Cari disini...
Lifestyle
Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Anak yang terlihat lahap makan dan tidak pernah mengeluh lapar belum tentu telah mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi hidden hunger atau kelaparan tersembunyi yang kerap tidak disadari oleh orang tua.
Melalui edukasi yang diunggah di akun Instagram resminya, Kemendukbangga menjelaskan bahwa hidden hunger merupakan kondisi ketika seseorang memperoleh kalori yang cukup, tetapi mengalami kekurangan zat gizi mikro penting, seperti zat besi, zinc, yodium, vitamin A, dan folat.
Akibatnya, anak memang tampak kenyang, namun proses tumbuh kembang di dalam tubuhnya terganggu secara perlahan tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Kondisi inilah yang membuat hidden hunger berbahaya karena sering baru diketahui setelah dampaknya muncul.
Kemendukbangga menjelaskan, kekurangan zat gizi mikro yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dapat menimbulkan berbagai dampak serius. Mulai dari perkembangan otak yang tidak optimal sehingga memengaruhi kemampuan belajar dan konsentrasi, pertumbuhan fisik yang terhambat hingga menjadi salah satu penyebab utama stunting, sistem kekebalan tubuh yang melemah, prestasi akademik yang menurun saat usia sekolah, hingga anak menjadi mudah lelah dan kurang aktif.
Lebih lanjut, Kemendukbangga menegaskan bahwa hidden hunger memiliki hubungan erat dengan stunting. Kekurangan zat gizi mikro secara terus-menerus dapat menghambat pertumbuhan tulang akibat kurangnya kalsium dan vitamin D, mengganggu produksi hormon pertumbuhan karena defisiensi zinc, menghambat perkembangan sel-sel tubuh, serta menurunkan penyerapan protein akibat kekurangan zat besi.
Akumulasi berbagai gangguan tersebut membuat pertumbuhan anak tidak berlangsung sesuai potensi yang seharusnya sehingga meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Kemendukbangga menekankan bahwa penyebab stunting bukan hanya karena anak kurang makan, tetapi juga karena makanan yang dikonsumsi tidak mengandung zat gizi yang lengkap. Oleh karena itu, pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya memperhatikan jumlah makanan, melainkan juga kualitas dan keberagaman kandungan gizinya.
Masyarakat pun diimbau untuk membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung protein, vitamin, dan mineral dari berbagai sumber pangan agar kebutuhan zat gizi mikro anak terpenuhi sejak dini. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan optimal sekaligus mencegah stunting dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Lifestyle

Ilustrasi. (Freepik)
Bontang - Anak yang terlihat lahap makan dan tidak pernah mengeluh lapar belum tentu telah mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi hidden hunger atau kelaparan tersembunyi yang kerap tidak disadari oleh orang tua.
Melalui edukasi yang diunggah di akun Instagram resminya, Kemendukbangga menjelaskan bahwa hidden hunger merupakan kondisi ketika seseorang memperoleh kalori yang cukup, tetapi mengalami kekurangan zat gizi mikro penting, seperti zat besi, zinc, yodium, vitamin A, dan folat.
Akibatnya, anak memang tampak kenyang, namun proses tumbuh kembang di dalam tubuhnya terganggu secara perlahan tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Kondisi inilah yang membuat hidden hunger berbahaya karena sering baru diketahui setelah dampaknya muncul.
Kemendukbangga menjelaskan, kekurangan zat gizi mikro yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dapat menimbulkan berbagai dampak serius. Mulai dari perkembangan otak yang tidak optimal sehingga memengaruhi kemampuan belajar dan konsentrasi, pertumbuhan fisik yang terhambat hingga menjadi salah satu penyebab utama stunting, sistem kekebalan tubuh yang melemah, prestasi akademik yang menurun saat usia sekolah, hingga anak menjadi mudah lelah dan kurang aktif.
Lebih lanjut, Kemendukbangga menegaskan bahwa hidden hunger memiliki hubungan erat dengan stunting. Kekurangan zat gizi mikro secara terus-menerus dapat menghambat pertumbuhan tulang akibat kurangnya kalsium dan vitamin D, mengganggu produksi hormon pertumbuhan karena defisiensi zinc, menghambat perkembangan sel-sel tubuh, serta menurunkan penyerapan protein akibat kekurangan zat besi.
Akumulasi berbagai gangguan tersebut membuat pertumbuhan anak tidak berlangsung sesuai potensi yang seharusnya sehingga meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Kemendukbangga menekankan bahwa penyebab stunting bukan hanya karena anak kurang makan, tetapi juga karena makanan yang dikonsumsi tidak mengandung zat gizi yang lengkap. Oleh karena itu, pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya memperhatikan jumlah makanan, melainkan juga kualitas dan keberagaman kandungan gizinya.
Masyarakat pun diimbau untuk membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung protein, vitamin, dan mineral dari berbagai sumber pangan agar kebutuhan zat gizi mikro anak terpenuhi sejak dini. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan optimal sekaligus mencegah stunting dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
(Sf/Rs)