Lifestyle

    Di Balik Label Nutri Level Kemenkes, Dokter Ungkap Risiko Gula Tak Hanya pada Metabolisme tetapi Juga Kulit

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    05 Juni 2026 pukul 20:22 WITA

    Ilustrasi minuman tinggi gula. (Dok Freepik)

    Penajam - Banyak orang masih menganggap konsumsi gula berlebih hanya berdampak pada kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme. 

    Padahal, kebiasaan mengonsumsi makanan maupun minuman tinggi gula juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan kulit dan memperparah sejumlah kondisi penyakit kulit tertentu.

    Dokter Danar Wicaksono menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara pola konsumsi gula dan kesehatan kulit. 

    Melalui video edukasi yang diunggah di akun Threads pribadinya, Jumat (5/6/2026), Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi itu menjelaskan bahwa asupan gula berlebih juga dapat berpengaruh terhadap sejumlah kondisi kulit. 

    Pembahasan itu ia sampaikan seiring diberlakukannya sistem pelabelan gizi Nutri Level oleh Kementerian Kesehatan pada produk minuman kemasan. 

    Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah menarik karena membantu masyarakat mengenali kandungan gula, garam, dan lemak jenuh yang dikonsumsi setiap hari.

    Selama ini, gula lebih sering dikaitkan dengan penyakit metabolik, seperti hipertensi, diabetes, stroke, obesitas. Namun dalam praktiknya, pola makan tinggi gula juga dapat memicu proses peradangan di dalam tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan kulit.

    Pada kasus jerawat misalnya, konsumsi gula berlebih dapat memicu lonjakan insulin dan hormon IGF-1 yang berkaitan dengan peningkatan produksi minyak pada kulit. Kondisi tersebut kemudian dapat memperbesar peluang munculnya jerawat maupun memperparah peradangan yang sudah ada.

    Tak hanya itu, sejumlah penyakit kulit kronis juga diketahui dapat dipengaruhi oleh pola makan yang memicu inflamasi. 

    Kondisi seperti hidradenitis suppurativa, psoriasis, rosacea hingga eczema pada sebagian orang dapat lebih mudah kambuh ketika asupan makanan sehari-hari tidak terjaga.

    Karena itu, Danar menilai kehadiran Nutri Level dapat menjadi pengingat sederhana bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan apa yang dikonsumsi. 

    Sebab, pilihan makanan dan minuman yang terlihat sepele sering kali dilakukan berulang setiap hari dan dalam jangka panjang ikut memengaruhi kondisi kesehatan.

    Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, pemerintah menerbitkan aturan pencantuman label Nutri Level melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 yang diterbitkan pada Selasa (14/4/2026), sebagai upaya menekan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih pada masyarakat. 

    Usaha skala makro yang menjual minuman pemanis siap saji, sebagai contoh boba, teh tarik, kopi susu aren dan lainnya diminta untuk mencantumkan label gizi dan pesan kesehatan berupa Nutri Level di kemasan. 

    Dalam sistem tersebut, produk akan diberi kategori A hingga D berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak. Semakin tinggi kandungannya, semakin rendah tingkat kategori yang diberikan. 

    Kemenkes berharap informasi tersebut dapat membantu masyarakat membuat pilihan konsumsi yang lebih sehat sebelum membelinya. 

    Kebijakan ini juga diharapkan menjadi salah satu langkah pencegahan berbagai penyakit tidak menular yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

    Di tengah tingginya konsumsi makanan dan minuman manis, Danar meningatkan, bahwa apa yang masuk ke tubuh tidak hanya berpengaruh pada angka timbangan, tetapi bisa ikut menentukan bagaimana kondisi kulit merespons dari waktu ke waktu.

    (Sf/Rs)

    Lifestyle

    Di Balik Label Nutri Level Kemenkes, Dokter Ungkap Risiko Gula Tak Hanya pada Metabolisme tetapi Juga Kulit

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    05 Juni 2026 pukul 20:22 WITA

    Ilustrasi minuman tinggi gula. (Dok Freepik)

    Penajam - Banyak orang masih menganggap konsumsi gula berlebih hanya berdampak pada kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme. 

    Padahal, kebiasaan mengonsumsi makanan maupun minuman tinggi gula juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan kulit dan memperparah sejumlah kondisi penyakit kulit tertentu.

    Dokter Danar Wicaksono menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara pola konsumsi gula dan kesehatan kulit. 

    Melalui video edukasi yang diunggah di akun Threads pribadinya, Jumat (5/6/2026), Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi itu menjelaskan bahwa asupan gula berlebih juga dapat berpengaruh terhadap sejumlah kondisi kulit. 

    Pembahasan itu ia sampaikan seiring diberlakukannya sistem pelabelan gizi Nutri Level oleh Kementerian Kesehatan pada produk minuman kemasan. 

    Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah menarik karena membantu masyarakat mengenali kandungan gula, garam, dan lemak jenuh yang dikonsumsi setiap hari.

    Selama ini, gula lebih sering dikaitkan dengan penyakit metabolik, seperti hipertensi, diabetes, stroke, obesitas. Namun dalam praktiknya, pola makan tinggi gula juga dapat memicu proses peradangan di dalam tubuh yang berpengaruh terhadap kesehatan kulit.

    Pada kasus jerawat misalnya, konsumsi gula berlebih dapat memicu lonjakan insulin dan hormon IGF-1 yang berkaitan dengan peningkatan produksi minyak pada kulit. Kondisi tersebut kemudian dapat memperbesar peluang munculnya jerawat maupun memperparah peradangan yang sudah ada.

    Tak hanya itu, sejumlah penyakit kulit kronis juga diketahui dapat dipengaruhi oleh pola makan yang memicu inflamasi. 

    Kondisi seperti hidradenitis suppurativa, psoriasis, rosacea hingga eczema pada sebagian orang dapat lebih mudah kambuh ketika asupan makanan sehari-hari tidak terjaga.

    Karena itu, Danar menilai kehadiran Nutri Level dapat menjadi pengingat sederhana bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan apa yang dikonsumsi. 

    Sebab, pilihan makanan dan minuman yang terlihat sepele sering kali dilakukan berulang setiap hari dan dalam jangka panjang ikut memengaruhi kondisi kesehatan.

    Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, pemerintah menerbitkan aturan pencantuman label Nutri Level melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 yang diterbitkan pada Selasa (14/4/2026), sebagai upaya menekan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih pada masyarakat. 

    Usaha skala makro yang menjual minuman pemanis siap saji, sebagai contoh boba, teh tarik, kopi susu aren dan lainnya diminta untuk mencantumkan label gizi dan pesan kesehatan berupa Nutri Level di kemasan. 

    Dalam sistem tersebut, produk akan diberi kategori A hingga D berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak. Semakin tinggi kandungannya, semakin rendah tingkat kategori yang diberikan. 

    Kemenkes berharap informasi tersebut dapat membantu masyarakat membuat pilihan konsumsi yang lebih sehat sebelum membelinya. 

    Kebijakan ini juga diharapkan menjadi salah satu langkah pencegahan berbagai penyakit tidak menular yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

    Di tengah tingginya konsumsi makanan dan minuman manis, Danar meningatkan, bahwa apa yang masuk ke tubuh tidak hanya berpengaruh pada angka timbangan, tetapi bisa ikut menentukan bagaimana kondisi kulit merespons dari waktu ke waktu.

    (Sf/Rs)