Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi (Generate Gemini AI)
Tenggarong – Keluhan bahu kaku dan sulit digerakkan kerap dianggap sebagai masalah biasa akibat kelelahan, salah posisi tidur atau aktivitas fisik yang berlebihan.
Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda frozen shoulder atau adhesive capsulitis, gangguan pada sendi bahu yang banyak menyerang usia produktif dan dapat membatasi aktivitas sehari-hari.
Frozen shoulder merupakan kondisi ketika jaringan di sekitar sendi bahu mengalami peradangan dan penebalan, sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan dan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun jika tidak ditangani dengan tepat.
Menurut lembaga kesehatan Amerika Serikat, Mayo Clinic, frozen shoulder paling sering terjadi pada kelompok usia 40 hingga 60 tahun. Risiko juga diketahui lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Para ahli menyebut bertambahnya usia menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap gangguan ini. Seiring waktu, elastisitas jaringan di sekitar sendi berkurang sehingga gerakan bahu menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh kurangnya aktivitas fisik maupun riwayat cedera yang membuat bahu lama tidak digerakkan.
Selain faktor usia, sejumlah penyakit kronis juga diketahui berkaitan erat dengan frozen shoulder. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah diabetes. Penelitian yang dipublikasikan dalam Clinical Orthopaedics and Related Research menunjukkan penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami frozen shoulder dibandingkan masyarakat umum.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang diduga memengaruhi jaringan ikat di sekitar sendi sehingga memicu kekakuan dan peradangan. Selain diabetes, gangguan tiroid, penyakit jantung, hingga riwayat stroke juga termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya frozen shoulder.
Gejala awal biasanya berupa nyeri pada bahu yang muncul saat lengan digerakkan. Seiring berjalannya waktu, rasa nyeri dapat berkurang tetapi bahu justru semakin kaku dan sulit digunakan untuk melakukan aktivitas sederhana seperti mengenakan pakaian, menyisir rambut, atau mengambil barang di tempat yang lebih tinggi.
Karena gejalanya berkembang secara bertahap, banyak penderita baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah keterbatasan gerak yang lebih berat.
Layanan kesehatan Inggris, National Health Service menjelaskan sebagian besar kasus frozen shoulder dapat membaik melalui terapi fisik dan latihan peregangan yang dilakukan secara rutin. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat pereda nyeri atau terapi tambahan untuk membantu mempercepat pemulihan.
Meski bukan penyakit yang mengancam jiwa, frozen shoulder dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengabaikan keluhan nyeri atau kekakuan bahu yang berlangsung dalam waktu lama, terutama bagi mereka yang telah memasuki usia produktif akhir atau memiliki riwayat diabetes dan penyakit metabolik lainnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi (Generate Gemini AI)
Tenggarong – Keluhan bahu kaku dan sulit digerakkan kerap dianggap sebagai masalah biasa akibat kelelahan, salah posisi tidur atau aktivitas fisik yang berlebihan.
Namun, kondisi tersebut bisa menjadi tanda frozen shoulder atau adhesive capsulitis, gangguan pada sendi bahu yang banyak menyerang usia produktif dan dapat membatasi aktivitas sehari-hari.
Frozen shoulder merupakan kondisi ketika jaringan di sekitar sendi bahu mengalami peradangan dan penebalan, sehingga pergerakannya menjadi terbatas. Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan dan dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, bahkan hingga bertahun-tahun jika tidak ditangani dengan tepat.
Menurut lembaga kesehatan Amerika Serikat, Mayo Clinic, frozen shoulder paling sering terjadi pada kelompok usia 40 hingga 60 tahun. Risiko juga diketahui lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Para ahli menyebut bertambahnya usia menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap gangguan ini. Seiring waktu, elastisitas jaringan di sekitar sendi berkurang sehingga gerakan bahu menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh kurangnya aktivitas fisik maupun riwayat cedera yang membuat bahu lama tidak digerakkan.
Selain faktor usia, sejumlah penyakit kronis juga diketahui berkaitan erat dengan frozen shoulder. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah diabetes. Penelitian yang dipublikasikan dalam Clinical Orthopaedics and Related Research menunjukkan penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi mengalami frozen shoulder dibandingkan masyarakat umum.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang diduga memengaruhi jaringan ikat di sekitar sendi sehingga memicu kekakuan dan peradangan. Selain diabetes, gangguan tiroid, penyakit jantung, hingga riwayat stroke juga termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya frozen shoulder.
Gejala awal biasanya berupa nyeri pada bahu yang muncul saat lengan digerakkan. Seiring berjalannya waktu, rasa nyeri dapat berkurang tetapi bahu justru semakin kaku dan sulit digunakan untuk melakukan aktivitas sederhana seperti mengenakan pakaian, menyisir rambut, atau mengambil barang di tempat yang lebih tinggi.
Karena gejalanya berkembang secara bertahap, banyak penderita baru memeriksakan diri ketika kondisi sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, penanganan sejak dini dinilai penting untuk mencegah keterbatasan gerak yang lebih berat.
Layanan kesehatan Inggris, National Health Service menjelaskan sebagian besar kasus frozen shoulder dapat membaik melalui terapi fisik dan latihan peregangan yang dilakukan secara rutin. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat pereda nyeri atau terapi tambahan untuk membantu mempercepat pemulihan.
Meski bukan penyakit yang mengancam jiwa, frozen shoulder dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengabaikan keluhan nyeri atau kekakuan bahu yang berlangsung dalam waktu lama, terutama bagi mereka yang telah memasuki usia produktif akhir atau memiliki riwayat diabetes dan penyakit metabolik lainnya.
(Sf/Lo)