Lifestyle

    Petala Borneo Rilis Album Kedua, Upaya Jaga dan Lestarikan Akar Budaya Kutai Lewat Karya Musik

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    12 Juli 2026 pukul 06:20 WITA

    Petala Borneo saat memperkenalkan album keduanya yang berjudul ‘Pura Tana Bhumi’ di hadapan publik (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Grup musik tradisi asal Kutai Kartanegara (Kukar), Petala Borneo tengah berupaya menjaga dan melestarikan akar budaya melalui karya musik di tengah derasnya perkembangan musik modern.

    Komitmen itu mereka buktikan melalui peluncuran album kedua berjudul ‘Pura Tana Bhumi’ di Taman Musik Tenggarong, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Jumat (10/7/2026) malam.

    Album yang memuat sembilan lagu tersebut menjadi representasi kecintaan Petala Borneo terhadap sejarah dan kebudayaan Kutai.

    Seluruh karya di dalamnya mengangkat cerita, nilai serta identitas lokal yang diharapkan tetap dikenal generasi mendatang.

    Pendiri sekaligus komposer Petala Borneo, Ahmad Fauzi menjelaskan nama Pura Tana Bhumi berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna suara dari tanah tua.

    Menurutnya, nama itu dipilih karena menggambarkan Kutai sebagai daerah yang memiliki warisan sejarah dan kebudayaan yang sangat panjang.

    "Kami ingin mengingatkan bahwa Kutai memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Album ini menjadi cara kami menyuarakan kembali nilai-nilai itu melalui musik," ujar Ahmad Fauzi.

    Ia mengungkapkan proses kreatif album dimulai sejak Agustus 2025. Setiap lagu lebih dahulu dirilis sebagai single, sebelum akhirnya dihimpun menjadi satu album penuh.

    Tidak hanya memperkenalkan karya baru, peluncuran album juga menjadi penanda perjalanan baru Petala Borneo setelah bertransformasi dari nama sebelumnya, Olah Gubang.

    Perubahan tersebut dilakukan setelah kelompok musik itu berdiri mandiri dan tidak lagi berada di bawah naungan Yayasan Gubang.

    Fauzi menjelaskan kata Petala memiliki makna lapisan atau tingkatan dalam bahasa Melayu kuno. 

    Filosofi itu mencerminkan tekad mereka untuk terus berkembang tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi fondasi utama.

    Meski album kedua baru saja diluncurkan, Petala Borneo mengaku sudah mulai menyusun materi untuk album berikutnya. 

    Mereka meyakini musik tradisi memiliki peluang besar untuk dikenal hingga ke mancanegara, apabila terus diproduksi secara konsisten.

    “Bagi kami, musik berbasis tradisi yang sangat kedaerahan justru memiliki daya tarik di luar negeri. Jadi cara kami menuju panggung dunia adalah dengan terus menghasilkan karya sebanyak mungkin, sehingga nantinya ada karya yang diterima masyarakat internasional,” ungkap Fauzi.

    Vokalis Petala Borneo, Nova menambahkan seluruh proses produksi dikerjakan secara mandiri oleh para personel, mulai dari rekaman, mixing hingga mastering.

    Ia menilai keterbatasan bukan menjadi penghalang selama seluruh anggota tetap memiliki semangat untuk berkarya.

    "Yang terpenting bagi kami adalah terus bergerak. Selama semangat itu ada, setiap tantangan pasti bisa kami lewati bersama," tandasnya.

    (Sf/Rs)

    Lifestyle

    Petala Borneo Rilis Album Kedua, Upaya Jaga dan Lestarikan Akar Budaya Kutai Lewat Karya Musik

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Rusdianto
    12 Juli 2026 pukul 06:20 WITA

    Petala Borneo saat memperkenalkan album keduanya yang berjudul ‘Pura Tana Bhumi’ di hadapan publik (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Grup musik tradisi asal Kutai Kartanegara (Kukar), Petala Borneo tengah berupaya menjaga dan melestarikan akar budaya melalui karya musik di tengah derasnya perkembangan musik modern.

    Komitmen itu mereka buktikan melalui peluncuran album kedua berjudul ‘Pura Tana Bhumi’ di Taman Musik Tenggarong, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Jumat (10/7/2026) malam.

    Album yang memuat sembilan lagu tersebut menjadi representasi kecintaan Petala Borneo terhadap sejarah dan kebudayaan Kutai.

    Seluruh karya di dalamnya mengangkat cerita, nilai serta identitas lokal yang diharapkan tetap dikenal generasi mendatang.

    Pendiri sekaligus komposer Petala Borneo, Ahmad Fauzi menjelaskan nama Pura Tana Bhumi berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna suara dari tanah tua.

    Menurutnya, nama itu dipilih karena menggambarkan Kutai sebagai daerah yang memiliki warisan sejarah dan kebudayaan yang sangat panjang.

    "Kami ingin mengingatkan bahwa Kutai memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Album ini menjadi cara kami menyuarakan kembali nilai-nilai itu melalui musik," ujar Ahmad Fauzi.

    Ia mengungkapkan proses kreatif album dimulai sejak Agustus 2025. Setiap lagu lebih dahulu dirilis sebagai single, sebelum akhirnya dihimpun menjadi satu album penuh.

    Tidak hanya memperkenalkan karya baru, peluncuran album juga menjadi penanda perjalanan baru Petala Borneo setelah bertransformasi dari nama sebelumnya, Olah Gubang.

    Perubahan tersebut dilakukan setelah kelompok musik itu berdiri mandiri dan tidak lagi berada di bawah naungan Yayasan Gubang.

    Fauzi menjelaskan kata Petala memiliki makna lapisan atau tingkatan dalam bahasa Melayu kuno. 

    Filosofi itu mencerminkan tekad mereka untuk terus berkembang tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi fondasi utama.

    Meski album kedua baru saja diluncurkan, Petala Borneo mengaku sudah mulai menyusun materi untuk album berikutnya. 

    Mereka meyakini musik tradisi memiliki peluang besar untuk dikenal hingga ke mancanegara, apabila terus diproduksi secara konsisten.

    “Bagi kami, musik berbasis tradisi yang sangat kedaerahan justru memiliki daya tarik di luar negeri. Jadi cara kami menuju panggung dunia adalah dengan terus menghasilkan karya sebanyak mungkin, sehingga nantinya ada karya yang diterima masyarakat internasional,” ungkap Fauzi.

    Vokalis Petala Borneo, Nova menambahkan seluruh proses produksi dikerjakan secara mandiri oleh para personel, mulai dari rekaman, mixing hingga mastering.

    Ia menilai keterbatasan bukan menjadi penghalang selama seluruh anggota tetap memiliki semangat untuk berkarya.

    "Yang terpenting bagi kami adalah terus bergerak. Selama semangat itu ada, setiap tantangan pasti bisa kami lewati bersama," tandasnya.

    (Sf/Rs)