Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Lifestyle
Ilustrasi pencegahan kanker serviks melalui vaksin HPV dan skrining rutin. (Ilustrasi AI)
Sangatta – Kesadaran masyarakat terhadap pencegahan kanker serviks dinilai masih perlu ditingkatkan. Penyakit yang menyerang leher rahim tersebut hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.
Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe berisiko tinggi.
Kanker serviks menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah penyakit berkembang ke stadium lanjut.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr Sandri, mengatakan kanker serviks sebagian besar dipicu oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). Virus itu dapat menular melalui kontak seksual dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Akibatnya, banyak pasien baru memeriksakan diri saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut dan membutuhkan penanganan lebih kompleks.
“Sebagian besar kasus ditemukan ketika sudah terlambat. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah paling penting,” ujar dr Sandri saat sosialisasi kanker leher rahim di Aula Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim), beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia mencatat sekitar 36 ribu kasus baru kanker serviks setiap tahun dengan angka kematian mencapai sekitar 21 ribu jiwa. Tingginya angka kematian disebut berkaitan dengan rendahnya kesadaran pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.
Menurut dr Sandri, skrining melalui IVA test maupun pap smear perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui adanya perubahan sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker.
Ia menjelaskan, apabila hasil pemeriksaan masih normal, masyarakat disarankan segera melakukan vaksinasi HPV guna menurunkan risiko terpapar virus penyebab kanker serviks.
“Kalau hasil screening masih negatif, segera lakukan vaksin HPV agar perlindungan tubuh terbentuk lebih awal,” katanya.
Vaksin HPV sendiri telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan dinilai aman diberikan kepada anak-anak maupun perempuan usia subur. Bahkan, program vaksinasi kini terus didorong sebagai bagian dari upaya menekan angka kanker serviks di berbagai negara.
WHO juga menargetkan 90 persen anak laki-laki dan perempuan mendapatkan vaksin HPV sebagai upaya menekan kasus kanker serviks secara global.
dr Sandri menegaskan kekhawatiran masyarakat terkait efek samping vaksin HPV tidak perlu berlebihan karena vaksin tersebut telah melalui serangkaian penelitian medis.
“Vaksin HPV aman untuk anak-anak dan sudah menjadi rekomendasi WHO,” tegasnya.
Ia menjelaskan pemberian vaksin dilakukan dalam tiga tahap. Suntikan pertama diberikan pada awal vaksinasi, dilanjutkan dosis kedua empat minggu kemudian, dan dosis ketiga lima bulan setelahnya.
Setelah rangkaian vaksin selesai, booster dapat diberikan kembali dalam rentang lima hingga sepuluh tahun kemudian sesuai anjuran medis.
Selain vaksinasi, ia juga mengingatkan pentingnya pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin sebagai bagian dari perlindungan kesehatan reproduksi perempuan.
Menurutnya, biaya pencegahan jauh lebih ringan dibanding pengobatan ketika kanker sudah berkembang ke stadium lanjut.
“Kalau sudah masuk tahap pengobatan, tentu penanganannya lebih berat dan biayanya juga lebih besar,” pungkasnya.
(Sf/RS)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Lifestyle

Ilustrasi pencegahan kanker serviks melalui vaksin HPV dan skrining rutin. (Ilustrasi AI)
Sangatta – Kesadaran masyarakat terhadap pencegahan kanker serviks dinilai masih perlu ditingkatkan. Penyakit yang menyerang leher rahim tersebut hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.
Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe berisiko tinggi.
Kanker serviks menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan karena sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah penyakit berkembang ke stadium lanjut.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr Sandri, mengatakan kanker serviks sebagian besar dipicu oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). Virus itu dapat menular melalui kontak seksual dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Akibatnya, banyak pasien baru memeriksakan diri saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut dan membutuhkan penanganan lebih kompleks.
“Sebagian besar kasus ditemukan ketika sudah terlambat. Karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah paling penting,” ujar dr Sandri saat sosialisasi kanker leher rahim di Aula Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim), beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia mencatat sekitar 36 ribu kasus baru kanker serviks setiap tahun dengan angka kematian mencapai sekitar 21 ribu jiwa. Tingginya angka kematian disebut berkaitan dengan rendahnya kesadaran pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.
Menurut dr Sandri, skrining melalui IVA test maupun pap smear perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui adanya perubahan sel abnormal sebelum berkembang menjadi kanker.
Ia menjelaskan, apabila hasil pemeriksaan masih normal, masyarakat disarankan segera melakukan vaksinasi HPV guna menurunkan risiko terpapar virus penyebab kanker serviks.
“Kalau hasil screening masih negatif, segera lakukan vaksin HPV agar perlindungan tubuh terbentuk lebih awal,” katanya.
Vaksin HPV sendiri telah direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dan dinilai aman diberikan kepada anak-anak maupun perempuan usia subur. Bahkan, program vaksinasi kini terus didorong sebagai bagian dari upaya menekan angka kanker serviks di berbagai negara.
WHO juga menargetkan 90 persen anak laki-laki dan perempuan mendapatkan vaksin HPV sebagai upaya menekan kasus kanker serviks secara global.
dr Sandri menegaskan kekhawatiran masyarakat terkait efek samping vaksin HPV tidak perlu berlebihan karena vaksin tersebut telah melalui serangkaian penelitian medis.
“Vaksin HPV aman untuk anak-anak dan sudah menjadi rekomendasi WHO,” tegasnya.
Ia menjelaskan pemberian vaksin dilakukan dalam tiga tahap. Suntikan pertama diberikan pada awal vaksinasi, dilanjutkan dosis kedua empat minggu kemudian, dan dosis ketiga lima bulan setelahnya.
Setelah rangkaian vaksin selesai, booster dapat diberikan kembali dalam rentang lima hingga sepuluh tahun kemudian sesuai anjuran medis.
Selain vaksinasi, ia juga mengingatkan pentingnya pola hidup sehat dan pemeriksaan rutin sebagai bagian dari perlindungan kesehatan reproduksi perempuan.
Menurutnya, biaya pencegahan jauh lebih ringan dibanding pengobatan ketika kanker sudah berkembang ke stadium lanjut.
“Kalau sudah masuk tahap pengobatan, tentu penanganannya lebih berat dan biayanya juga lebih besar,” pungkasnya.
(Sf/RS)