Lifestyle

    Dari Dapur Rumahan ke Pasar Regional, Perjalanan Erny Rufiaty Membangun Mantau Fya

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    22 Mei 2026 pukul 19:59 WITA

    Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) jenis Mantau Fya menjadi oleh-oleh khas Balikpapan. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Di balik kesuksesan sebuah produk kuliner, sering kali tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kegagalan, dan keberanian untuk mencoba kembali. Hal itu pula yang tergambar dari perjalanan Erny Rufiaty, seorang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kini dikenal melalui produk unggulannya, Mantau Fya.

    Perempuan kelahiran Banjarmasin, 30 Mei 1969 ini tidak serta-merta meraih kesuksesan dalam waktu singkat. Sebaliknya, perjalanan usahanya dipenuhi berbagai tantangan yang justru membentuk karakter dan strategi bisnisnya hingga seperti sekarang.

    Sebelum menekuni usaha mantau, Erny lebih dulu mencoba peruntungan di bidang pembuatan cake dan kue kering. Usaha tersebut sempat berjalan, namun tidak bertahan lama. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia.

    “Waktu itu pegawai belum bisa menghias kue, jadi saya harus turun langsung mengerjakan semuanya,” ucap Erny saat ditemui di outlet miliknya.

    Kondisi tersebut membuat operasional usaha menjadi tidak efisien. Ketergantungan pada satu orang, yakni dirinya sendiri, membuat usaha sulit berkembang. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghentikan usaha tersebut dan mulai mencari peluang baru.

    Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Ia menyadari bahwa untuk membangun usaha yang berkelanjutan, diperlukan konsep yang lebih sederhana dalam proses produksi, namun tetap memiliki daya tarik di pasar.

    Titik balik perjalanan usahanya terjadi pada 2017. Saat itu, dirinya berdiskusi dengan seorang teman yang kerap berkunjung ke Balikpapan. Dalam percakapan tersebut, temannya mengungkapkan kesulitan mencari oleh-oleh khas Balikpapan selain amplang.

    Dari situlah muncul ide yang kemudian mengubah arah bisnis Erny.

    “Waktu itu teman saya minta carikan oleh-oleh Balikpapan selain amplang. Saya bilang mantau saja. Di situlah idenya muncul saat dia bilang, kenapa tidak bikin mantau saja,” kenangnya.

    Mantau sendiri merupakan roti kukus khas yang cukup populer, namun saat itu belum banyak dikembangkan sebagai oleh-oleh khas daerah. Melihat celah tersebut, Erny memutuskan untuk mencoba peruntungan di bidang ini.

    Tantangan berikutnya adalah soal resep. Erny mengaku tidak memiliki latar belakang khusus dalam pembuatan mantau. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya.

    “Saya mulai bereksperimen dan meracik resep sendiri hingga menemukan formula yang dirasa tepat,” akunya dengan suara lantang.

    Tidak berhenti pada satu jenis, ia justru menghadirkan inovasi dengan membuat mantau berwarna-warni dan berbagai varian rasa. Mulai dari rasa cokelat, keju, hingga varian lauk seperti sapi lada hitam dan ayam asam manis.

    Langkah tersebut menjadi pembeda yang cukup signifikan di pasaran. Produk mantau yang sebelumnya dikenal sederhana, kini tampil lebih menarik dan modern.

    “Dengan kreativitas yang saya miliki, alhamdulillah bisa meningkatkan pasar,” tuturnya.

    Masih di tahun yang sama, Erny memberanikan diri mengikuti kompetisi kuliner tingkat provinsi bertajuk Master oleh Blue Band. Keputusan itu menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan produknya ke publik yang lebih luas.

    Hasilnya di luar dugaan. Ia berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi.

    “Dari situ mulai dikenal. Orang jadi tahu mantau yang saya buat,” katanya.

    Awalnya, Erny hanya merekrut satu pekerja untuk membantu proses produksi. Namun, seiring meningkatnya permintaan konsumen, ia kembali menambah dua pekerja sebagai asisten produksi, satu bagian distribusi barang, dan satu helper. Saat ini, total terdapat lima pekerja yang terlibat dalam usaha tersebut.

    Lanjutnya, kemenangan tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih besar. Produk Mantau Fya mulai dilirik oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha dan distributor.

    Seiring berjalannya waktu, Erny terus mengembangkan produknya. Ia sempat fokus menghadirkan berbagai varian rasa inovatif. Namun, dari hasil pengamatan pasar, justru mantau original yang disajikan dengan daging lada hitam menjadi favorit konsumen.

