Cari disini...
Lifestyle
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur Jaya Mualimin sedang melakukan pemeriksaan tekanan darah dalam Program Cek Kesehatan Gratis. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Tidak ada yang membuat seorang warga di Posyandu Lestari itu merasa harus cemas pada hari pemeriksaan kesehatan. Ia datang seperti warga lain, menjalani pemeriksaan yang tampak sederhana, tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga asam urat.
Ia tidak datang membawa keluhan. Tidak merasa pusing berkepanjangan. Tidak merasa tubuhnya sedang memberi tanda bahaya. Hari-harinya tetap berjalan sebagaimana biasa.
Lalu angka-angka itu muncul.
Tekanan darahnya tinggi. Kolesterolnya tinggi. Gula darahnya tinggi. Asam uratnya pun tinggi. Dalam satu kali pemeriksaan, tubuh yang semula terasa baik-baik saja ternyata menyimpan beberapa risiko sekaligus.
Bagi warga itu, pemeriksaan di Posyandu bukan lagi sekadar kegiatan singkat yang dilakukan untuk memenuhi ajakan petugas kesehatan. Hasilnya menjadi awal perubahan, ia mengurus BPJS, mulai berobat, dan kemudian menjalani pengobatan secara rutin.
Kisah itu masih diingat Lesti Aulia Hasmy, Epidemiolog Puskesmas Remaja Samarinda. Baginya, ada cukup banyak warga yang baru mengetahui kondisi tubuhnya setelah pemeriksaan dilakukan padahal sebelumnya mereka merasa benar-benar sehat.
“Selama saya bertugas di Puskesmas, saya sudah menemui sekitar tiga hingga lima kasus pasien yang merasa dirinya normal, tetapi saat dicek ternyata hasil pemeriksaannya berada di atas ambang batas,” ujar Lesti.
Penyakit yang Tidak Selalu Terasa
Ada penyakit yang datang dengan rasa sakit. Namun ada pula risiko kesehatan yang tumbuh diam-diam, tanpa keluhan yang cukup kuat untuk membuat seseorang berhenti bekerja, meninggalkan aktivitas, atau pergi ke Puskesmas.
Dalam pengalaman Lesti, fenomena ini lebih sering ditemui pada ibu-ibu berusia 40 tahun hingga menjelang lansia. Mereka tetap mengurus rumah, bekerja, menjaga keluarga, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Karena tubuh masih terasa mampu bergerak, banyak yang merasa tidak memiliki alasan untuk memeriksakan kesehatan.
Padahal, tubuh tidak selalu memberikan reaksi dengan rasa sakit.
“Rata-rata masyarakat kita baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika mereka sakit, bukan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Karena mereka merasa sehat, mereka menganggap tidak ada alasan untuk pergi ke Puskesmas,” kata Lesti.
Kebiasaan itu membuat pemeriksaan rutin sering berada di urutan belakang. Bukan karena warga tidak peduli pada dirinya, melainkan karena kesehatan kerap baru terasa penting ketika keluhan telah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Selain itu, masih ada warga yang belum mengetahui bahwa Puskesmas juga membuka layanan pemeriksaan bagi mereka yang tidak sedang sakit. Padahal, pemeriksaan rutin dapat menjadi kesempatan untuk melihat risiko sebelum berubah menjadi masalah yang lebih berat.
Pola makan, kurang bergerak, kebiasaan istirahat, serta berbagai rutinitas sehari-hari dapat berkaitan dengan hasil tekanan darah, kadar gula, kolesterol, dan asam urat yang melampaui batas normal. CKG dirancang untuk menemukan faktor risiko dan kondisi penyakit sedini mungkin, sehingga warga dapat memperoleh penanganan atau pencegahan lebih awal.
Ketika Angka Mengubah Kebiasaan
Reaksi warga ketika hasil pemeriksaan dibacakan hampir selalu serupa pada awalnya, semua terkejut.
Mereka merasa sehat. Mereka masih dapat beraktivitas. Mereka tidak merasa ada bagian dari tubuh yang sedang meminta pertolongan. Karena itu, ketika hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah atau kadar gula tinggi, angka tersebut terasa seperti kabar yang datang tiba-tiba.
“Reaksi pertama pasti terkejut karena mereka merasa tubuhnya sehat dan beraktivitas normal,” tutur Lesti.
Setelah terkejut, banyak warga justru merasa bersyukur. Mereka melihat pemeriksaan itu sebagai kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh lebih awal, sebelum risiko berubah menjadi penyakit yang lebih sulit dikendalikan.
