Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Penajam - Kanker paru dapat berkembang tanpa gejala khas pada tahap awal. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok berisiko, agar tidak menunggu gejala muncul untuk melakukan pemeriksaan.
Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia setiap 1 Agustus menjadi momentum Kemenkes mendorong masyarakat mengenali faktor risiko dan melakukan deteksi dini. Melalui akun Instagram resminya, @kemenkes_ri, Kemenkes menyebut kanker paru terjadi ketika sel di paru tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyebar ke organ lain.
Merokok dan paparan asap rokok menjadi faktor risiko penting kanker paru. Risiko juga meningkat pada orang yang terpapar polusi atau zat berbahaya serta memiliki riwayat kanker paru dalam keluarga.
Kemenkes mengingatkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, mulai dari batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, pembengkakan atau benjolan di leher hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Namun, pemeriksaan tidak harus menunggu gejala. Kemenkes mendorong skrining bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi meski belum mengalami keluhan.
Kelompok yang menjadi sasaran antara lain orang berusia 45 tahun ke atas dengan riwayat merokok, termasuk mereka yang terpapar asap rokok atau baru berhenti merokok, serta orang dengan riwayat kanker paru dalam keluarga.
Deteksi lebih awal penting karena ketika kanker ditemukan pada stadium awal, pilihan penanganan masih lebih banyak dan peluang keberhasilan terapi lebih besar.
Risiko kanker paru juga tidak terlepas dari tingginya paparan rokok di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui 2 Februari 2026 menunjukkan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok dalam sebulan terakhir masih tinggi pada sejumlah kelompok umur.
Pada kelompok usia 15-24 tahun, persentasenya mencapai 18,73 persen. Angka itu meningkat menjadi 32,58 persen pada usia 25-34 tahun dan 35,19 persen pada usia 35-44 tahun.
Sementara pada kelompok usia 45-54 tahun tercatat 33,29 persen, usia 55-64 tahun 28,70 persen dan usia 65 tahun ke atas sebesar 20,88 persen.
Dalam data kanker nasional yang dikutip Kemenkes dari Global Cancer Observatory (Globocan), Indonesia mencatat 242.099 kematian akibat kanker pada 2022.
Kanker paru termasuk salah satu jenis kanker dengan angka kematian tertinggi, sementara pada laki-laki kanker paru menjadi salah satu kanker dengan beban kasus terbesar.
Kemenkes mengajak masyarakat menekan risiko kanker paru dengan tidak merokok, menghindari paparan asap rokok, menerapkan pola hidup sehat serta segera memeriksakan diri jika memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mencurigakan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Penajam - Kanker paru dapat berkembang tanpa gejala khas pada tahap awal. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok berisiko, agar tidak menunggu gejala muncul untuk melakukan pemeriksaan.
Peringatan Hari Kanker Paru Sedunia setiap 1 Agustus menjadi momentum Kemenkes mendorong masyarakat mengenali faktor risiko dan melakukan deteksi dini. Melalui akun Instagram resminya, @kemenkes_ri, Kemenkes menyebut kanker paru terjadi ketika sel di paru tumbuh secara tidak terkendali dan dapat menyebar ke organ lain.
Merokok dan paparan asap rokok menjadi faktor risiko penting kanker paru. Risiko juga meningkat pada orang yang terpapar polusi atau zat berbahaya serta memiliki riwayat kanker paru dalam keluarga.
Kemenkes mengingatkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, mulai dari batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, suara serak, pembengkakan atau benjolan di leher hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Namun, pemeriksaan tidak harus menunggu gejala. Kemenkes mendorong skrining bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi meski belum mengalami keluhan.
Kelompok yang menjadi sasaran antara lain orang berusia 45 tahun ke atas dengan riwayat merokok, termasuk mereka yang terpapar asap rokok atau baru berhenti merokok, serta orang dengan riwayat kanker paru dalam keluarga.
Deteksi lebih awal penting karena ketika kanker ditemukan pada stadium awal, pilihan penanganan masih lebih banyak dan peluang keberhasilan terapi lebih besar.
Risiko kanker paru juga tidak terlepas dari tingginya paparan rokok di Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbarui 2 Februari 2026 menunjukkan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok dalam sebulan terakhir masih tinggi pada sejumlah kelompok umur.
Pada kelompok usia 15-24 tahun, persentasenya mencapai 18,73 persen. Angka itu meningkat menjadi 32,58 persen pada usia 25-34 tahun dan 35,19 persen pada usia 35-44 tahun.
Sementara pada kelompok usia 45-54 tahun tercatat 33,29 persen, usia 55-64 tahun 28,70 persen dan usia 65 tahun ke atas sebesar 20,88 persen.
Dalam data kanker nasional yang dikutip Kemenkes dari Global Cancer Observatory (Globocan), Indonesia mencatat 242.099 kematian akibat kanker pada 2022.
Kanker paru termasuk salah satu jenis kanker dengan angka kematian tertinggi, sementara pada laki-laki kanker paru menjadi salah satu kanker dengan beban kasus terbesar.
Kemenkes mengajak masyarakat menekan risiko kanker paru dengan tidak merokok, menghindari paparan asap rokok, menerapkan pola hidup sehat serta segera memeriksakan diri jika memiliki faktor risiko atau mengalami gejala yang mencurigakan.
(Sf/Rs)