    Fenomena ini menjadi pelajaran penting, bahwa inovasi tetap perlu diimbangi dengan mempertahankan cita rasa dasar yang disukai pasar.

    “Dari penjualan, ternyata mantau original lebih tinggi dibandingkan varian rasa,” ungkapnya.

    Sejak saat itu, ia mulai menyeimbangkan produksi antara varian inovatif dan produk original sebagai andalan.

    Memasuki tahun 2020, tantangan baru muncul. Masa pandemi memengaruhi berbagai sektor, termasuk bisnis kuliner. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah daya tahan produk mantau yang hanya bertahan sekitar tiga hari.

    Hal ini menjadi hambatan besar, terutama untuk pengiriman luar kota.

    Melihat kondisi tersebut, Erny kembali berpikir kreatif. Ia mencoba mencari solusi agar produknya bisa bertahan lebih lama tanpa mengurangi kualitas.

    “Hasilnya adalah inovasi mantau kering. Produk ini mampu bertahan hingga satu tahun, berdasarkan hasil uji laboratorium. Dengan daya simpan yang lebih panjang, peluang pemasaran pun semakin luas,” lanjutnya.

    Mantau kering hadir dengan berbagai varian rasa, seperti kepiting asam manis, sapi lada hitam, original susu, hingga bawang dayak. Produk ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga keberlangsungan usaha di tengah kondisi yang tidak menentu.

    Tidak hanya berhenti di pasar lokal, Erny juga aktif mengikuti berbagai program pengembangan UMKM. Ia terlibat dalam sejumlah kegiatan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia, termasuk Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan business matching.

    “Melalui program itu, saya mendapat kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis hingga ke luar negeri,” akunya.

    Salah satu pencapaian penting adalah terjalinnya nota kesepahaman (MoU) dengan mitra di Malaysia. Hal ini menjadi langkah awal bagi Mantau Fya untuk menembus pasar internasional.

    Dalam hal pemasaran, Erny memanfaatkan berbagai kanal distribusi. Produk Mantau Fya kini tersedia di toko oleh-oleh, swalayan, hingga hotel.

    Selain itu, ia juga memanfaatkan platform digital seperti Shopee, Tokopedia, GrabFood, dan GoFood. Meski demikian, ia mengakui bahwa penjualan secara offline masih menjadi kontributor utama. 

    Hal ini tidak lepas dari karakteristik produk mantau basah yang memiliki daya tahan terbatas. Risiko pengiriman dan biaya logistik yang tinggi menjadi tantangan tersendiri untuk penjualan luar kota secara online.

    “Kalau ke luar kota cukup riskan, karena mantau biasa hanya tahan tiga hari,” jelasnya.

    Dalam operasional sehari-hari, usaha Mantau Fya mampu mengolah sekitar 12 hingga 15 kilogram tepung untuk produksi mantau basah. Pada momen tertentu, seperti hari raya atau musim liburan, jumlah produksi bisa meningkat hingga satu sak tepung per hari.

    “Sementara itu, untuk mantau kering, kapasitas produksi mencapai sekitar 100 bungkus per hari,” terangnya.

    Dari sisi harga, produk Mantau Fya tergolong terjangkau. Mantau original dijual sekitar Rp50 ribu per kotak berisi 10 buah. Varian rasa dibanderol Rp40 ribu untuk empat buah, sedangkan mantau open dijual Rp25 ribu per bungkus.

    “Harga yang kompetitif ini menjadi salah satu faktor yang mendukung daya tarik produk di pasaran,” pasarnya.

    Erny juga mengapresiasi peran Bank Indonesia dalam mendukung perkembangan usahanya. Menurutnya, berbagai program yang dijalankan sangat membantu UMKM dalam meningkatkan kapasitas dan memperluas pasar.

    “Support dari BI sangat luar biasa, terutama dalam memperkenalkan produk UMKM binaannya,” ujarnya.

    Dukungan tersebut tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk mengikuti pameran dan kegiatan promosi di tingkat nasional maupun internasional.

    Ke depan, pihaknya berencana terus melakukan inovasi, terutama dalam menciptakan varian rasa baru untuk mantau. Ia menyadari bahwa tren kuliner terus berkembang, sehingga pelaku usaha harus mampu beradaptasi.

    “Dengan pengalaman yang saya punya, saya optimistis usahanya dapat terus berkembang dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” optimisnya dengan semangat.

    Saat ini, omzet yang dihasilkan Mantau Fya mencapai sekitar Rp50 juta per bulan. Pada momen tertentu, angka tersebut bahkan bisa meningkat hingga 50 persen.

