, pada kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terdeteksi, ditemukan sekitar 1 juta orang yang kemudian diketahui mengalami hipertensi. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat pelaksanaan CKG pada 2026.
Pemeriksaan tidak hanya diarahkan untuk menemukan penyakit, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan tindak lanjut setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah kesehatan.
Hingga akhir Juli 2026, Kemenkes mencatat 73,8 juta orang telah mengikuti CKG. Sebanyak 62,7 juta peserta menjalani skrining melalui Puskesmas dan kegiatan komunitas, sementara 11,1 juta lainnya merupakan anak sekolah.
Pada 2026, Kemenkes memfokuskan tindak lanjut CKG pada sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk hipertensi, gula darah tinggi dan kolesterol tinggi. Ketiganya dinilai berkaitan dengan risiko penyakit jantung, stroke dan gagal ginjal.
Kemenkes juga menyebut pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh telah mencapai sekitar 90 persen dari sasaran hingga akhir Juli 2026. Sementara pemeriksaan gula darah mencapai 83 persen.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengatakan hasil skrining CKG perlu ditindaklanjuti melalui pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Mulai Agustus 2026, Kemenkes juga melakukan pemantauan terhadap data tata laksana hasil CKG dari sedikitnya 5.300 Puskesmas sebelum diperluas secara nasional.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan hipertensi dan diabetes kerap berkembang tanpa gejala sehingga masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan keluhan sebagai tanda adanya gangguan kesehatan.
Temuan sekitar 1 juta warga yang baru diketahui mengalami hipertensi melalui CKG tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Masyarakat yang merasa sehat belum tentu terbebas dari penyakit tidak menular. Pemeriksaan rutin menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal dan mendapatkan penanganan sebelum berkembang menjadi komplikasi.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

ilustrasi pengukuran tekanan darah menggunakan alat tensimeter digital. (Dok: Shutterstock)
Samarinda – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan sekitar 1 juta warga Indonesia yang sebelumnya tidak terdeteksi mengalami hipertensi, namun kemudian diketahui memiliki tekanan darah tinggi setelah menjalani pemeriksaan.
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui website resmi mereka yang bertajuk “Hasil CKG 2026: 1 Juta Warga yang Semula Sehat Kini Terdeteksi Hipertensi” pada 4 Agustus 2026.
Temuan itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui kondisi tekanan darahnya. Hipertensi dapat berkembang tanpa gejala yang dirasakan secara jelas, sehingga seseorang tetap merasa sehat meski sudah mengalami tekanan darah tinggi.
Kemenkes mencatat, dari 2,4 juta penderita hipertensi yang kembali melakukan pemeriksaan, sekitar 1,1 juta orang berhasil mengontrol tekanan darahnya ke rentang normal.
Namun, pada kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terdeteksi, ditemukan sekitar 1 juta orang yang kemudian diketahui mengalami hipertensi. Temuan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperkuat pelaksanaan CKG pada 2026.
Pemeriksaan tidak hanya diarahkan untuk menemukan penyakit, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan tindak lanjut setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah kesehatan.
Hingga akhir Juli 2026, Kemenkes mencatat 73,8 juta orang telah mengikuti CKG. Sebanyak 62,7 juta peserta menjalani skrining melalui Puskesmas dan kegiatan komunitas, sementara 11,1 juta lainnya merupakan anak sekolah.
Pada 2026, Kemenkes memfokuskan tindak lanjut CKG pada sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk hipertensi, gula darah tinggi dan kolesterol tinggi. Ketiganya dinilai berkaitan dengan risiko penyakit jantung, stroke dan gagal ginjal.
Kemenkes juga menyebut pemeriksaan tekanan darah dan indeks massa tubuh telah mencapai sekitar 90 persen dari sasaran hingga akhir Juli 2026. Sementara pemeriksaan gula darah mencapai 83 persen.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengatakan hasil skrining CKG perlu ditindaklanjuti melalui pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Mulai Agustus 2026, Kemenkes juga melakukan pemantauan terhadap data tata laksana hasil CKG dari sedikitnya 5.300 Puskesmas sebelum diperluas secara nasional.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono mengingatkan hipertensi dan diabetes kerap berkembang tanpa gejala sehingga masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan keluhan sebagai tanda adanya gangguan kesehatan.
Temuan sekitar 1 juta warga yang baru diketahui mengalami hipertensi melalui CKG tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Masyarakat yang merasa sehat belum tentu terbebas dari penyakit tidak menular. Pemeriksaan rutin menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal dan mendapatkan penanganan sebelum berkembang menjadi komplikasi.
(Sf/Lo)