Cari disini...
Lifestyle
Aktivitas lari semakin banyak dipilih masyarakat sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Pemandangan masyarakat berlari kini semakin mudah ditemui. Bukan hanya di stadion atau ruang olahraga, tetapi juga di jalan lingkungan, kawasan perkotaan, hingga berbagai ajang lari massal yang terus bermunculan di banyak daerah.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara masyarakat memandang olahraga. Lari tak lagi identik dengan aktivitas atlet atau sekadar mengejar kebugaran fisik, tetapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup dan ruang melepas tekanan di tengah rutinitas yang padat.
Sejumlah penelitian melihat tren tersebut bukan tanpa alasan.
Penelitian Universitas Negeri Semarang (UNNES) menemukan aktivitas lari santai berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih baik. Pada responden generasi muda, kebiasaan berlari dikaitkan dengan menurunnya tingkat stres, meningkatnya suasana hati, kualitas tidur yang lebih baik, hingga meningkatnya kemampuan berkonsentrasi.
Kajian lain juga menunjukkan aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten berperan dalam membangun perilaku hidup sehat dan menjaga kesejahteraan mental. Temuan ini memperlihatkan bahwa olahraga sederhana seperti lari dapat memberi manfaat yang lebih luas dibanding sekadar membakar kalori.
Di tengah meningkatnya tren tersebut, muncul pula fenomena lain: banyak orang mulai berlari karena dorongan sosial atau takut tertinggal tren (fear of missing out/FOMO). Namun kecenderungan itu tidak selalu dipandang negatif.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam unggahan di instagram pribadinya, saat mengikuti event lari di Jakarta menilai motivasi awal masyarakat untuk ikut berlari bukan persoalan utama selama kebiasaan tersebut mengarah pada perubahan perilaku yang lebih sehat.
Menurutnya, energi ikut-ikutan atau FOMO justru bisa menjadi pintu masuk untuk membentuk kebiasaan positif hingga berkembang menjadi gaya hidup sehat sehari-hari.
Ia juga menyoroti lonjakan minat masyarakat terhadap event lari dalam satu dekade terakhir. Jika sebelumnya peserta ajang lari masih relatif terbatas, kini kategori marathon, 5K maupun 10K berkembang menjadi bagian dari lifestyle baru yang menarik puluhan ribu peserta.
Meningkatnya jumlah penyelenggaraan event lari juga dinilai ikut membantu Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat lebih aktif bergerak.
Logika yang dibangun cukup sederhana: semakin banyak masyarakat rutin berolahraga, semakin besar peluang terciptanya kualitas hidup yang lebih baik.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa perubahan gaya hidup sehat tidak selalu dimulai dari kesadaran besar. Kadang berawal dari rasa penasaran, ajakan teman, atau sekadar ikut tren. Namun ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil seperti berlari dapat berubah menjadi investasi kesehatan jangka panjang.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Lifestyle

Aktivitas lari semakin banyak dipilih masyarakat sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Pemandangan masyarakat berlari kini semakin mudah ditemui. Bukan hanya di stadion atau ruang olahraga, tetapi juga di jalan lingkungan, kawasan perkotaan, hingga berbagai ajang lari massal yang terus bermunculan di banyak daerah.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara masyarakat memandang olahraga. Lari tak lagi identik dengan aktivitas atlet atau sekadar mengejar kebugaran fisik, tetapi mulai menjadi bagian dari gaya hidup dan ruang melepas tekanan di tengah rutinitas yang padat.
Sejumlah penelitian melihat tren tersebut bukan tanpa alasan.
Penelitian Universitas Negeri Semarang (UNNES) menemukan aktivitas lari santai berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih baik. Pada responden generasi muda, kebiasaan berlari dikaitkan dengan menurunnya tingkat stres, meningkatnya suasana hati, kualitas tidur yang lebih baik, hingga meningkatnya kemampuan berkonsentrasi.
Kajian lain juga menunjukkan aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten berperan dalam membangun perilaku hidup sehat dan menjaga kesejahteraan mental. Temuan ini memperlihatkan bahwa olahraga sederhana seperti lari dapat memberi manfaat yang lebih luas dibanding sekadar membakar kalori.
Di tengah meningkatnya tren tersebut, muncul pula fenomena lain: banyak orang mulai berlari karena dorongan sosial atau takut tertinggal tren (fear of missing out/FOMO). Namun kecenderungan itu tidak selalu dipandang negatif.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam unggahan di instagram pribadinya, saat mengikuti event lari di Jakarta menilai motivasi awal masyarakat untuk ikut berlari bukan persoalan utama selama kebiasaan tersebut mengarah pada perubahan perilaku yang lebih sehat.
Menurutnya, energi ikut-ikutan atau FOMO justru bisa menjadi pintu masuk untuk membentuk kebiasaan positif hingga berkembang menjadi gaya hidup sehat sehari-hari.
Ia juga menyoroti lonjakan minat masyarakat terhadap event lari dalam satu dekade terakhir. Jika sebelumnya peserta ajang lari masih relatif terbatas, kini kategori marathon, 5K maupun 10K berkembang menjadi bagian dari lifestyle baru yang menarik puluhan ribu peserta.
Meningkatnya jumlah penyelenggaraan event lari juga dinilai ikut membantu Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat lebih aktif bergerak.
Logika yang dibangun cukup sederhana: semakin banyak masyarakat rutin berolahraga, semakin besar peluang terciptanya kualitas hidup yang lebih baik.
Fenomena itu memperlihatkan bahwa perubahan gaya hidup sehat tidak selalu dimulai dari kesadaran besar. Kadang berawal dari rasa penasaran, ajakan teman, atau sekadar ikut tren. Namun ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil seperti berlari dapat berubah menjadi investasi kesehatan jangka panjang.
(Sf/Rs)