Lifestyle

    Ekspresikan Keresahan Masyarakat Soal Kondisi Negeri, Lanjong Foundation Parodikan Sosok Raja Lewat Meta Teater

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    02 Juni 2026 pukul 14:09 WITA

    Pertunjukan meta teater yang dibawakan Lanjong Foundation (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Meta teater berjudul ‘Ibu Negara’ yang dibawakan Lanjong Foundation di Ladaya, Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (1/6/2026) malam sukses menghibur ratusan penonton.

    Dalam pertunjukan tersebut, para seniman menghadirkan parodi sosok ‘Raja’ yang dikemas secara satir dan penuh humor. Melalui alur cerita yang disajikan, meta teater itu merefleksikan berbagai keresahan masyarakat terhadap kondisi negara saat ini, mulai dari sisi ekonomi hingga pemerintahan.

    Parodi tersebut mengisahkan seorang raja yang selalu merasa kondisi negaranya baik-baik saja karena menurut data dan laporan yang disampaikan para kroninya menunjukkan tren positif, sehingga sang raja meyakini seluruh rakyat hidup sejahtera dan berbagai persoalan telah tertangani dengan baik.

    Namun fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya. Di balik laporan yang tampak positif, masyarakat masih dihadapkan pada berbagai kesulitan dan persoalan yang belum ditangani oleh pemerintah, salah satunya adalah harga barang yang naik.

    “Melihat fenomena yang ada dan saya mengalami bagaimana pemerintahan saat ini, jadi saya harus bersikap sebagai seorang kreator. Saat ke warung kopi, hampir semua barista maupun CEO mengeluh (kondisi negara saat ini), sehingga melalui kegelisahan itu saya bikin kerangka (cerita),” ujar Sutradara Meta Teater, Asmarandana.

    Ia mengungkapkan proses penyusunan naskah pertunjukan selalu diubah dan disesuaikan dengan perkembangan isu yang terjadi di tengah masyarakat. Bahkan, perubahan naskah hampir dilakukan setiap hari karena selalu ada informasi baru yang muncul.

    Menurutnya, pembaruan naskah terus dilakukan agar pertunjukan yang disajikan tetap relevan dengan realitas yang sedang dirasakan masyarakat saat ini.

    Dengan balutan komedi dan kritik sosial yang ringan, pertunjukan tersebut mengajak penonton untuk merenungkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, sekaligus menunjukkan seni dapat menjadi ruang ekspresi bagi suara-suara publik yang kerap tidak tersampaikan secara langsung.

    “Meta teater yang saya ambil adalah bagaimana merangkul penonton kita dengan teks yang lugas dan mudah dipahami. Bahkan, mereka (penonton) sendiri sudah terbiasa membaca itu,” tandasnya.

    (Sf/Lo)

    Lifestyle

    Ekspresikan Keresahan Masyarakat Soal Kondisi Negeri, Lanjong Foundation Parodikan Sosok Raja Lewat Meta Teater

    Penulis:Agus Saputra|Redaktur:Lodya A
    02 Juni 2026 pukul 14:09 WITA

    Pertunjukan meta teater yang dibawakan Lanjong Foundation (Foto: Agus Saputra/Seputarfakta.com)

    Tenggarong - Meta teater berjudul ‘Ibu Negara’ yang dibawakan Lanjong Foundation di Ladaya, Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (1/6/2026) malam sukses menghibur ratusan penonton.

    Dalam pertunjukan tersebut, para seniman menghadirkan parodi sosok ‘Raja’ yang dikemas secara satir dan penuh humor. Melalui alur cerita yang disajikan, meta teater itu merefleksikan berbagai keresahan masyarakat terhadap kondisi negara saat ini, mulai dari sisi ekonomi hingga pemerintahan.

    Parodi tersebut mengisahkan seorang raja yang selalu merasa kondisi negaranya baik-baik saja karena menurut data dan laporan yang disampaikan para kroninya menunjukkan tren positif, sehingga sang raja meyakini seluruh rakyat hidup sejahtera dan berbagai persoalan telah tertangani dengan baik.

    Namun fakta di lapangan justru berbicara sebaliknya. Di balik laporan yang tampak positif, masyarakat masih dihadapkan pada berbagai kesulitan dan persoalan yang belum ditangani oleh pemerintah, salah satunya adalah harga barang yang naik.

    “Melihat fenomena yang ada dan saya mengalami bagaimana pemerintahan saat ini, jadi saya harus bersikap sebagai seorang kreator. Saat ke warung kopi, hampir semua barista maupun CEO mengeluh (kondisi negara saat ini), sehingga melalui kegelisahan itu saya bikin kerangka (cerita),” ujar Sutradara Meta Teater, Asmarandana.

    Ia mengungkapkan proses penyusunan naskah pertunjukan selalu diubah dan disesuaikan dengan perkembangan isu yang terjadi di tengah masyarakat. Bahkan, perubahan naskah hampir dilakukan setiap hari karena selalu ada informasi baru yang muncul.

    Menurutnya, pembaruan naskah terus dilakukan agar pertunjukan yang disajikan tetap relevan dengan realitas yang sedang dirasakan masyarakat saat ini.

    Dengan balutan komedi dan kritik sosial yang ringan, pertunjukan tersebut mengajak penonton untuk merenungkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, sekaligus menunjukkan seni dapat menjadi ruang ekspresi bagi suara-suara publik yang kerap tidak tersampaikan secara langsung.

    “Meta teater yang saya ambil adalah bagaimana merangkul penonton kita dengan teks yang lugas dan mudah dipahami. Bahkan, mereka (penonton) sendiri sudah terbiasa membaca itu,” tandasnya.

    (Sf/Lo)