    Capaian tersebut menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, kreativitas, dan kemampuan membaca peluang, usaha kecil pun dapat tumbuh menjadi bisnis yang menjanjikan.

    Kisah Erny menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari rencana besar, melainkan bisa berawal dari percakapan sederhana dan keberanian untuk mencoba hal baru.

    Dari dapur rumahan hingga menembus pasar regional, perjalanan Mantau Fya menjadi inspirasi bagi banyak pelaku UMKM untuk terus berinovasi dan bertahan di tengah dinamika dunia usaha.

    Berdasarkn pengalaman yang dimiliki, Erny juga berpesan, bahwa belajar bersama BI memberi begitu banyak pengalaman dan wawasan di berbagai bidang usaha.

    Bahkan dalam bidang pemasaran, BI menghadirkan pelatihan digital marketing hingga strategi promosi di TikTok dengan mentor-mentor yang benar-benar berpengalaman di bidangnya. Pelatihan ini membantu pelaku UMKM memahami cara memperluas pasar di era digital.

    Selain itu, para UMKM binaan juga dibekali pelatihan pembukuan menggunakan metode SIAPIK, sehingga pengelolaan usaha menjadi lebih rapi, terukur, dan profesional.

    Tidak hanya itu, BI juga mendorong peningkatan kualitas produk. Para pelaku usaha mendapat pembelajaran tentang bagaimana menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing.

    “Salah satu tokoh inspiratif yang dihadirkan adalah Helianti Hilman, pendiri Javara, yang banyak berbagi pengalaman tentang pengembangan produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas,” tekannya.

    Dalam bidang ekspor, UMKM binaan BI juga mendapat kesempatan untuk dikurasi dan mengikuti business matching dengan beberapa negara, seperti Malaysia dan Singapura. Kesempatan ini menjadi langkah besar agar produk UMKM Indonesia semakin dikenal di pasar internasional.

    Dengan semangat yang terus menyala, bukan tidak mungkin produk lokal seperti mantau suatu hari nanti akan semakin dikenal di kancah global.

    Nama : Erny Rufiaty,SE
    ttgl : Banjarmasin,30 Mei 1969
    pekerjaan : Owner Mantau Fya

    (Sf/Rs)

    Lifestyle

    Dari Dapur Rumahan ke Pasar Regional, Perjalanan Erny Rufiaty Membangun Mantau Fya

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    22 Mei 2026 pukul 19:59 WITA

    Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) jenis Mantau Fya menjadi oleh-oleh khas Balikpapan. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Di balik kesuksesan sebuah produk kuliner, sering kali tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kegagalan, dan keberanian untuk mencoba kembali. Hal itu pula yang tergambar dari perjalanan Erny Rufiaty, seorang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kini dikenal melalui produk unggulannya, Mantau Fya.

    Perempuan kelahiran Banjarmasin, 30 Mei 1969 ini tidak serta-merta meraih kesuksesan dalam waktu singkat. Sebaliknya, perjalanan usahanya dipenuhi berbagai tantangan yang justru membentuk karakter dan strategi bisnisnya hingga seperti sekarang.

    Sebelum menekuni usaha mantau, Erny lebih dulu mencoba peruntungan di bidang pembuatan cake dan kue kering. Usaha tersebut sempat berjalan, namun tidak bertahan lama. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya manusia.

    “Waktu itu pegawai belum bisa menghias kue, jadi saya harus turun langsung mengerjakan semuanya,” ucap Erny saat ditemui di outlet miliknya.

    Kondisi tersebut membuat operasional usaha menjadi tidak efisien. Ketergantungan pada satu orang, yakni dirinya sendiri, membuat usaha sulit berkembang. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghentikan usaha tersebut dan mulai mencari peluang baru.

    Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Ia menyadari bahwa untuk membangun usaha yang berkelanjutan, diperlukan konsep yang lebih sederhana dalam proses produksi, namun tetap memiliki daya tarik di pasar.

    Titik balik perjalanan usahanya terjadi pada 2017. Saat itu, dirinya berdiskusi dengan seorang teman yang kerap berkunjung ke Balikpapan. Dalam percakapan tersebut, temannya mengungkapkan kesulitan mencari oleh-oleh khas Balikpapan selain amplang.

    Dari situlah muncul ide yang kemudian mengubah arah bisnis Erny.

    “Waktu itu teman saya minta carikan oleh-oleh Balikpapan selain amplang. Saya bilang mantau saja. Di situlah idenya muncul saat dia bilang, kenapa tidak bikin mantau saja,” kenangnya.

