Lifestyle

    Espresso atau Americano, Mana Lebih “Nendang”? Ini Penjelasannya

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    24 Mei 2026 pukul 20:50 WITA

    Ilustrasi Kopi. (Dok. Freepik)

    Penajam - Budaya ngopi kini semakin melekat di tengah masyarakat. Mulai dari kedai kopi modern hingga gerai kecil pinggir jalan terus bermunculan, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap minuman berbasis kopi seperti espresso dan americano.

    Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Biji kopi asal nusantara seperti robusta dan arabika tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga menjadi komoditas ekspor ke berbagai negara.

    Di tengah tren tersebut, minuman berbasis espresso menjadi salah satu yang paling banyak digemari, terutama americano yang belakangan identik dengan gaya hidup anak muda hingga pekerja kantoran.

    Namun tetap saja, kandungan kafein dalam kopi menjadi perhatian, terutama terkait efeknya terhadap tubuh jika dikonsumsi berlebihan atau diminum pada malam hari.

    Dokter sekaligus pegiat kesehatan, Tirta Mandhira Hudhi atau dr Tirta, menyinggung soal konsumsi americano dan kopi berkafein melalui unggahan Threads pribadinya pada Jumat (22/5/2026).

    Ia menyebut, kopi berkafein tidak disarankan dikonsumsi terlalu malam karena dapat menganggu kualitas tidur. Meskipun, kopi memang memiliki manfaat bagi tubuh, terutama karena kandungan antioksidan dan sifat stimulan yang dapat meningkatkan fokus serta metabolisme tubuh. 

    Dalam dunia perkopian, espresso dan americano sebenarnya berasal dari bahan dasar yang sama. Americano dibuat dari espresso yang ditambahkan air panas sehingga rasa dan konsentrasinya lebih ringan.

    Secara rasa, espresso dinilai lebih kuat karena disajikan dalam bentuk pekat dan terkonsentrasi. Namun untuk kandungan kafein, jumlahnya bergantung pada banyaknya shot espresso yang digunakan.

    Satu shot espresso umumnya mengandung sekitar 60 hingga 70 miligram kafein. Sementara segelas americano dapat mengandung kafein lebih tinggi apabila menggunakan dua shot espresso atau lebih. 

    Artinya, americano bisa terasa lebih ringan di lidah, tetapi belum tentu lebih rendah kafein dibanding espresso.

    Sejumlah penelitian juga menunjukkan konsumsi kafein berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari jantung berdebar, kecemasan, tremor, gangguan lambung, peningkatan tekanan darah, hingga insomnia.

    Penelitian kesehatan yang dipublikasikan sejumlah jurnal di Indonesia turut menyoroti hubungan konsumsi kopi berlebih dengan kualitas tidur serta respons tubuh terhadap kadar kafein tertentu.

    Dr Tirta menyebut batas konsumsi kafein harian yang masih tergolong aman bagi orang dewasa berkisar 400 hingga 500 miligram per hari, dengan catatan tidak memiliki riwayat hipertensi, gangguan jantung, maupun asam lambung. 

    Karena itu, masyarakat diimbau tetap memperhatikan pola konsumsi kopi di tengah tren menjamurnya kedai kopi dan budaya nongkrong yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    (Sf/Rs)

    Lifestyle

    Espresso atau Americano, Mana Lebih “Nendang”? Ini Penjelasannya

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    24 Mei 2026 pukul 20:50 WITA

    Ilustrasi Kopi. (Dok. Freepik)

    Penajam - Budaya ngopi kini semakin melekat di tengah masyarakat. Mulai dari kedai kopi modern hingga gerai kecil pinggir jalan terus bermunculan, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap minuman berbasis kopi seperti espresso dan americano.

    Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Biji kopi asal nusantara seperti robusta dan arabika tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga menjadi komoditas ekspor ke berbagai negara.

    Di tengah tren tersebut, minuman berbasis espresso menjadi salah satu yang paling banyak digemari, terutama americano yang belakangan identik dengan gaya hidup anak muda hingga pekerja kantoran.

    Namun tetap saja, kandungan kafein dalam kopi menjadi perhatian, terutama terkait efeknya terhadap tubuh jika dikonsumsi berlebihan atau diminum pada malam hari.

    Dokter sekaligus pegiat kesehatan, Tirta Mandhira Hudhi atau dr Tirta, menyinggung soal konsumsi americano dan kopi berkafein melalui unggahan Threads pribadinya pada Jumat (22/5/2026).

    Ia menyebut, kopi berkafein tidak disarankan dikonsumsi terlalu malam karena dapat menganggu kualitas tidur. Meskipun, kopi memang memiliki manfaat bagi tubuh, terutama karena kandungan antioksidan dan sifat stimulan yang dapat meningkatkan fokus serta metabolisme tubuh. 

    Dalam dunia perkopian, espresso dan americano sebenarnya berasal dari bahan dasar yang sama. Americano dibuat dari espresso yang ditambahkan air panas sehingga rasa dan konsentrasinya lebih ringan.

    Secara rasa, espresso dinilai lebih kuat karena disajikan dalam bentuk pekat dan terkonsentrasi. Namun untuk kandungan kafein, jumlahnya bergantung pada banyaknya shot espresso yang digunakan.

    Satu shot espresso umumnya mengandung sekitar 60 hingga 70 miligram kafein. Sementara segelas americano dapat mengandung kafein lebih tinggi apabila menggunakan dua shot espresso atau lebih. 

    Artinya, americano bisa terasa lebih ringan di lidah, tetapi belum tentu lebih rendah kafein dibanding espresso.

    Sejumlah penelitian juga menunjukkan konsumsi kafein berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan, mulai dari jantung berdebar, kecemasan, tremor, gangguan lambung, peningkatan tekanan darah, hingga insomnia.

    Penelitian kesehatan yang dipublikasikan sejumlah jurnal di Indonesia turut menyoroti hubungan konsumsi kopi berlebih dengan kualitas tidur serta respons tubuh terhadap kadar kafein tertentu.

    Dr Tirta menyebut batas konsumsi kafein harian yang masih tergolong aman bagi orang dewasa berkisar 400 hingga 500 miligram per hari, dengan catatan tidak memiliki riwayat hipertensi, gangguan jantung, maupun asam lambung. 

    Karena itu, masyarakat diimbau tetap memperhatikan pola konsumsi kopi di tengah tren menjamurnya kedai kopi dan budaya nongkrong yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    (Sf/Rs)