Jangan Sampai Tersesat, Ini Rute untuk Sampai di Puncak Sampi Paser

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Lifestyle

    24 Agustus 2025 07:46 WIB

    Puncak Sampi yang ada di Kabupaten Paser menawarkan pemandangan awan yang indah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bagi para pencinta alam dan pendaki, Puncak Sampi di Paser, Kalimantan Timur, menawarkan pengalaman mendaki yang unik dan pemandangan lautan awan yang menakjubkan. 

    Namun, perlu persiapan matang, terutama soal rute dan waktu pendakian agar perjalananmu aman dan nyaman. 

    Berikut adalah panduan lengkap berdasarkan pengalaman Muhammad Khoirul Huda, seorang traveller dari Samarinda.

    Untuk mencapai Puncak Sampi, kamu harus memulai perjalanan dari Samarinda menuju Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 6-7 jam menggunakan mobil. 

    Setibanya di Tanah Grogot, kamu harus melanjutkan perjalanan selama 1 hingga 1,5 jam lagi menuju titik awal pendakian.

    Jalur menuju titik awal ini didominasi oleh jalanan perkebunan sawit yang cukup menantang. 

    Terkadang, jalanan ini rusak dan menanjak, apalagi jika dalam kondisi basah. 

    Huda menyarankan untuk memastikan kendaraan baik mobil maupun motor dalam kondisi prima agar tidak terkendala di tengah jalan. 

    “Di sana jalannya truk sawit dan nanjak. Jadi usahakan kendaraannya kalau ke sana motor atau mobilnya dalam kondisi prima,” kata Huda.

    Kabar baiknya, akses jalan menuju area wisata, baik Puncak Sampi maupun Gunung Embun, kini mulai diperbaiki. Bahkan, beberapa bagian jalan sudah diaspal. 

    Namun, perlu diingat bahwa perbaikan ini hanya berlaku di sekitar area wisata saja, sementara jalan utama menuju ke sana masih berupa jalan sawit. 

    Hal ini berfungsi sebagai penanda bahwa ada tempat wisata di area tersebut.

    Titik awal pendakian Puncak Sampi berada di ketinggian 441 meter di atas permukaan laut (MDPL), dua kali lipat dari Bukit Biru di Tenggarong. 

    Menurut Huda, treknya cukup menantang dan nanjak. Normalnya, pendaki membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncak. 

    Namun, dengan langkah cepat, Huda berhasil menaklukkan puncak hanya dalam 1,5 jam.

    Meski bisa mendaki kapan saja, Huda menyarankan untuk tidak mendaki pada malam hari. 

    Selain karena gelap dan sepi, pendaki juga harus siap dengan berbagai hal tak terduga, seperti pengalaman Huda yang mencium bau melati saat istirahat. 

    “Jangan deh, saran gua karena gelap karena kita benar-benar sepi kalau malam itu,” ungkapnya.

    Waktu terbaik untuk mendaki adalah sore hari menjelang magrib atau pagi hari. Trek yang rindang dan tertutup pepohonan membuat pendakian pada siang hari juga tetap nyaman. 

    Banyak pendaki yang memilih memulai pendakian subuh, sekitar pukul 04.00 atau 05.00 WITA. 

    Mereka biasanya tiba di puncak sekitar pukul 06.00 atau 07.00 WITA, tepat saat matahari terbit atau golden sunrise yang menjadi daya tarik utama Puncak Sampi.

     

    Puncak Sampi terkenal dengan fenomena lautan awan yang sering muncul antara pukul 06.00 hingga 08.00 pagi. 

    Embun yang naik dari dataran rendah di sekitar perbukitan dan pegunungan Meratus berkumpul di bawah puncak, menciptakan pemandangan bak negeri di atas awan. 

    “Embunnya itu sering ada, terbilang awet untuk di daerah situ,” jelas Huda.

    Dari Puncak Sampi, kamu bisa melihat pemandangan Gunung Embun yang letaknya berseberangan. Begitu juga sebaliknya, dari Gunung Embun, Puncak Sampi akan terlihat jelas. 

    Untuk masuk ke area Puncak Sampi, setiap pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp10.000. 

    Saat ini, area parkir yang tersedia baru untuk motor, sedangkan mobil harus diparkir di rumah warga sekitar. 

    Namun, Huda memprediksi bahwa area parkir mobil akan segera tersedia seiring dengan perbaikan jalan yang terus dilakukan.

    Selain itu, Huda mengingatkan para pendaki untuk menyiapkan perbekalan yang memadai, seperti makanan ringan dan minuman yang cukup, serta perlengkapan fisik dan penerangan yang memadai. 

