Lifestyle

    Gejala Baby Blues Bisa Memicu Tindak Kriminal

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Buniyamin
    07 November 2024 pukul 13:48 WITA

    Ilustrasi. (Pinterest)

    Tenggarong - Gejala Baby Blues masih sering terjadi pada ibu-ibu pasca persalinan, bukan hanya pada ibu muda, tetapi juga pada mereka yang belum siap menghadapi kelahiran.

    Meskipun angka pasti terkait Baby Blues di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) belum terdata secara maksimal. 

    Sejauh ini, Baby Blues masih sering terjadi, bahkan ada yang sampai melakukan tindak kriminal seperti pada 2023 lalu, ada ibu yang menenggelamkan bayi ke dalam ember. 

    Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (KKK) Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kukar Sri Lindawati menjelaskan, Baby Blues merupakan bentuk depresi yang disebabkan oleh perubahan hormon.

    Kondisi ini dapat hilang tanpa perawatan khusus dan jika gejalanya tidak hilang atau memburuk, maka seorang ibu akan mengalami depresi pasca melahirkan.

    "Kondisi depresi pasca persalinan ini jangan disepelekan. Seorang ibu yang depresi sangat membutuhkan dukungan dan bantuan. Berbagai hal bisa semakin memicu depresi yang dialami," kata  Sri Lindawati, Kamis (7/11/2024).

    Sebagai upaya untuk mengatasi dan mencegah Baby Blues, penting dilakukan pendampingan dan perencanaan yang matang dalam setiap tahap kehamilan, persalinan hingga pengasuhan anak.

    “Pendampingan itu sangat penting agar ibu benar-benar siap, baik secara fisik maupun mental. Kehamilan dan persalinan sebaiknya terencana," ujarnya.

    Ia berharap agar masyarakat semakin memahami pentingnya memiliki rencana dalam kehidupan berkeluarga, mulai dari kehamilan, kelahiran, hingga pengasuhan. 

    Adapun cara mengatasi syndrome Baby Blues yakni cukup istirahat, lonsumsi makanan sehat, rutin olahraga, menerapkan komunikasi yang baik dengan suami dan melakukan kegiatan yang menyenangkan.

    (Sf/By)

    Lifestyle

    Gejala Baby Blues Bisa Memicu Tindak Kriminal

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Buniyamin
    07 November 2024 pukul 13:48 WITA

    Ilustrasi. (Pinterest)

    Tenggarong - Gejala Baby Blues masih sering terjadi pada ibu-ibu pasca persalinan, bukan hanya pada ibu muda, tetapi juga pada mereka yang belum siap menghadapi kelahiran.

    Meskipun angka pasti terkait Baby Blues di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) belum terdata secara maksimal. 

    Sejauh ini, Baby Blues masih sering terjadi, bahkan ada yang sampai melakukan tindak kriminal seperti pada 2023 lalu, ada ibu yang menenggelamkan bayi ke dalam ember. 

    Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (KKK) Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kukar Sri Lindawati menjelaskan, Baby Blues merupakan bentuk depresi yang disebabkan oleh perubahan hormon.

    Kondisi ini dapat hilang tanpa perawatan khusus dan jika gejalanya tidak hilang atau memburuk, maka seorang ibu akan mengalami depresi pasca melahirkan.

    "Kondisi depresi pasca persalinan ini jangan disepelekan. Seorang ibu yang depresi sangat membutuhkan dukungan dan bantuan. Berbagai hal bisa semakin memicu depresi yang dialami," kata  Sri Lindawati, Kamis (7/11/2024).

    Sebagai upaya untuk mengatasi dan mencegah Baby Blues, penting dilakukan pendampingan dan perencanaan yang matang dalam setiap tahap kehamilan, persalinan hingga pengasuhan anak.

    “Pendampingan itu sangat penting agar ibu benar-benar siap, baik secara fisik maupun mental. Kehamilan dan persalinan sebaiknya terencana," ujarnya.

    Ia berharap agar masyarakat semakin memahami pentingnya memiliki rencana dalam kehidupan berkeluarga, mulai dari kehamilan, kelahiran, hingga pengasuhan. 

    Adapun cara mengatasi syndrome Baby Blues yakni cukup istirahat, lonsumsi makanan sehat, rutin olahraga, menerapkan komunikasi yang baik dengan suami dan melakukan kegiatan yang menyenangkan.

    (Sf/By)