Lifestyle

    Pengrajin Lokal Mulai Ciptakan Motif Batik Khas IKN, Jadi Upaya Bangun Identitas Nusantara dari Akar Budaya

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    21 Juni 2026 pukul 17:55 WITA

    Puluhan pengrajin batik dan wastra dari kawasan sekitar IKN diajak menciptakan motif yang terinspirasi dari perkembangan Nusantara. (Foto: Otorita/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya berfokus pada gedung, jalan, dan teknologi. Di balik pembangunan fisik tersebut, pemerintah juga mendorong lahirnya identitas budaya yang dapat menjadi ciri khas kota masa depan Indonesia.

    Salah satu upaya itu dilakukan melalui Workshop Pengembangan Motif Batik bagi Pengrajin Wastra yang digelar Otorita IKN bekerja sama dengan Bank Indonesia pada 17–19 Juni 2026 di Kantor Kemenko 1 IKN.

    Melalui kegiatan ini, puluhan pengrajin batik dan wastra dari kawasan sekitar IKN diajak menciptakan motif yang terinspirasi dari perkembangan Nusantara. Motif-motif tersebut diharapkan dapat menjadi simbol budaya, sekaligus memperkuat identitas IKN di masa depan.

    Sebanyak 50 peserta dari sembilan kelompok batik dan wastra mengikuti pelatihan. Dari jumlah itu, 30 pengrajin mendapatkan pendampingan khusus dalam
    mengembangkan desain motif yang memiliki karakter dan nilai cerita.

    Selama tiga hari, peserta dibimbing mulai dari mencari ide, menyusun konsep visual, hingga merancang komposisi motif batik yang mencerminkan kekayaan alam, budaya, dan semangat pembangunan IKN.

    “Pengembangan wastra lokal menjadi bagian penting dalam membangun identitas Nusantara,” ucap Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi dalam keterangan resminya, Minggu (21/6/2026).

    Menurutnya, produk wastra yang berkembang di sekitar IKN memiliki potensi besar untuk menjadi kebanggaan daerah, sekaligus mampu bersaing dengan batik dari berbagai wilayah yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.

    “Wastra di sekitar IKN sudah tumbuh dan berkembang. Namun masih perlu penguatan agar memiliki daya saing yang lebih baik dan mampu menjadi representasi identitas Nusantara,” jelasnya.

    Sementara itu, Kepala SKB Bank Indonesia IKN, Aura Pandu Wirawan, menilai kehadiran IKN membutuhkan simbol-simbol budaya yang lahir dari kreativitas masyarakat setempat.

    Ia berharap motif yang dihasilkan tidak hanya mengangkat unsur budaya lokal, tetapi juga mencerminkan karakter IKN sebagai kota modern yang mengusung transformasi dan digitalisasi.

    “Identitas IKN perlu ditonjolkan melalui berbagai karya masyarakat. Desain yang lahir diharapkan memiliki sentuhan modern, sederhana, elegan, dan tetap memiliki karakter yang kuat,” katanya.

    Bagi para peserta, pelatihan ini membuka perspektif baru dalam menciptakan karya batik. Salah satu peserta dari Samboja, Rusmayawati, mengaku mendapatkan banyak inspirasi untuk mengembangkan motif yang lebih inovatif.

    Menurutnya, pelatihan tersebut membantu para pengrajin menerjemahkan gambaran tentang IKN ke dalam bentuk visual yang dapat diwujudkan menjadi motif batik bernilai ekonomi.

    Melalui pengembangan motif batik khas IKN, pemerintah berharap identitas Nusantara tidak hanya terlihat dari pembangunan kotanya, tetapi juga hadir dalam karya-karya budaya yang tumbuh dari masyarakat lokal.

    “Dengan demikian, IKN dapat berkembang sebagai kota modern yang tetap berakar pada kekayaan budaya Indonesia,”
    tuturnya.

