Lifestyle

    Perempuan Indonesia Hidup Lebih Lama, tetapi 10 Tahun Terakhir Dihabiskan dalam Kondisi Sakit, BKKBN Dorong Deteksi Dini Penyakit Tak Menular

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    17 Juni 2026 pukul 21:31 WITA

    Ilustrasi. (Freepik)

    Bontang - Usia harapan hidup perempuan Indonesia saat ini mencapai 76 tahun. Namun di balik angka tersebut, terdapat fakta yang perlu menjadi perhatian. Rata-rata perempuan Indonesia hanya menikmati sekitar 66 tahun dalam kondisi sehat, sementara hampir 10 tahun sisanya dijalani dengan berbagai gangguan kesehatan akibat penyakit tidak menular.

    Pesan tersebut disampaikan Kemendudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melalui unggahan edukasi kesehatan di akun Instagram resmi @kemendukbangga_bkkbn pada 10 Juni 2026.

    Dalam infografis yang dibagikan, disebutkan bahwa penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal menjadi penyebab utama berkurangnya masa hidup sehat perempuan Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa usia panjang belum tentu diiringi kualitas kesehatan yang baik.

    “Panjang umur saja tidak cukup. Hidup sehat hingga usia lanjut jauh lebih penting,” tulis Kemendukbangga/BKKBN dalam materi edukasinya.

    Data tersebut sejalan dengan keterangan Kementerian Kesehatan mengenai adanya kesenjangan antara usia harapan hidup dan usia harapan hidup sehat atau Healthy Adjusted Life Expectancy (HALE). Meski rata-rata perempuan Indonesia hidup hingga usia 76 tahun, hanya sekitar 66 tahun yang dapat dinikmati dalam kondisi sehat.

    Sebagai langkah pencegahan, Kemendukbangga/BKKBN mengajak masyarakat, khususnya perempuan, untuk rutin memantau tiga indikator kesehatan utama, yakni tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

    Menurut BKKBN, banyak penyakit tidak menular berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan rutin terhadap ketiga indikator tersebut dapat membantu mendeteksi risiko penyakit lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

    Menteri Kesehatan juga menekankan pentingnya menjaga tekanan darah tetap normal, mengontrol kadar gula darah, serta menjaga kolesterol dalam batas aman guna mengurangi risiko penyakit kronis pada usia lanjut.

    Selain itu, masyarakat didorong memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dapat diakses satu kali setiap tahun. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini, mendeteksi penyakit tidak menular, serta memperoleh penanganan lebih cepat apabila ditemukan faktor risiko.

    Kemendukbangga/BKKBN bahkan mengajak masyarakat menjadikan hari ulang tahun sebagai pengingat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan.

    Pesan kesehatan ini menjadi semakin relevan karena Indonesia tengah memasuki era ageing population atau meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk lansia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi nasional.

    Dengan kondisi tersebut, tantangan Indonesia ke depan tidak hanya meningkatkan angka harapan hidup, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menjalani usia panjang dengan kualitas kesehatan yang baik, mandiri, dan tetap produktif.

    (Sf/Rs)

    Lifestyle

    Perempuan Indonesia Hidup Lebih Lama, tetapi 10 Tahun Terakhir Dihabiskan dalam Kondisi Sakit, BKKBN Dorong Deteksi Dini Penyakit Tak Menular

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    17 Juni 2026 pukul 21:31 WITA

    Ilustrasi. (Freepik)

    Bontang - Usia harapan hidup perempuan Indonesia saat ini mencapai 76 tahun. Namun di balik angka tersebut, terdapat fakta yang perlu menjadi perhatian. Rata-rata perempuan Indonesia hanya menikmati sekitar 66 tahun dalam kondisi sehat, sementara hampir 10 tahun sisanya dijalani dengan berbagai gangguan kesehatan akibat penyakit tidak menular.

    Pesan tersebut disampaikan Kemendudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melalui unggahan edukasi kesehatan di akun Instagram resmi @kemendukbangga_bkkbn pada 10 Juni 2026.

    Dalam infografis yang dibagikan, disebutkan bahwa penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal menjadi penyebab utama berkurangnya masa hidup sehat perempuan Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa usia panjang belum tentu diiringi kualitas kesehatan yang baik.

    “Panjang umur saja tidak cukup. Hidup sehat hingga usia lanjut jauh lebih penting,” tulis Kemendukbangga/BKKBN dalam materi edukasinya.

    Data tersebut sejalan dengan keterangan Kementerian Kesehatan mengenai adanya kesenjangan antara usia harapan hidup dan usia harapan hidup sehat atau Healthy Adjusted Life Expectancy (HALE). Meski rata-rata perempuan Indonesia hidup hingga usia 76 tahun, hanya sekitar 66 tahun yang dapat dinikmati dalam kondisi sehat.

    Sebagai langkah pencegahan, Kemendukbangga/BKKBN mengajak masyarakat, khususnya perempuan, untuk rutin memantau tiga indikator kesehatan utama, yakni tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

    Menurut BKKBN, banyak penyakit tidak menular berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan rutin terhadap ketiga indikator tersebut dapat membantu mendeteksi risiko penyakit lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

    Menteri Kesehatan juga menekankan pentingnya menjaga tekanan darah tetap normal, mengontrol kadar gula darah, serta menjaga kolesterol dalam batas aman guna mengurangi risiko penyakit kronis pada usia lanjut.

    Selain itu, masyarakat didorong memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dapat diakses satu kali setiap tahun. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini, mendeteksi penyakit tidak menular, serta memperoleh penanganan lebih cepat apabila ditemukan faktor risiko.

    Kemendukbangga/BKKBN bahkan mengajak masyarakat menjadikan hari ulang tahun sebagai pengingat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan.

    Pesan kesehatan ini menjadi semakin relevan karena Indonesia tengah memasuki era ageing population atau meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk lansia telah mencapai 11,97 persen dari total populasi nasional.

    Dengan kondisi tersebut, tantangan Indonesia ke depan tidak hanya meningkatkan angka harapan hidup, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menjalani usia panjang dengan kualitas kesehatan yang baik, mandiri, dan tetap produktif.

    (Sf/Rs)