    Mantau sendiri merupakan roti kukus khas yang cukup populer, namun saat itu belum banyak dikembangkan sebagai oleh-oleh khas daerah. Melihat celah tersebut, Erny memutuskan untuk mencoba peruntungan di bidang ini.

    Tantangan berikutnya adalah soal resep. Erny mengaku tidak memiliki latar belakang khusus dalam pembuatan mantau. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya.

    “Saya mulai bereksperimen dan meracik resep sendiri hingga menemukan formula yang dirasa tepat,” akunya dengan suara lantang.

    Tidak berhenti pada satu jenis, ia justru menghadirkan inovasi dengan membuat mantau berwarna-warni dan berbagai varian rasa. Mulai dari rasa cokelat, keju, hingga varian lauk seperti sapi lada hitam dan ayam asam manis.

    Langkah tersebut menjadi pembeda yang cukup signifikan di pasaran. Produk mantau yang sebelumnya dikenal sederhana, kini tampil lebih menarik dan modern.

    “Dengan kreativitas yang saya miliki, alhamdulillah bisa meningkatkan pasar,” tuturnya.

    Masih di tahun yang sama, Erny memberanikan diri mengikuti kompetisi kuliner tingkat provinsi bertajuk Master oleh Blue Band. Keputusan itu menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan produknya ke publik yang lebih luas.

    Hasilnya di luar dugaan. Ia berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi.

    “Dari situ mulai dikenal. Orang jadi tahu mantau yang saya buat,” katanya.

    Awalnya, Erny hanya merekrut satu pekerja untuk membantu proses produksi. Namun, seiring meningkatnya permintaan konsumen, ia kembali menambah dua pekerja sebagai asisten produksi, satu bagian distribusi barang, dan satu helper. Saat ini, total terdapat lima pekerja yang terlibat dalam usaha tersebut.

    Lanjutnya, kemenangan tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih besar. Produk Mantau Fya mulai dilirik oleh berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha dan distributor.

    Seiring berjalannya waktu, Erny terus mengembangkan produknya. Ia sempat fokus menghadirkan berbagai varian rasa inovatif. Namun, dari hasil pengamatan pasar, justru mantau original yang disajikan dengan daging lada hitam menjadi favorit konsumen.

    Fenomena ini menjadi pelajaran penting, bahwa inovasi tetap perlu diimbangi dengan mempertahankan cita rasa dasar yang disukai pasar.

    “Dari penjualan, ternyata mantau original lebih tinggi dibandingkan varian rasa,” ungkapnya.

    Sejak saat itu, ia mulai menyeimbangkan produksi antara varian inovatif dan produk original sebagai andalan.

    Memasuki tahun 2020, tantangan baru muncul. Masa pandemi memengaruhi berbagai sektor, termasuk bisnis kuliner. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah daya tahan produk mantau yang hanya bertahan sekitar tiga hari.

    Hal ini menjadi hambatan besar, terutama untuk pengiriman luar kota.

    Melihat kondisi tersebut, Erny kembali berpikir kreatif. Ia mencoba mencari solusi agar produknya bisa bertahan lebih lama tanpa mengurangi kualitas.

    “Hasilnya adalah inovasi mantau kering. Produk ini mampu bertahan hingga satu tahun, berdasarkan hasil uji laboratorium. Dengan daya simpan yang lebih panjang, peluang pemasaran pun semakin luas,” lanjutnya.

    Mantau kering hadir dengan berbagai varian rasa, seperti kepiting asam manis, sapi lada hitam, original susu, hingga bawang dayak. Produk ini menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga keberlangsungan usaha di tengah kondisi yang tidak menentu.

    Tidak hanya berhenti di pasar lokal, Erny juga aktif mengikuti berbagai program pengembangan UMKM. Ia terlibat dalam sejumlah kegiatan yang difasilitasi oleh Bank Indonesia, termasuk Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan business matching.

    “Melalui program itu, saya mendapat kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis hingga ke luar negeri,” akunya.

    Salah satu pencapaian penting adalah terjalinnya nota kesepahaman (MoU) dengan mitra di Malaysia. Hal ini menjadi langkah awal bagi Mantau Fya untuk menembus pasar internasional.

    Dalam hal pemasaran, Erny memanfaatkan berbagai kanal distribusi. Produk Mantau Fya kini tersedia di toko oleh-oleh, swalayan, hingga hotel.

    Selain itu, ia juga memanfaatkan platform digital seperti Shopee, Tokopedia, GrabFood, dan GoFood. Meski demikian, ia mengakui bahwa penjualan secara offline masih menjadi kontributor utama. 

