Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Kebiasaan duduk terlalu lama ternyata bukan sekadar persoalan malas bergerak. Di balik aktivitas yang terlihat santai, gaya hidup minim gerak atau sedentary lifestyle diam-diam dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Peringatan itu disampaikan Kementerian Kesehatan RI melalui unggahan edukasi terbarunya di media sosial. Kemenkes menyebut sedentary lifestyle sebagai kebiasaan duduk dan berbaring terlalu lama di luar waktu tidur yang kini makin sering terjadi di tengah masyarakat modern.
Aktivitas bekerja di depan laptop seharian, terlalu lama bermain ponsel, hingga rebahan berjam-jam disebut menjadi pola yang tanpa sadar membuat tubuh kekurangan gerak.
“Kelihatannya santai, tapi efeknya bisa serius,” tulis Kemenkes dalam unggahan tersebut.
Kemenkes menjelaskan, sedentary lifestyle dapat menyebabkan metabolisme tubuh melambat sehingga pembakaran kalori menjadi tidak maksimal. Kondisi itu membuat berat badan lebih mudah naik secara perlahan.
Tak hanya itu, terlalu lama minim aktivitas juga berdampak pada kesehatan jantung. Risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung disebut meningkat akibat tubuh yang jarang bergerak.
Dampak lainnya juga dirasakan pada otot dan tulang. Postur tubuh memburuk, punggung mudah nyeri, hingga otot melemah menjadi masalah yang kerap muncul akibat kebiasaan duduk terlalu lama.
Tidak berhenti di situ, kesehatan mental juga ikut terpengaruh. Produksi hormon endorfin yang menurun membuat suasana hati lebih mudah memburuk, tubuh terasa cepat lelah, dan stres meningkat. Bahkan kualitas tidur pun dapat terganggu karena tubuh kurang aktif secara alami.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan perubahan kecil sudah cukup membantu mencegah dampak sedentary lifestyle. Masyarakat dianjurkan melakukan peregangan setiap 60 menit, memilih tangga dibanding lift, membatasi screen time di luar jam kerja, hingga rutin berjalan kaki minimal 20 menit sehari.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari olahraga berat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten justru menjadi langkah awal membangun tubuh dan pikiran yang lebih sehat.
“Sedikit gerakan, dampaknya besar,” tulis Kemenkes.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Kebiasaan duduk terlalu lama ternyata bukan sekadar persoalan malas bergerak. Di balik aktivitas yang terlihat santai, gaya hidup minim gerak atau sedentary lifestyle diam-diam dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius.
Peringatan itu disampaikan Kementerian Kesehatan RI melalui unggahan edukasi terbarunya di media sosial. Kemenkes menyebut sedentary lifestyle sebagai kebiasaan duduk dan berbaring terlalu lama di luar waktu tidur yang kini makin sering terjadi di tengah masyarakat modern.
Aktivitas bekerja di depan laptop seharian, terlalu lama bermain ponsel, hingga rebahan berjam-jam disebut menjadi pola yang tanpa sadar membuat tubuh kekurangan gerak.
“Kelihatannya santai, tapi efeknya bisa serius,” tulis Kemenkes dalam unggahan tersebut.
Kemenkes menjelaskan, sedentary lifestyle dapat menyebabkan metabolisme tubuh melambat sehingga pembakaran kalori menjadi tidak maksimal. Kondisi itu membuat berat badan lebih mudah naik secara perlahan.
Tak hanya itu, terlalu lama minim aktivitas juga berdampak pada kesehatan jantung. Risiko tekanan darah tinggi dan penyakit jantung disebut meningkat akibat tubuh yang jarang bergerak.
Dampak lainnya juga dirasakan pada otot dan tulang. Postur tubuh memburuk, punggung mudah nyeri, hingga otot melemah menjadi masalah yang kerap muncul akibat kebiasaan duduk terlalu lama.
Tidak berhenti di situ, kesehatan mental juga ikut terpengaruh. Produksi hormon endorfin yang menurun membuat suasana hati lebih mudah memburuk, tubuh terasa cepat lelah, dan stres meningkat. Bahkan kualitas tidur pun dapat terganggu karena tubuh kurang aktif secara alami.
Meski demikian, Kemenkes menegaskan perubahan kecil sudah cukup membantu mencegah dampak sedentary lifestyle. Masyarakat dianjurkan melakukan peregangan setiap 60 menit, memilih tangga dibanding lift, membatasi screen time di luar jam kerja, hingga rutin berjalan kaki minimal 20 menit sehari.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari olahraga berat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten justru menjadi langkah awal membangun tubuh dan pikiran yang lebih sehat.
“Sedikit gerakan, dampaknya besar,” tulis Kemenkes.
(Sf/Lo)