Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Lifestyle
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Penyakit talasemia masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat. Melalui unggahan di akun Instagram resmi Kementerian Kesehatan RI pada Mei 2026, pemerintah mengedukasi masyarakat mengenai bahaya talasemia, jenis-jenisnya, hingga pentingnya skrining sejak dini.
Berdasarkan informasi dari Kemenkes RI, talasemia merupakan kelainan darah bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anak melalui faktor genetik. Pada kondisi ini, tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin secara normal. Padahal, hemoglobin berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Akibat gangguan tersebut, sel darah merah penderita menjadi mudah rusak dan dapat menyebabkan anemia. Pada kondisi tertentu, penderita talasemia bahkan harus menjalani transfusi darah rutin sejak usia dini hingga seumur hidup.
Kemenkes menjelaskan, talasemia terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan klasifikasi klinis. Pertama, talasemia mayor, yaitu kondisi paling berat yang membuat penderita membutuhkan transfusi darah rutin seumur hidup. Kedua, talasemia intermedia, di mana pasien tetap memerlukan transfusi darah namun tidak secara rutin. Ketiga, talasemia minor atau carrier, yakni pembawa sifat yang umumnya tampak sehat tanpa gejala sehingga sering tidak menyadari dirinya membawa gen talasemia.
Dalam unggahan tersebut, Kemenkes menegaskan bahwa talasemia hingga kini belum dapat disembuhkan. Karena itu, langkah pencegahan menjadi sangat penting, salah satunya dengan menghindari pernikahan antar sesama pembawa sifat talasemia.
Kemenkes juga mengingatkan pentingnya skrining talasemia sejak dini. Sebab, banyak pembawa sifat talasemia terlihat sehat dan tidak memiliki keluhan. Skrining dilakukan untuk mengetahui status carrier lebih awal, mencegah risiko talasemia mayor pada anak, serta membantu penanganan lebih cepat.
Saat ini, skrining talasemia dilakukan di sekolah dan puskesmas bagi anak usia dua tahun serta siswa kelas 7. Pemeriksaan awal menggunakan Hb Strip. Jika ditemukan anemia dan hasil mengarah ke talasemia, pasien akan dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan berupa Hb Elektroforesis guna menegakkan diagnosis.
Kemenkes menilai deteksi dini sangat penting karena penderita talasemia harus menjalani pengobatan seumur hidup dan berisiko mengalami perubahan fisik akibat penyakit tersebut. Melalui pencegahan dan skrining dini, kualitas hidup penderita diharapkan dapat lebih terjaga di masa depan.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Lifestyle

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Penyakit talasemia masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat. Melalui unggahan di akun Instagram resmi Kementerian Kesehatan RI pada Mei 2026, pemerintah mengedukasi masyarakat mengenai bahaya talasemia, jenis-jenisnya, hingga pentingnya skrining sejak dini.
Berdasarkan informasi dari Kemenkes RI, talasemia merupakan kelainan darah bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anak melalui faktor genetik. Pada kondisi ini, tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin secara normal. Padahal, hemoglobin berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Akibat gangguan tersebut, sel darah merah penderita menjadi mudah rusak dan dapat menyebabkan anemia. Pada kondisi tertentu, penderita talasemia bahkan harus menjalani transfusi darah rutin sejak usia dini hingga seumur hidup.
Kemenkes menjelaskan, talasemia terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan klasifikasi klinis. Pertama, talasemia mayor, yaitu kondisi paling berat yang membuat penderita membutuhkan transfusi darah rutin seumur hidup. Kedua, talasemia intermedia, di mana pasien tetap memerlukan transfusi darah namun tidak secara rutin. Ketiga, talasemia minor atau carrier, yakni pembawa sifat yang umumnya tampak sehat tanpa gejala sehingga sering tidak menyadari dirinya membawa gen talasemia.
Dalam unggahan tersebut, Kemenkes menegaskan bahwa talasemia hingga kini belum dapat disembuhkan. Karena itu, langkah pencegahan menjadi sangat penting, salah satunya dengan menghindari pernikahan antar sesama pembawa sifat talasemia.
Kemenkes juga mengingatkan pentingnya skrining talasemia sejak dini. Sebab, banyak pembawa sifat talasemia terlihat sehat dan tidak memiliki keluhan. Skrining dilakukan untuk mengetahui status carrier lebih awal, mencegah risiko talasemia mayor pada anak, serta membantu penanganan lebih cepat.
Saat ini, skrining talasemia dilakukan di sekolah dan puskesmas bagi anak usia dua tahun serta siswa kelas 7. Pemeriksaan awal menggunakan Hb Strip. Jika ditemukan anemia dan hasil mengarah ke talasemia, pasien akan dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan berupa Hb Elektroforesis guna menegakkan diagnosis.
Kemenkes menilai deteksi dini sangat penting karena penderita talasemia harus menjalani pengobatan seumur hidup dan berisiko mengalami perubahan fisik akibat penyakit tersebut. Melalui pencegahan dan skrining dini, kualitas hidup penderita diharapkan dapat lebih terjaga di masa depan.
(Sf/Rs)