Namun, menerima hasil skrining tidak selalu mudah. Ada juga warga yang kesal ketika menyadari konsekuensi setelahnya, minum obat secara teratur, mengubah pola makan, kembali kontrol, atau membangun kebiasaan baru yang tidak ringan untuk dijalani.
Di titik itu, angka hasil pemeriksaan membutuhkan penjelasan yang manusiawi. Petugas kesehatan tidak cukup hanya memberi tahu bahwa tekanan darah atau gula darah seseorang tinggi.
Mereka perlu membantu warga memahami arti hasil itu, alasan pengobatan perlu dijalani, dan bahwa perubahan kecil yang dilakukan hari ini dapat menjaga kualitas hidup di masa depan.
Lesti mengatakan, setelah memahami kondisinya, banyak peserta skrining mulai patuh menjalani pengobatan. Terutama warga dengan hipertensi yang memerlukan pengobatan secara berkelanjutan.
“Banyak warga yang awalnya hanya peserta skrining di Posyandu, kini menjadi pasien yang rutin datang ke Puskesmas setiap bulan untuk mengambil obat,” ujarnya.
Angka Besar, Cerita yang Berbeda
Di tingkat provinsi, Cek Kesehatan Gratis menunjukkan partisipasi yang besar. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menyebut pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap dirinya sendiri.
“Melalui CKG dengan partisipasi aktif, potret epidemiologi penyakit dapat memberi gambaran riil faktor risiko penyakit-penyakit di masyarakat,” kata Jaya.
Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 546.959 orang tercatat hadir dari 619.370 pendaftar CKG di Kalimantan Timur. Tingkat kehadirannya mencapai 88,31 persen.
Di balik angka itu ada anak-anak yang diperiksa di sekolah, orang dewasa yang menyisihkan waktu untuk datang ke fasilitas kesehatan, serta para lansia yang mungkin baru pertama kali mengetahui bahwa tekanan darahnya tidak lagi berada dalam batas aman.
Kelompok usia 40–59 tahun menjadi peserta terbanyak dengan 118.956 orang. Pada kelompok ini, pemeriksaan menjadi penting karena risiko penyakit tidak menular mulai lebih banyak ditemukan seiring pertambahan usia.
Data pemeriksaan tekanan darah pada peserta usia 18 tahun ke atas menunjukkan bahwa skrining bukan kegiatan tanpa alasan. Dari 287.392 peserta yang telah diperiksa, hanya 152.695 orang atau 53,13 persen memiliki tekanan darah normal.
Selebihnya, terdapat 46.015 orang pada kategori prehipertensi, 36.286 orang dengan tekanan darah meningkat, serta 52.396 orang yang masuk kategori hipertensi derajat 1 hingga 3. Sebanyak 15.218 orang lainnya mengalami hipertensi sistolik terisolasi.
Setiap angka itu mewakili seseorang dengan cerita yang berbeda. Bisa jadi seorang ibu yang tetap menyiapkan sarapan untuk keluarga. Seorang ayah yang merasa dirinya masih kuat bekerja. Seorang lansia yang datang hanya karena diajak kader Posyandu. Atau seorang dewasa muda yang mengira pemeriksaan hanyalah formalitas.
Mereka mungkin tidak semuanya pulang dengan hasil yang ideal. Tetapi setidaknya, mereka pulang dengan pengetahuan tentang tubuhnya sendiri.
Merawat Diri Sebelum Terlambat
CKG berjalan melalui layanan di Puskesmas, kegiatan jemput bola di Posyandu, dan pemeriksaan di sekolah. Di balik pelaksanaannya, tenaga kesehatan bekerja memastikan warga diperiksa, data tercatat, hasil dijelaskan, serta tindak lanjut diberikan.
Beban itu tidak kecil, terlebih ketika target layanan tinggi dan jumlah tenaga kesehatan terbatas. Namun, bagi petugas di garis depan, satu warga yang akhirnya mau berobat rutin dapat menjadi makna dari seluruh proses tersebut.
Program kesehatan tidak berhenti saat alat tensi dilepas dari lengan atau ketika hasil laboratorium tercetak. Pemeriksaan baru benar-benar berarti ketika warga pulang dengan pemahaman, kembali untuk kontrol, menjaga pola hidup, atau mengambil obat setiap bulan.
Warga dari Posyandu Lestari itu datang tanpa keluhan. Ia mungkin tidak menyangka bahwa beberapa angka sederhana akan mengubah cara ia memandang kesehatan.