    Trek yang menanjak tentu menguras banyak energi. Kondisi fisik yang prima sangat penting untuk menghindari kelelahan, keseleo, atau kram.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Jangan Sampai Tersesat, Ini Rute untuk Sampai di Puncak Sampi Paser

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Lifestyle

    24 Agustus 2025 07:46 WIB

    Puncak Sampi yang ada di Kabupaten Paser menawarkan pemandangan awan yang indah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Bagi para pencinta alam dan pendaki, Puncak Sampi di Paser, Kalimantan Timur, menawarkan pengalaman mendaki yang unik dan pemandangan lautan awan yang menakjubkan. 

    Namun, perlu persiapan matang, terutama soal rute dan waktu pendakian agar perjalananmu aman dan nyaman. 

    Berikut adalah panduan lengkap berdasarkan pengalaman Muhammad Khoirul Huda, seorang traveller dari Samarinda.

    Untuk mencapai Puncak Sampi, kamu harus memulai perjalanan dari Samarinda menuju Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 6-7 jam menggunakan mobil. 

    Setibanya di Tanah Grogot, kamu harus melanjutkan perjalanan selama 1 hingga 1,5 jam lagi menuju titik awal pendakian.

    Jalur menuju titik awal ini didominasi oleh jalanan perkebunan sawit yang cukup menantang. 

    Terkadang, jalanan ini rusak dan menanjak, apalagi jika dalam kondisi basah. 

    Huda menyarankan untuk memastikan kendaraan baik mobil maupun motor dalam kondisi prima agar tidak terkendala di tengah jalan. 

    “Di sana jalannya truk sawit dan nanjak. Jadi usahakan kendaraannya kalau ke sana motor atau mobilnya dalam kondisi prima,” kata Huda.

    Kabar baiknya, akses jalan menuju area wisata, baik Puncak Sampi maupun Gunung Embun, kini mulai diperbaiki. Bahkan, beberapa bagian jalan sudah diaspal. 

    Namun, perlu diingat bahwa perbaikan ini hanya berlaku di sekitar area wisata saja, sementara jalan utama menuju ke sana masih berupa jalan sawit. 

    Hal ini berfungsi sebagai penanda bahwa ada tempat wisata di area tersebut.

    Titik awal pendakian Puncak Sampi berada di ketinggian 441 meter di atas permukaan laut (MDPL), dua kali lipat dari Bukit Biru di Tenggarong. 

    Menurut Huda, treknya cukup menantang dan nanjak. Normalnya, pendaki membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncak. 

    Namun, dengan langkah cepat, Huda berhasil menaklukkan puncak hanya dalam 1,5 jam.

    Meski bisa mendaki kapan saja, Huda menyarankan untuk tidak mendaki pada malam hari. 

    Selain karena gelap dan sepi, pendaki juga harus siap dengan berbagai hal tak terduga, seperti pengalaman Huda yang mencium bau melati saat istirahat. 

    “Jangan deh, saran gua karena gelap karena kita benar-benar sepi kalau malam itu,” ungkapnya.

    Waktu terbaik untuk mendaki adalah sore hari menjelang magrib atau pagi hari. Trek yang rindang dan tertutup pepohonan membuat pendakian pada siang hari juga tetap nyaman. 

    Banyak pendaki yang memilih memulai pendakian subuh, sekitar pukul 04.00 atau 05.00 WITA. 

    Mereka biasanya tiba di puncak sekitar pukul 06.00 atau 07.00 WITA, tepat saat matahari terbit atau golden sunrise yang menjadi daya tarik utama Puncak Sampi.

     

    Puncak Sampi terkenal dengan fenomena lautan awan yang sering muncul antara pukul 06.00 hingga 08.00 pagi. 

    Embun yang naik dari dataran rendah di sekitar perbukitan dan pegunungan Meratus berkumpul di bawah puncak, menciptakan pemandangan bak negeri di atas awan. 

    “Embunnya itu sering ada, terbilang awet untuk di daerah situ,” jelas Huda.

    Dari Puncak Sampi, kamu bisa melihat pemandangan Gunung Embun yang letaknya berseberangan. Begitu juga sebaliknya, dari Gunung Embun, Puncak Sampi akan terlihat jelas. 

    Untuk masuk ke area Puncak Sampi, setiap pengunjung dikenakan biaya retribusi sebesar Rp10.000. 

    Saat ini, area parkir yang tersedia baru untuk motor, sedangkan mobil harus diparkir di rumah warga sekitar. 

    Namun, Huda memprediksi bahwa area parkir mobil akan segera tersedia seiring dengan perbaikan jalan yang terus dilakukan.

    Selain itu, Huda mengingatkan para pendaki untuk menyiapkan perbekalan yang memadai, seperti makanan ringan dan minuman yang cukup, serta perlengkapan fisik dan penerangan yang memadai. 

    Trek yang menanjak tentu menguras banyak energi. Kondisi fisik yang prima sangat penting untuk menghindari kelelahan, keseleo, atau kram.

    (Sf/Rs)