Lifestyle

    Dari Sepi Pembeli, Nasi Padang Keliling Kini Laris di Jam Istirahat ASN, Raup Rp1,5 Juta Sehari

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    03 Agustus 2026 pukul 17:23 WITA

    ASN membeli makan siang di gerobak Padang Keliling Syfa Gadieh Minang yang mangkal di lingkungan Kantor Sekretariat Kabupaten PPU, Senin (3/8/2026). (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Tak perlu keluar kantor untuk mencari makan siang. Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini punya pilihan baru, nasi padang keliling yang menyambangi kantor saat jam istirahat.

    Gerobak Syfa Gadieh Minang itu mangkal di pintu belakang Kantor Sekretariat Kabupaten PPU. Baru sekitar setengah bulan berjualan, peminatnya mulai bertambah. Bahkan, dalam sehari penjual bisa mengantongi omzet sekitar Rp1,5 juta dari sekitar 50 bungkus nasi yang terjual.

    Yenni, pemilik usaha bersama suaminya Joni, mengatakan awal berjualan nasi padang keliling tidak langsung ramai. Pendapatannya hanya sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu sehari.

    "Baru setengah bulan berjalan. Masih coba-coba cari pelanggan. Awalnya sepi sekali, dapat Rp100-Rp200 ribu, sekarang bisa Rp1,5 juta, atau sekitar 50 bungkus terjual," kata Yenni kepada Seputarfakta.com.

    Konsepnya sederhana, jemput bola. Joni membawa gerobak menggunakan motor dan mendatangi kantor-kantor pemerintahan setiap hari kerja. Cara itu dipilih meski waktu istirahat pegawai yang relatif singkat dan berlangsung hampir bersamaan. 

    "Walaupun kadang untuk mendatangi kantor dinas lainnya, itu tidak sempat," ujarnya.

    Menu yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan warung nasi padang, mulai rendang, ayam bakar, ayam goreng, ikan, telur hingga udang. Harganya mulai Rp20 ribu per bungkus, tergantung lauk yang dipilih. Pembayaran bisa dilakukan tunai maupun nontunai lewat QRIS. 

    Joni mengatakan ide berjualan keliling muncul setelah melihat banyak kantor pemerintahan yang menjadi pasar potensial.

    "Kita lihat banyak kantoran, ada pikiran untuk jemput bola. Akhirnya lumayan juga," katanya.

    Usaha nasi padang sendiri bukan hal baru bagi pasangan tersebut. Mereka sudah menjalankan dua rumah makan di PPU, masing-masing di Kelurahan Gunung Steleng dan Nipah-Nipah selama tiga tahun. Sebelumnya, mereka juga pernah membuka usaha serupa di Jakarta.

    Untuk nasi padang keliling, Joni beroperasi Senin-Jumat mulai sekitar pukul 09.30 Wita hingga jam istirahat kantor selesai. Akhir pekan, gerobaknya berpindah ke Pasar Induk Penajam.

    Seorang ASN yang membeli dagangan tersebut menilai konsep keliling cukup membantu karena pegawai tidak perlu meninggalkan kantor saat jam makan siang.

    "Kalau mau keluar panas, tapi tetap bisa makan siang karena ada yang keliling," ujarnya.

    Melihat respons pembeli yang terus bertambah, Yenni dan Joni berencana menambah satu gerobak lagi. Panggilan pelanggan juga mulai datang dari sejumlah kantor lain di luar Sekretariat Kabupaten PPU.

    Mereka bahkan mulai mempertimbangkan pengembangan usaha ke Balikpapan dan kawasan IKN.

    "Alhamdulillah, ini baru tapi sudah membantu ASN dan kita juga dapat untung. Rencananya mau tambah satu gerobak lagi, nanti dijalankan sama adik," kata Yenni.

    (Sf/Lo)

    Lifestyle

    Dari Sepi Pembeli, Nasi Padang Keliling Kini Laris di Jam Istirahat ASN, Raup Rp1,5 Juta Sehari

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    03 Agustus 2026 pukul 17:23 WITA

    ASN membeli makan siang di gerobak Padang Keliling Syfa Gadieh Minang yang mangkal di lingkungan Kantor Sekretariat Kabupaten PPU, Senin (3/8/2026). (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Tak perlu keluar kantor untuk mencari makan siang. Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini punya pilihan baru, nasi padang keliling yang menyambangi kantor saat jam istirahat.

    Gerobak Syfa Gadieh Minang itu mangkal di pintu belakang Kantor Sekretariat Kabupaten PPU. Baru sekitar setengah bulan berjualan, peminatnya mulai bertambah. Bahkan, dalam sehari penjual bisa mengantongi omzet sekitar Rp1,5 juta dari sekitar 50 bungkus nasi yang terjual.

    Yenni, pemilik usaha bersama suaminya Joni, mengatakan awal berjualan nasi padang keliling tidak langsung ramai. Pendapatannya hanya sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu sehari.

    "Baru setengah bulan berjalan. Masih coba-coba cari pelanggan. Awalnya sepi sekali, dapat Rp100-Rp200 ribu, sekarang bisa Rp1,5 juta, atau sekitar 50 bungkus terjual," kata Yenni kepada Seputarfakta.com.

    Konsepnya sederhana, jemput bola. Joni membawa gerobak menggunakan motor dan mendatangi kantor-kantor pemerintahan setiap hari kerja. Cara itu dipilih meski waktu istirahat pegawai yang relatif singkat dan berlangsung hampir bersamaan. 

    "Walaupun kadang untuk mendatangi kantor dinas lainnya, itu tidak sempat," ujarnya.

    Menu yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan warung nasi padang, mulai rendang, ayam bakar, ayam goreng, ikan, telur hingga udang. Harganya mulai Rp20 ribu per bungkus, tergantung lauk yang dipilih. Pembayaran bisa dilakukan tunai maupun nontunai lewat QRIS. 

    Joni mengatakan ide berjualan keliling muncul setelah melihat banyak kantor pemerintahan yang menjadi pasar potensial.

    "Kita lihat banyak kantoran, ada pikiran untuk jemput bola. Akhirnya lumayan juga," katanya.

    Usaha nasi padang sendiri bukan hal baru bagi pasangan tersebut. Mereka sudah menjalankan dua rumah makan di PPU, masing-masing di Kelurahan Gunung Steleng dan Nipah-Nipah selama tiga tahun. Sebelumnya, mereka juga pernah membuka usaha serupa di Jakarta.

    Untuk nasi padang keliling, Joni beroperasi Senin-Jumat mulai sekitar pukul 09.30 Wita hingga jam istirahat kantor selesai. Akhir pekan, gerobaknya berpindah ke Pasar Induk Penajam.

    Seorang ASN yang membeli dagangan tersebut menilai konsep keliling cukup membantu karena pegawai tidak perlu meninggalkan kantor saat jam makan siang.

    "Kalau mau keluar panas, tapi tetap bisa makan siang karena ada yang keliling," ujarnya.

    Melihat respons pembeli yang terus bertambah, Yenni dan Joni berencana menambah satu gerobak lagi. Panggilan pelanggan juga mulai datang dari sejumlah kantor lain di luar Sekretariat Kabupaten PPU.

    Mereka bahkan mulai mempertimbangkan pengembangan usaha ke Balikpapan dan kawasan IKN.

    "Alhamdulillah, ini baru tapi sudah membantu ASN dan kita juga dapat untung. Rencananya mau tambah satu gerobak lagi, nanti dijalankan sama adik," kata Yenni.

    (Sf/Lo)