Lifestyle

    Mengenal Timbal, Logam Berat Berbahaya yang Bisa Mengganggu Kesehatan

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    06 September 2026 pukul 14:54 WITA

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Bontang - Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang perlu diwaspadai karena paparannya dapat berdampak terhadap kesehatan manusia. Paparan timbal dapat terjadi melalui berbagai sumber di lingkungan, mulai dari cat bertimbal, limbah B3, emisi, kegiatan industri dan manufaktur, baterai bekas, hingga produk tertentu.

    Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melalui akun Instagram resminya, @kemenko_pmk, mengingatkan masyarakat mengenai bahaya paparan timbal melalui kampanye Indonesia Bebas Timbal.

    Dalam unggahannya, Kemenko PMK menjelaskan bahwa timbal merupakan salah satu bahan pencemar yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia. Paparan timbal bahkan dapat memberikan dampak sepanjang siklus kehidupan, sehingga pencegahan dan pengendaliannya menjadi perhatian penting.

    *Apa itu timbal?*

    Timbal merupakan logam berat yang bersifat toksik atau beracun bagi tubuh. Paparan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi, mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar, maupun melalui kontak dengan sumber yang mengandung timbal.

    Menurut informasi kesehatan yang dipublikasikan Halodoc, paparan timbal dapat menyebabkan terbentuknya radikal reaktif yang merusak struktur sel, termasuk DNA dan membran sel. Timbal juga dapat mengganggu sejumlah enzim dalam tubuh, termasuk enzim yang berperan dalam sintesis vitamin D dan menjaga keutuhan membran sel.

    Gangguan terhadap membran sel darah merah dapat membuat sel menjadi lebih rapuh dan pada akhirnya berkontribusi terhadap anemia.

    *Dampaknya terhadap otak dan sistem saraf*

    Bahaya timbal juga perlu mendapat perhatian karena logam berat tersebut dapat memengaruhi otak dan sistem saraf.

    Halodoc menjelaskan, paparan timbal dapat menyebabkan kerusakan pada selubung saraf, mengurangi jumlah saraf, mengganggu transmisi serta pertumbuhan saraf dan memengaruhi pelepasan neurotransmiter. Salah satu neurotransmiter yang dapat terganggu adalah glutamat, yang memiliki peran penting dalam berbagai fungsi otak, termasuk proses belajar.

    Kondisi tersebut membuat bayi dan anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap dampak paparan timbal. Paparan dapat berkaitan dengan gangguan perilaku, kesulitan belajar, serta penurunan kemampuan kognitif dan IQ.

    Kemenko PMK juga menyebutkan bahwa pada anak, paparan timbal dapat mengganggu perkembangan dan kemampuan belajar. Sementara pada orang dewasa, paparan dapat berdampak terhadap kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup.

    *Kenali gejala paparan timbal* 

    Gejala keracunan timbal dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis dan kadar paparan serta kondisi individu.

    Sejumlah gejala yang dapat muncul antara lain gangguan perilaku, sulit berkonsentrasi, gangguan gerak, sakit kepala, anemia dan nyeri kolik pada perut.

    Pada paparan jangka panjang, seseorang juga dapat mengalami kehilangan memori jangka pendek, depresi, mual, sakit perut, gangguan koordinasi, mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki, kelelahan, gangguan tidur, sakit kepala, pingsan, hingga bicara cadel.

    Sementara itu, paparan dalam kadar tinggi dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius, seperti ensefalopati, peningkatan tekanan di dalam tengkorak, delirium, koma dan kejang.

    Pada anak-anak, keracunan timbal kronis dapat ditandai dengan perubahan perilaku, termasuk perilaku agresif dan berkurangnya keinginan untuk bermain.

    Paparan timbal juga perlu menjadi perhatian pada kehamilan. Halodoc menyebut perempuan hamil dengan kadar timbal darah tinggi memiliki risiko melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah (BBLR).

    *Sumber paparan ada di sekitar masyarakat*

    Kemenko PMK mencatat sumber paparan timbal dapat berasal dari cat bertimbal, limbah B3, emisi, industri dan manufaktur, baterai bekas, serta produk tertentu.

    Karena sumbernya beragam, pengendalian paparan timbal tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, mitra pembangunan, masyarakat dan masyarakat sipil perlu terlibat dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman.

    Melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal 2026–2030, pemerintah mendorong upaya yang dilakukan secara bertahap, terarah, terukur dan berkelanjutan, mulai dari mencegah, mengurangi, mengendalikan hingga menghapus sumber paparan timbal.

    *Masyarakat diminta tidak mengabaikan paparan*

    Mengenali sumber dan gejala paparan menjadi salah satu langkah penting dalam melindungi diri dan keluarga. Terlebih, dampak timbal dapat berlangsung sepanjang siklus kehidupan dan anak-anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi.

    Halodoc menyarankan masyarakat yang sering terpapar bahan yang mengandung timbal dan mengalami gejala yang mengarah pada keracunan timbal untuk segera mencari pertolongan medis. Penanganan yang tepat dapat membantu meminimalkan dampak dan mempercepat penanganan. 