    Hal ini tidak lepas dari karakteristik produk mantau basah yang memiliki daya tahan terbatas. Risiko pengiriman dan biaya logistik yang tinggi menjadi tantangan tersendiri untuk penjualan luar kota secara online.

    “Kalau ke luar kota cukup riskan, karena mantau biasa hanya tahan tiga hari,” jelasnya.

    Dalam operasional sehari-hari, usaha Mantau Fya mampu mengolah sekitar 12 hingga 15 kilogram tepung untuk produksi mantau basah. Pada momen tertentu, seperti hari raya atau musim liburan, jumlah produksi bisa meningkat hingga satu sak tepung per hari.

    “Sementara itu, untuk mantau kering, kapasitas produksi mencapai sekitar 100 bungkus per hari,” terangnya.

    Dari sisi harga, produk Mantau Fya tergolong terjangkau. Mantau original dijual sekitar Rp50 ribu per kotak berisi 10 buah. Varian rasa dibanderol Rp40 ribu untuk empat buah, sedangkan mantau open dijual Rp25 ribu per bungkus.

    “Harga yang kompetitif ini menjadi salah satu faktor yang mendukung daya tarik produk di pasaran,” pasarnya.

    Erny juga mengapresiasi peran Bank Indonesia dalam mendukung perkembangan usahanya. Menurutnya, berbagai program yang dijalankan sangat membantu UMKM dalam meningkatkan kapasitas dan memperluas pasar.

    “Support dari BI sangat luar biasa, terutama dalam memperkenalkan produk UMKM binaannya,” ujarnya.

    Dukungan tersebut tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk mengikuti pameran dan kegiatan promosi di tingkat nasional maupun internasional.

    Ke depan, pihaknya berencana terus melakukan inovasi, terutama dalam menciptakan varian rasa baru untuk mantau. Ia menyadari bahwa tren kuliner terus berkembang, sehingga pelaku usaha harus mampu beradaptasi.

    “Dengan pengalaman yang saya punya, saya optimistis usahanya dapat terus berkembang dan bersaing di pasar yang semakin kompetitif,” optimisnya dengan semangat.

    Saat ini, omzet yang dihasilkan Mantau Fya mencapai sekitar Rp50 juta per bulan. Pada momen tertentu, angka tersebut bahkan bisa meningkat hingga 50 persen.

    Capaian tersebut menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, kreativitas, dan kemampuan membaca peluang, usaha kecil pun dapat tumbuh menjadi bisnis yang menjanjikan.

    Kisah Erny menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari rencana besar, melainkan bisa berawal dari percakapan sederhana dan keberanian untuk mencoba hal baru.

    Dari dapur rumahan hingga menembus pasar regional, perjalanan Mantau Fya menjadi inspirasi bagi banyak pelaku UMKM untuk terus berinovasi dan bertahan di tengah dinamika dunia usaha.

    Berdasarkn pengalaman yang dimiliki, Erny juga berpesan, bahwa belajar bersama BI memberi begitu banyak pengalaman dan wawasan di berbagai bidang usaha.

    Bahkan dalam bidang pemasaran, BI menghadirkan pelatihan digital marketing hingga strategi promosi di TikTok dengan mentor-mentor yang benar-benar berpengalaman di bidangnya. Pelatihan ini membantu pelaku UMKM memahami cara memperluas pasar di era digital.

    Selain itu, para UMKM binaan juga dibekali pelatihan pembukuan menggunakan metode SIAPIK, sehingga pengelolaan usaha menjadi lebih rapi, terukur, dan profesional.

    Tidak hanya itu, BI juga mendorong peningkatan kualitas produk. Para pelaku usaha mendapat pembelajaran tentang bagaimana menghasilkan produk yang bermutu dan berdaya saing.

    “Salah satu tokoh inspiratif yang dihadirkan adalah Helianti Hilman, pendiri Javara, yang banyak berbagi pengalaman tentang pengembangan produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas,” tekannya.

    Dalam bidang ekspor, UMKM binaan BI juga mendapat kesempatan untuk dikurasi dan mengikuti business matching dengan beberapa negara, seperti Malaysia dan Singapura. Kesempatan ini menjadi langkah besar agar produk UMKM Indonesia semakin dikenal di pasar internasional.

    Dengan semangat yang terus menyala, bukan tidak mungkin produk lokal seperti mantau suatu hari nanti akan semakin dikenal di kancah global.

    Nama : Erny Rufiaty,SE
    ttgl : Banjarmasin,30 Mei 1969
    pekerjaan : Owner Mantau Fya

    (Sf/Rs)