Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Lifestyle
Ilustrasi warga yang tinggal di lingkar tambang batubara di Kalimantan Timur. Debu hitam dari aktivitas tambang dan pengangkutan menjadi ancaman nyata bagi kesehatan paru-paru warga, terutama lansia dan anak-anak, seperti dipaparkan Dekan FKM Universitas Mulawarman. (Foto: Ilustrasi/Gemini AI)
Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memang dikenal sebagai lumbung energi dengan kekayaan batubara yang melimpah.
Namun, di balik gemerlap ekonomi tersebut, sebuah ancaman kesehatan serius diam-diam mengintai masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan.
Bukan sekadar batuk biasa, ancaman penyakit paru-paru kronis atau yang kerap diasosiasikan dengan kondisi paru-paru hitam kini menjadi sorotan tajam akademisi.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Mulawarman, Iwan Muhammad Ramdan, secara blak-blakan memaparkan risiko tersebut pada Rabu (19/11/2025).
Menurutnya, ironi terjadi ketika aktivitas ekonomi justru memicu polusi udara ekstrem, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Iwan menyebutkan, kelompok yang paling rentan bukan hanya para pekerja yang mengenakan helm proyek setiap hari.
Masyarakat sipil yang rumahnya berada di ring satu atau sekitar area tambang dan jalur pengangkutan (hauling) juga memiliki risiko yang tak kalah ngeri.
"Dampak yang paling nyata adalah munculnya gangguan saluran pernapasan," tegas Iwan.
Ia menjelaskan, polusi ini bersumber dari debu halus (partikulat) yang beterbangan saat proses penambangan hingga pengangkutan batubara.
Jika terhirup terus-menerus dalam jangka panjang, debu ini bisa menyebabkan penyakit spesifik yang dalam dunia medis dikenal sebagai coal workers’ pneumoconiosis.
Itu adalah penyakit paru-paru akibat penumpukan debu batubara yang bisa menyebabkan peradangan hingga jaringan parut pada organ vital tersebut.
"Para pekerja tambang jelas sangat berisiko karena setiap hari terpapar langsung. Sementara masyarakat sekitar juga tetap berpotensi terkena paparan debu dan kebisingan akibat aktivitas tambang," imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Iwan juga memberikan sentilan keras kepada korporasi tambang yang beroperasi di Bumi Etam.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan tidak berhenti pada memproduksi batubara, tetapi juga memastikan dapur mereka tidak meracuni tetangga.
"Untuk meminimalkan risiko penyakit saluran pernapasan, prinsip utama adalah menghentikan atau mengurangi emisi dari sumbernya," jelasnya.
Ia menyoroti program Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini dijalankan perusahaan.
Menurut Iwan, CSR seharusnya tidak sekadar formalitas bantuan sosial, melainkan harus dioptimalkan untuk tindakan preventif kesehatan.
"Program CSR ini seharusnya dapat dioptimalkan untuk meminimalkan dampak negatif dari kegiatan usaha, sehingga aktivitas perusahaan tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat," tuturnya.
Iwan memberikan solusi yang bisa diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah tangga. Ia menyarankan masyarakat untuk membuat benteng pertahanan alami dengan menanam tumbuhan tertentu.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menanam jenis tanaman yang memiliki kemampuan fitoremediasi.
Secara sederhana, tanaman fitoremediasi adalah jenis tumbuhan yang mampu menyerap, mengakumulasi, atau mendegradasi polutan dari lingkungan, termasuk debu dan zat berbahaya di udara.
"Kita mungkin tidak bisa menghilangkan dampak tersebut sepenuhnya, tetapi setidaknya bisa menguranginya secara signifikan," bebernya.
Selain menanam pohon pelindung di sekitar rumah, Iwan juga mengingatkan agar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tidak kendor.