    (Sf/Lo)

    Lifestyle

    Mengenal Timbal, Logam Berat Berbahaya yang Bisa Mengganggu Kesehatan

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    06 September 2026 pukul 14:54 WITA

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Bontang - Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang perlu diwaspadai karena paparannya dapat berdampak terhadap kesehatan manusia. Paparan timbal dapat terjadi melalui berbagai sumber di lingkungan, mulai dari cat bertimbal, limbah B3, emisi, kegiatan industri dan manufaktur, baterai bekas, hingga produk tertentu.

    Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melalui akun Instagram resminya, @kemenko_pmk, mengingatkan masyarakat mengenai bahaya paparan timbal melalui kampanye Indonesia Bebas Timbal.

    Dalam unggahannya, Kemenko PMK menjelaskan bahwa timbal merupakan salah satu bahan pencemar yang dapat berdampak terhadap kesehatan manusia. Paparan timbal bahkan dapat memberikan dampak sepanjang siklus kehidupan, sehingga pencegahan dan pengendaliannya menjadi perhatian penting.

    *Apa itu timbal?*

    Timbal merupakan logam berat yang bersifat toksik atau beracun bagi tubuh. Paparan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi, mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar, maupun melalui kontak dengan sumber yang mengandung timbal.

    Menurut informasi kesehatan yang dipublikasikan Halodoc, paparan timbal dapat menyebabkan terbentuknya radikal reaktif yang merusak struktur sel, termasuk DNA dan membran sel. Timbal juga dapat mengganggu sejumlah enzim dalam tubuh, termasuk enzim yang berperan dalam sintesis vitamin D dan menjaga keutuhan membran sel.

    Gangguan terhadap membran sel darah merah dapat membuat sel menjadi lebih rapuh dan pada akhirnya berkontribusi terhadap anemia.

    *Dampaknya terhadap otak dan sistem saraf*

    Bahaya timbal juga perlu mendapat perhatian karena logam berat tersebut dapat memengaruhi otak dan sistem saraf.

    Halodoc menjelaskan, paparan timbal dapat menyebabkan kerusakan pada selubung saraf, mengurangi jumlah saraf, mengganggu transmisi serta pertumbuhan saraf dan memengaruhi pelepasan neurotransmiter. Salah satu neurotransmiter yang dapat terganggu adalah glutamat, yang memiliki peran penting dalam berbagai fungsi otak, termasuk proses belajar.

    Kondisi tersebut membuat bayi dan anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap dampak paparan timbal. Paparan dapat berkaitan dengan gangguan perilaku, kesulitan belajar, serta penurunan kemampuan kognitif dan IQ.

    Kemenko PMK juga menyebutkan bahwa pada anak, paparan timbal dapat mengganggu perkembangan dan kemampuan belajar. Sementara pada orang dewasa, paparan dapat berdampak terhadap kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup.

    *Kenali gejala paparan timbal* 

    Gejala keracunan timbal dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis dan kadar paparan serta kondisi individu.

    Sejumlah gejala yang dapat muncul antara lain gangguan perilaku, sulit berkonsentrasi, gangguan gerak, sakit kepala, anemia dan nyeri kolik pada perut.

    Pada paparan jangka panjang, seseorang juga dapat mengalami kehilangan memori jangka pendek, depresi, mual, sakit perut, gangguan koordinasi, mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki, kelelahan, gangguan tidur, sakit kepala, pingsan, hingga bicara cadel.

    Sementara itu, paparan dalam kadar tinggi dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius, seperti ensefalopati, peningkatan tekanan di dalam tengkorak, delirium, koma dan kejang.

    Pada anak-anak, keracunan timbal kronis dapat ditandai dengan perubahan perilaku, termasuk perilaku agresif dan berkurangnya keinginan untuk bermain.

    Paparan timbal juga perlu menjadi perhatian pada kehamilan. Halodoc menyebut perempuan hamil dengan kadar timbal darah tinggi memiliki risiko melahirkan bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah (BBLR).

    *Sumber paparan ada di sekitar masyarakat*

    Kemenko PMK mencatat sumber paparan timbal dapat berasal dari cat bertimbal, limbah B3, emisi, industri dan manufaktur, baterai bekas, serta produk tertentu.

    Karena sumbernya beragam, pengendalian paparan timbal tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, mitra pembangunan, masyarakat dan masyarakat sipil perlu terlibat dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman.

    Melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia Bebas Timbal 2026–2030, pemerintah mendorong upaya yang dilakukan secara bertahap, terarah, terukur dan berkelanjutan, mulai dari mencegah, mengurangi, mengendalikan hingga menghapus sumber paparan timbal.

    *Masyarakat diminta tidak mengabaikan paparan*

    Mengenali sumber dan gejala paparan menjadi salah satu langkah penting dalam melindungi diri dan keluarga. Terlebih, dampak timbal dapat berlangsung sepanjang siklus kehidupan dan anak-anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi.

    Halodoc menyarankan masyarakat yang sering terpapar bahan yang mengandung timbal dan mengalami gejala yang mengarah pada keracunan timbal untuk segera mencari pertolongan medis. Penanganan yang tepat dapat membantu meminimalkan dampak dan mempercepat penanganan. 

    (Sf/Lo)