Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Anak yang susah makan sering kali membuat orang tua khawatir. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menandakan adanya masalah serius. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menjelaskan bahwa kebiasaan pilih-pilih makanan atau picky eater merupakan fase yang cukup umum dalam proses tumbuh kembang anak.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, Kemendukbangga menyebutkan bahwa banyak anak sedang berada pada tahap mengenali berbagai rasa, tekstur, dan jenis makanan baru. Karena itu, anak yang menolak makanan tertentu tidak selalu berarti rewel atau menunjukkan kegagalan pola asuh orang tua.
Meski demikian, orang tua tetap perlu memperhatikan beberapa tanda yang memerlukan perhatian lebih. Misalnya, anak hanya mau mengonsumsi satu atau dua jenis makanan dalam waktu lama, berat badan tidak bertambah atau justru menurun, muntah atau menunjukkan kecemasan berlebihan saat dikenalkan makanan baru, hingga kebiasaan tersebut terus berlanjut setelah usia enam tahun tanpa adanya perubahan.
Kemendukbangga mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu anak menjadi picky eater. Mulai dari sensitivitas terhadap tekstur, aroma, atau warna makanan, pengalaman tidak menyenangkan saat makan seperti tersedak atau dipaksa menghabiskan makanan, terlalu sering mengonsumsi makanan olahan dengan rasa kuat, kurangnya variasi makanan sejak masa MPASI, hingga kebiasaan makan sambil menggunakan gawai yang membuat anak tidak peka terhadap rasa lapar dan kenyang.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, orang tua dianjurkan mengolah bahan pangan lokal menjadi menu yang lebih menarik. Daun kelor dapat dicampurkan ke dalam nasi atau telur, ikan lokal diolah menjadi nugget maupun perkedel, sementara ubi dan wortel bisa disajikan dalam bentuk pancake atau puding. Kacang-kacangan yang dihaluskan juga dapat menjadi tambahan nutrisi pada bubur anak.
Selain itu, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah untuk membantu anak lebih mudah menerima makanan baru. Orang tua disarankan menyajikan porsi kecil terlebih dahulu, memperkenalkan makanan baru secara berulang, makan bersama keluarga agar anak dapat meniru kebiasaan makan yang baik, mengajak anak memilih atau menyiapkan makanan, serta menerapkan jadwal makan yang teratur dengan membatasi camilan di luar jam makan.
Kemendukbangga menegaskan bahwa picky eater bukanlah sifat permanen pada anak. Dengan pendekatan yang sabar, konsisten, dan menyenangkan, sebagian besar anak dapat belajar menerima lebih banyak jenis makanan dan memperoleh asupan gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Anak yang susah makan sering kali membuat orang tua khawatir. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menandakan adanya masalah serius. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menjelaskan bahwa kebiasaan pilih-pilih makanan atau picky eater merupakan fase yang cukup umum dalam proses tumbuh kembang anak.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, Kemendukbangga menyebutkan bahwa banyak anak sedang berada pada tahap mengenali berbagai rasa, tekstur, dan jenis makanan baru. Karena itu, anak yang menolak makanan tertentu tidak selalu berarti rewel atau menunjukkan kegagalan pola asuh orang tua.
Meski demikian, orang tua tetap perlu memperhatikan beberapa tanda yang memerlukan perhatian lebih. Misalnya, anak hanya mau mengonsumsi satu atau dua jenis makanan dalam waktu lama, berat badan tidak bertambah atau justru menurun, muntah atau menunjukkan kecemasan berlebihan saat dikenalkan makanan baru, hingga kebiasaan tersebut terus berlanjut setelah usia enam tahun tanpa adanya perubahan.
Kemendukbangga mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu anak menjadi picky eater. Mulai dari sensitivitas terhadap tekstur, aroma, atau warna makanan, pengalaman tidak menyenangkan saat makan seperti tersedak atau dipaksa menghabiskan makanan, terlalu sering mengonsumsi makanan olahan dengan rasa kuat, kurangnya variasi makanan sejak masa MPASI, hingga kebiasaan makan sambil menggunakan gawai yang membuat anak tidak peka terhadap rasa lapar dan kenyang.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, orang tua dianjurkan mengolah bahan pangan lokal menjadi menu yang lebih menarik. Daun kelor dapat dicampurkan ke dalam nasi atau telur, ikan lokal diolah menjadi nugget maupun perkedel, sementara ubi dan wortel bisa disajikan dalam bentuk pancake atau puding. Kacang-kacangan yang dihaluskan juga dapat menjadi tambahan nutrisi pada bubur anak.
Selain itu, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah untuk membantu anak lebih mudah menerima makanan baru. Orang tua disarankan menyajikan porsi kecil terlebih dahulu, memperkenalkan makanan baru secara berulang, makan bersama keluarga agar anak dapat meniru kebiasaan makan yang baik, mengajak anak memilih atau menyiapkan makanan, serta menerapkan jadwal makan yang teratur dengan membatasi camilan di luar jam makan.
Kemendukbangga menegaskan bahwa picky eater bukanlah sifat permanen pada anak. Dengan pendekatan yang sabar, konsisten, dan menyenangkan, sebagian besar anak dapat belajar menerima lebih banyak jenis makanan dan memperoleh asupan gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal.
(Sf/Rs)