    (Sf/Rs)

    Lifestyle

    Pengrajin Lokal Mulai Ciptakan Motif Batik Khas IKN, Jadi Upaya Bangun Identitas Nusantara dari Akar Budaya

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    21 Juni 2026 pukul 17:55 WITA

    Puluhan pengrajin batik dan wastra dari kawasan sekitar IKN diajak menciptakan motif yang terinspirasi dari perkembangan Nusantara. (Foto: Otorita/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya berfokus pada gedung, jalan, dan teknologi. Di balik pembangunan fisik tersebut, pemerintah juga mendorong lahirnya identitas budaya yang dapat menjadi ciri khas kota masa depan Indonesia.

    Salah satu upaya itu dilakukan melalui Workshop Pengembangan Motif Batik bagi Pengrajin Wastra yang digelar Otorita IKN bekerja sama dengan Bank Indonesia pada 17–19 Juni 2026 di Kantor Kemenko 1 IKN.

    Melalui kegiatan ini, puluhan pengrajin batik dan wastra dari kawasan sekitar IKN diajak menciptakan motif yang terinspirasi dari perkembangan Nusantara. Motif-motif tersebut diharapkan dapat menjadi simbol budaya, sekaligus memperkuat identitas IKN di masa depan.

    Sebanyak 50 peserta dari sembilan kelompok batik dan wastra mengikuti pelatihan. Dari jumlah itu, 30 pengrajin mendapatkan pendampingan khusus dalam
    mengembangkan desain motif yang memiliki karakter dan nilai cerita.

    Selama tiga hari, peserta dibimbing mulai dari mencari ide, menyusun konsep visual, hingga merancang komposisi motif batik yang mencerminkan kekayaan alam, budaya, dan semangat pembangunan IKN.

    “Pengembangan wastra lokal menjadi bagian penting dalam membangun identitas Nusantara,” ucap Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN, Muhsin Palinrungi dalam keterangan resminya, Minggu (21/6/2026).

    Menurutnya, produk wastra yang berkembang di sekitar IKN memiliki potensi besar untuk menjadi kebanggaan daerah, sekaligus mampu bersaing dengan batik dari berbagai wilayah yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.

    “Wastra di sekitar IKN sudah tumbuh dan berkembang. Namun masih perlu penguatan agar memiliki daya saing yang lebih baik dan mampu menjadi representasi identitas Nusantara,” jelasnya.

    Sementara itu, Kepala SKB Bank Indonesia IKN, Aura Pandu Wirawan, menilai kehadiran IKN membutuhkan simbol-simbol budaya yang lahir dari kreativitas masyarakat setempat.

    Ia berharap motif yang dihasilkan tidak hanya mengangkat unsur budaya lokal, tetapi juga mencerminkan karakter IKN sebagai kota modern yang mengusung transformasi dan digitalisasi.

    “Identitas IKN perlu ditonjolkan melalui berbagai karya masyarakat. Desain yang lahir diharapkan memiliki sentuhan modern, sederhana, elegan, dan tetap memiliki karakter yang kuat,” katanya.

    Bagi para peserta, pelatihan ini membuka perspektif baru dalam menciptakan karya batik. Salah satu peserta dari Samboja, Rusmayawati, mengaku mendapatkan banyak inspirasi untuk mengembangkan motif yang lebih inovatif.

    Menurutnya, pelatihan tersebut membantu para pengrajin menerjemahkan gambaran tentang IKN ke dalam bentuk visual yang dapat diwujudkan menjadi motif batik bernilai ekonomi.

    Melalui pengembangan motif batik khas IKN, pemerintah berharap identitas Nusantara tidak hanya terlihat dari pembangunan kotanya, tetapi juga hadir dalam karya-karya budaya yang tumbuh dari masyarakat lokal.

    “Dengan demikian, IKN dapat berkembang sebagai kota modern yang tetap berakar pada kekayaan budaya Indonesia,”
    tuturnya.

    (Sf/Rs)