Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi air hujan di permukaan tanah. (Foto: Magnific)
Tana Paser - Pernah mencium aroma khas setelah hujan turun? Itulah yang disebut dengan Petrichor (Petrikor).
Aroma yang sering kali menjadikan manusia candu itu pertama kali dikenalkan oleh dua orang ahli kimia dari Australia bernama Isabel Joy Bear dan RG Thomas sekitar tahun 1960-an. Istilah Petrikor dibentuk dari dua suku kata Yunani, yaitu Petra yang berarti batu dan Ichor berarti cairan dewa.
Uniknya, aroma khas itu justru berasal dari bakteri Streptomyces yang mengeluarkan senyawa kimia yang disebut geosmin. Penelitian dalam jurnal Environmental Microbiology menjelaskan geosmin merupakan senyawa volatil alami yang memberi aroma “earthy” atau tanah basah pada petrikor.
Selain geosmin, minyak tanaman yang mengendap juga memiliki peran terhadap bau khas itu. Tetesan hujan yang mengenai permukaan tanah mengakibatkan campuran antara minyak tanaman dan senyawa yang dilepaskan mikroba tersebut dibawa oleh aerosol air hujan.
Petrikor akan lebih terasa menyengat ketika hujan sudah lama tidak turun. Hal itu dikarenakan peran dari minyak tanaman dan geosmin yang mengendap lebih lama tanpa terangkat ke udara sebelum adanya tetesan hujan yang mengakibatkan aerosol hujan terjadi.
Secara sederhana, proses terbentuknya aroma khas setelah hujan dapat terjadi akibat adanya beberapa faktor yang saling berkaitan.
Geosmin yang dihasilkan oleh bakteri Streptomyces, minyak tanaman yang mengendap, serta tetesan air hujan yang nantinya menimbulkan aerosol, sehingga campuran dari geosmin dan minyak tanaman dapat terangkat ke udara lalu menghasilkan petrikor.
Selain itu, proses infiltrasi air hujan ke tanah juga berperan penting dalam munculnya petrikor. Mengutip dari journals.itb.ac.id dalam penelitian Abdul Halim Hamdany tentang Analisis Numerik Pengaruh Beban Hujan dan Gempa pada Stabilitas Lereng Tanah Tak Jenuh menjelaskan, air hujan yang masuk ke pori-pori tanah dapat mengubah tekanan air dan pergerakan udara di dalam tanah.
Proses tersebut nantinya akan berpengaruh terhadap pelepasan partikel dan senyawa volatil penyebab aroma tanah basah “earthy”.
Secara sederhana, infiltrasi air hujan ke tanah dapat mempengaruhi munculnya petrikor, karena saat tanah kering pori-pori berisikan udara dan volatil seperti geosmin, minyak tanaman dan senyawa lainnya.
Ketika air hujan meresap ke dalam tanah (Infiltrasi), yang tadinya pori-pori tanah berisikan geosmin, minyak tanaman ataupun senyawa lain akan terdorong ke udara dengan tekanan air hujan yang masuk.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi air hujan di permukaan tanah. (Foto: Magnific)
Tana Paser - Pernah mencium aroma khas setelah hujan turun? Itulah yang disebut dengan Petrichor (Petrikor).
Aroma yang sering kali menjadikan manusia candu itu pertama kali dikenalkan oleh dua orang ahli kimia dari Australia bernama Isabel Joy Bear dan RG Thomas sekitar tahun 1960-an. Istilah Petrikor dibentuk dari dua suku kata Yunani, yaitu Petra yang berarti batu dan Ichor berarti cairan dewa.
Uniknya, aroma khas itu justru berasal dari bakteri Streptomyces yang mengeluarkan senyawa kimia yang disebut geosmin. Penelitian dalam jurnal Environmental Microbiology menjelaskan geosmin merupakan senyawa volatil alami yang memberi aroma “earthy” atau tanah basah pada petrikor.
Selain geosmin, minyak tanaman yang mengendap juga memiliki peran terhadap bau khas itu. Tetesan hujan yang mengenai permukaan tanah mengakibatkan campuran antara minyak tanaman dan senyawa yang dilepaskan mikroba tersebut dibawa oleh aerosol air hujan.
Petrikor akan lebih terasa menyengat ketika hujan sudah lama tidak turun. Hal itu dikarenakan peran dari minyak tanaman dan geosmin yang mengendap lebih lama tanpa terangkat ke udara sebelum adanya tetesan hujan yang mengakibatkan aerosol hujan terjadi.
Secara sederhana, proses terbentuknya aroma khas setelah hujan dapat terjadi akibat adanya beberapa faktor yang saling berkaitan.
Geosmin yang dihasilkan oleh bakteri Streptomyces, minyak tanaman yang mengendap, serta tetesan air hujan yang nantinya menimbulkan aerosol, sehingga campuran dari geosmin dan minyak tanaman dapat terangkat ke udara lalu menghasilkan petrikor.
Selain itu, proses infiltrasi air hujan ke tanah juga berperan penting dalam munculnya petrikor. Mengutip dari journals.itb.ac.id dalam penelitian Abdul Halim Hamdany tentang Analisis Numerik Pengaruh Beban Hujan dan Gempa pada Stabilitas Lereng Tanah Tak Jenuh menjelaskan, air hujan yang masuk ke pori-pori tanah dapat mengubah tekanan air dan pergerakan udara di dalam tanah.
Proses tersebut nantinya akan berpengaruh terhadap pelepasan partikel dan senyawa volatil penyebab aroma tanah basah “earthy”.
Secara sederhana, infiltrasi air hujan ke tanah dapat mempengaruhi munculnya petrikor, karena saat tanah kering pori-pori berisikan udara dan volatil seperti geosmin, minyak tanaman dan senyawa lainnya.
Ketika air hujan meresap ke dalam tanah (Infiltrasi), yang tadinya pori-pori tanah berisikan geosmin, minyak tanaman ataupun senyawa lain akan terdorong ke udara dengan tekanan air hujan yang masuk.
(Sf/Lo)