Kini, ia tidak lagi menunggu tubuhnya sakit untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Karena bagi dirinya, merasa sehat tidak selalu berarti tubuh sedang baik-baik saja.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur Jaya Mualimin sedang melakukan pemeriksaan tekanan darah dalam Program Cek Kesehatan Gratis. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Tidak ada yang membuat seorang warga di Posyandu Lestari itu merasa harus cemas pada hari pemeriksaan kesehatan. Ia datang seperti warga lain, menjalani pemeriksaan yang tampak sederhana, tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga asam urat.
Ia tidak datang membawa keluhan. Tidak merasa pusing berkepanjangan. Tidak merasa tubuhnya sedang memberi tanda bahaya. Hari-harinya tetap berjalan sebagaimana biasa.
Lalu angka-angka itu muncul.
Tekanan darahnya tinggi. Kolesterolnya tinggi. Gula darahnya tinggi. Asam uratnya pun tinggi. Dalam satu kali pemeriksaan, tubuh yang semula terasa baik-baik saja ternyata menyimpan beberapa risiko sekaligus.
Bagi warga itu, pemeriksaan di Posyandu bukan lagi sekadar kegiatan singkat yang dilakukan untuk memenuhi ajakan petugas kesehatan. Hasilnya menjadi awal perubahan, ia mengurus BPJS, mulai berobat, dan kemudian menjalani pengobatan secara rutin.
Kisah itu masih diingat Lesti Aulia Hasmy, Epidemiolog Puskesmas Remaja Samarinda. Baginya, ada cukup banyak warga yang baru mengetahui kondisi tubuhnya setelah pemeriksaan dilakukan padahal sebelumnya mereka merasa benar-benar sehat.
“Selama saya bertugas di Puskesmas, saya sudah menemui sekitar tiga hingga lima kasus pasien yang merasa dirinya normal, tetapi saat dicek ternyata hasil pemeriksaannya berada di atas ambang batas,” ujar Lesti.
Penyakit yang Tidak Selalu Terasa
Ada penyakit yang datang dengan rasa sakit. Namun ada pula risiko kesehatan yang tumbuh diam-diam, tanpa keluhan yang cukup kuat untuk membuat seseorang berhenti bekerja, meninggalkan aktivitas, atau pergi ke Puskesmas.
Dalam pengalaman Lesti, fenomena ini lebih sering ditemui pada ibu-ibu berusia 40 tahun hingga menjelang lansia. Mereka tetap mengurus rumah, bekerja, menjaga keluarga, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Karena tubuh masih terasa mampu bergerak, banyak yang merasa tidak memiliki alasan untuk memeriksakan kesehatan.
Padahal, tubuh tidak selalu memberikan reaksi dengan rasa sakit.
“Rata-rata masyarakat kita baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika mereka sakit, bukan untuk melakukan pemeriksaan rutin. Karena mereka merasa sehat, mereka menganggap tidak ada alasan untuk pergi ke Puskesmas,” kata Lesti.
Kebiasaan itu membuat pemeriksaan rutin sering berada di urutan belakang. Bukan karena warga tidak peduli pada dirinya, melainkan karena kesehatan kerap baru terasa penting ketika keluhan telah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Selain itu, masih ada warga yang belum mengetahui bahwa Puskesmas juga membuka layanan pemeriksaan bagi mereka yang tidak sedang sakit. Padahal, pemeriksaan rutin dapat menjadi kesempatan untuk melihat risiko sebelum berubah menjadi masalah yang lebih berat.
Pola makan, kurang bergerak, kebiasaan istirahat, serta berbagai rutinitas sehari-hari dapat berkaitan dengan hasil tekanan darah, kadar gula, kolesterol, dan asam urat yang melampaui batas normal. CKG dirancang untuk menemukan faktor risiko dan kondisi penyakit sedini mungkin, sehingga warga dapat memperoleh penanganan atau pencegahan lebih awal.
Ketika Angka Mengubah Kebiasaan
Reaksi warga ketika hasil pemeriksaan dibacakan hampir selalu serupa pada awalnya, semua terkejut.
Mereka merasa sehat. Mereka masih dapat beraktivitas. Mereka tidak merasa ada bagian dari tubuh yang sedang meminta pertolongan. Karena itu, ketika hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah atau kadar gula tinggi, angka tersebut terasa seperti kabar yang datang tiba-tiba.
“Reaksi pertama pasti terkejut karena mereka merasa tubuhnya sehat dan beraktivitas normal,” tutur Lesti.
Setelah terkejut, banyak warga justru merasa bersyukur. Mereka melihat pemeriksaan itu sebagai kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh lebih awal, sebelum risiko berubah menjadi penyakit yang lebih sulit dikendalikan.