Menjaga kebersihan rumah dari debu yang menempel dan menggunakan masker saat polusi sedang tinggi adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan paru-paru.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Lifestyle

Ilustrasi warga yang tinggal di lingkar tambang batubara di Kalimantan Timur. Debu hitam dari aktivitas tambang dan pengangkutan menjadi ancaman nyata bagi kesehatan paru-paru warga, terutama lansia dan anak-anak, seperti dipaparkan Dekan FKM Universitas Mulawarman. (Foto: Ilustrasi/Gemini AI)
Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memang dikenal sebagai lumbung energi dengan kekayaan batubara yang melimpah.
Namun, di balik gemerlap ekonomi tersebut, sebuah ancaman kesehatan serius diam-diam mengintai masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan.
Bukan sekadar batuk biasa, ancaman penyakit paru-paru kronis atau yang kerap diasosiasikan dengan kondisi paru-paru hitam kini menjadi sorotan tajam akademisi.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Mulawarman, Iwan Muhammad Ramdan, secara blak-blakan memaparkan risiko tersebut pada Rabu (19/11/2025).
Menurutnya, ironi terjadi ketika aktivitas ekonomi justru memicu polusi udara ekstrem, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Iwan menyebutkan, kelompok yang paling rentan bukan hanya para pekerja yang mengenakan helm proyek setiap hari.
Masyarakat sipil yang rumahnya berada di ring satu atau sekitar area tambang dan jalur pengangkutan (hauling) juga memiliki risiko yang tak kalah ngeri.
"Dampak yang paling nyata adalah munculnya gangguan saluran pernapasan," tegas Iwan.
Ia menjelaskan, polusi ini bersumber dari debu halus (partikulat) yang beterbangan saat proses penambangan hingga pengangkutan batubara.
Jika terhirup terus-menerus dalam jangka panjang, debu ini bisa menyebabkan penyakit spesifik yang dalam dunia medis dikenal sebagai coal workers’ pneumoconiosis.
Itu adalah penyakit paru-paru akibat penumpukan debu batubara yang bisa menyebabkan peradangan hingga jaringan parut pada organ vital tersebut.
"Para pekerja tambang jelas sangat berisiko karena setiap hari terpapar langsung. Sementara masyarakat sekitar juga tetap berpotensi terkena paparan debu dan kebisingan akibat aktivitas tambang," imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Iwan juga memberikan sentilan keras kepada korporasi tambang yang beroperasi di Bumi Etam.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab perusahaan tidak berhenti pada memproduksi batubara, tetapi juga memastikan dapur mereka tidak meracuni tetangga.
"Untuk meminimalkan risiko penyakit saluran pernapasan, prinsip utama adalah menghentikan atau mengurangi emisi dari sumbernya," jelasnya.
Ia menyoroti program Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini dijalankan perusahaan.
Menurut Iwan, CSR seharusnya tidak sekadar formalitas bantuan sosial, melainkan harus dioptimalkan untuk tindakan preventif kesehatan.
"Program CSR ini seharusnya dapat dioptimalkan untuk meminimalkan dampak negatif dari kegiatan usaha, sehingga aktivitas perusahaan tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat," tuturnya.
Iwan memberikan solusi yang bisa diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah tangga. Ia menyarankan masyarakat untuk membuat benteng pertahanan alami dengan menanam tumbuhan tertentu.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menanam jenis tanaman yang memiliki kemampuan fitoremediasi.
Secara sederhana, tanaman fitoremediasi adalah jenis tumbuhan yang mampu menyerap, mengakumulasi, atau mendegradasi polutan dari lingkungan, termasuk debu dan zat berbahaya di udara.
"Kita mungkin tidak bisa menghilangkan dampak tersebut sepenuhnya, tetapi setidaknya bisa menguranginya secara signifikan," bebernya.
Selain menanam pohon pelindung di sekitar rumah, Iwan juga mengingatkan agar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tidak kendor.
Menjaga kebersihan rumah dari debu yang menempel dan menggunakan masker saat polusi sedang tinggi adalah langkah kecil yang bisa menyelamatkan paru-paru.
(Sf/Rs)