Namun, menerima hasil skrining tidak selalu mudah. Ada juga warga yang kesal ketika menyadari konsekuensi setelahnya, minum obat secara teratur, mengubah pola makan, kembali kontrol, atau membangun kebiasaan baru yang tidak ringan untuk dijalani.
Di titik itu, angka hasil pemeriksaan membutuhkan penjelasan yang manusiawi. Petugas kesehatan tidak cukup hanya memberi tahu bahwa tekanan darah atau gula darah seseorang tinggi.
Mereka perlu membantu warga memahami arti hasil itu, alasan pengobatan perlu dijalani, dan bahwa perubahan kecil yang dilakukan hari ini dapat menjaga kualitas hidup di masa depan.
Lesti mengatakan, setelah memahami kondisinya, banyak peserta skrining mulai patuh menjalani pengobatan. Terutama warga dengan hipertensi yang memerlukan pengobatan secara berkelanjutan.
“Banyak warga yang awalnya hanya peserta skrining di Posyandu, kini menjadi pasien yang rutin datang ke Puskesmas setiap bulan untuk mengambil obat,” ujarnya.
Angka Besar, Cerita yang Berbeda
Di tingkat provinsi, Cek Kesehatan Gratis menunjukkan partisipasi yang besar. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menyebut pemeriksaan kesehatan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap dirinya sendiri.
“Melalui CKG dengan partisipasi aktif, potret epidemiologi penyakit dapat memberi gambaran riil faktor risiko penyakit-penyakit di masyarakat,” kata Jaya.
Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 546.959 orang tercatat hadir dari 619.370 pendaftar CKG di Kalimantan Timur. Tingkat kehadirannya mencapai 88,31 persen.
Di balik angka itu ada anak-anak yang diperiksa di sekolah, orang dewasa yang menyisihkan waktu untuk datang ke fasilitas kesehatan, serta para lansia yang mungkin baru pertama kali mengetahui bahwa tekanan darahnya tidak lagi berada dalam batas aman.
Kelompok usia 40–59 tahun menjadi peserta terbanyak dengan 118.956 orang. Pada kelompok ini, pemeriksaan menjadi penting karena risiko penyakit tidak menular mulai lebih banyak ditemukan seiring pertambahan usia.
Data pemeriksaan tekanan darah pada peserta usia 18 tahun ke atas menunjukkan bahwa skrining bukan kegiatan tanpa alasan. Dari 287.392 peserta yang telah diperiksa, hanya 152.695 orang atau 53,13 persen memiliki tekanan darah normal.
Selebihnya, terdapat 46.015 orang pada kategori prehipertensi, 36.286 orang dengan tekanan darah meningkat, serta 52.396 orang yang masuk kategori hipertensi derajat 1 hingga 3. Sebanyak 15.218 orang lainnya mengalami hipertensi sistolik terisolasi.
Setiap angka itu mewakili seseorang dengan cerita yang berbeda. Bisa jadi seorang ibu yang tetap menyiapkan sarapan untuk keluarga. Seorang ayah yang merasa dirinya masih kuat bekerja. Seorang lansia yang datang hanya karena diajak kader Posyandu. Atau seorang dewasa muda yang mengira pemeriksaan hanyalah formalitas.
Mereka mungkin tidak semuanya pulang dengan hasil yang ideal. Tetapi setidaknya, mereka pulang dengan pengetahuan tentang tubuhnya sendiri.
Merawat Diri Sebelum Terlambat
CKG berjalan melalui layanan di Puskesmas, kegiatan jemput bola di Posyandu, dan pemeriksaan di sekolah. Di balik pelaksanaannya, tenaga kesehatan bekerja memastikan warga diperiksa, data tercatat, hasil dijelaskan, serta tindak lanjut diberikan.
Beban itu tidak kecil, terlebih ketika target layanan tinggi dan jumlah tenaga kesehatan terbatas. Namun, bagi petugas di garis depan, satu warga yang akhirnya mau berobat rutin dapat menjadi makna dari seluruh proses tersebut.
Program kesehatan tidak berhenti saat alat tensi dilepas dari lengan atau ketika hasil laboratorium tercetak. Pemeriksaan baru benar-benar berarti ketika warga pulang dengan pemahaman, kembali untuk kontrol, menjaga pola hidup, atau mengambil obat setiap bulan.
Warga dari Posyandu Lestari itu datang tanpa keluhan. Ia mungkin tidak menyangka bahwa beberapa angka sederhana akan mengubah cara ia memandang kesehatan.
Kini, ia tidak lagi menunggu tubuhnya sakit untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Karena bagi dirinya, merasa sehat tidak selalu berarti tubuh sedang baik-baik saja.
(Sf/Lo)