Komunitas

    Peringati Sumpah Pemuda, IPARI Paser Gaungkan Moderasi Beragama Bagi Pelajar

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Rusdianto
    26 Oktober 2026 pukul 22:24 WITA

    Penguatan moderasi beragama bagi pelajar di Kabupaten Paser. (Foto: Padliannor)

    Tana Paser - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Paser menginisiasi kegiatan penguatan moderasi beragama bagi kalangan pelajar. Kegiatan itu dilaksanakan sebagai upaya membentengi generasi muda dari potensi paham radikalisme dan toleransi yang keliru di wilayah Kabupaten Paser.

    Sebelum menggelar forum dialog, jajaran pengurus IPARI Paser terlebih dahulu melaksanakan aksi nyata pembersihan tempat ibadah. Kegiatan gotong royong tersebut menyasar dua gereja dan dua musala di sekitar daerah setempat sebagai bentuk simbolis kebersamaan antarumat beragama.

    Ketua IPARI Kabupaten Paser, Muhammad Ilham menyebut, edukasi moderasi beragama itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. IPARI berupaya merajut persatuan dan menanamkan sikap saling menghargai perbedaan di kalangan pemuda-pemudi Paser.

    "Melalui kehiatan ini, kami mengajak pemuda dan pemudi Kabupaten Paser untuk sama-sama menjaga toleransi," kata Muhammad Ilham, Senin (26/10/2026). 

    Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri dari lintas instansi, di antaranya Kepolisian Resor (Polres) Paser, DPD IPARI, serta Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Paser. Seluruh narasumber yang hadir mewakili berbagai unsur keagamaan, seperti Islam, Kristen, dan Katolik, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.

    Adapun peserta yang dilibatkan merupakan pelajar dari empat sekolah menengah di Kabupaten Paser, yakni SMK 1, SMK 2, SMK 3, dan MAN. Para siswa yang hadir mewakili latar belakang agama yang beragam guna menciptakan ruang interaksi yang inklusif.

    Isu radikalisme menjadi salah satu fokus materi yang disampaikan oleh pihak kepolisian dalam sesi pembekalan. Hal itu didasari oleh kerentanan usia remaja yang dinilai masih labil dan berpotensi terpapar paham ekstrem jika tidak dibentengi dengan filter keimanan yang kuat.

    Ilham menilai, pemahaman mengenai moderasi beragama sangat penting ditanamkan sejak dini. Moderasi beragama bukanlah memodifikasi ajaran agama, melainkan membentuk sikap bijak dalam menjalankan agama di tengah kehidupan bermasyarakat.

    "Tujuan utama kita adalah mencari persamaan untuk sama-sama kita jalankan demi mencapai kesuksesan bersama dan menjaga kondusivitas daerah agar tidak terjadi konflik keagamaan," tambahnya.

    Ia menekankan, moderasi beragama bertujuan untuk menemukan persamaan antar umat dalam menjaga kerukunan dimasyarakat. Sikap ekstrem yang cenderung intoleran serta mengabaikan ajaran agama, harus dihindari demi menjaga kerukunan umat beragama. 


    (Sf/Rs)

    Komunitas

    Peringati Sumpah Pemuda, IPARI Paser Gaungkan Moderasi Beragama Bagi Pelajar

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Rusdianto
    26 Oktober 2026 pukul 22:24 WITA

    Penguatan moderasi beragama bagi pelajar di Kabupaten Paser. (Foto: Padliannor)

    Tana Paser - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Paser menginisiasi kegiatan penguatan moderasi beragama bagi kalangan pelajar. Kegiatan itu dilaksanakan sebagai upaya membentengi generasi muda dari potensi paham radikalisme dan toleransi yang keliru di wilayah Kabupaten Paser.

    Sebelum menggelar forum dialog, jajaran pengurus IPARI Paser terlebih dahulu melaksanakan aksi nyata pembersihan tempat ibadah. Kegiatan gotong royong tersebut menyasar dua gereja dan dua musala di sekitar daerah setempat sebagai bentuk simbolis kebersamaan antarumat beragama.

    Ketua IPARI Kabupaten Paser, Muhammad Ilham menyebut, edukasi moderasi beragama itu diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. IPARI berupaya merajut persatuan dan menanamkan sikap saling menghargai perbedaan di kalangan pemuda-pemudi Paser.

    "Melalui kehiatan ini, kami mengajak pemuda dan pemudi Kabupaten Paser untuk sama-sama menjaga toleransi," kata Muhammad Ilham, Senin (26/10/2026). 

    Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri dari lintas instansi, di antaranya Kepolisian Resor (Polres) Paser, DPD IPARI, serta Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Paser. Seluruh narasumber yang hadir mewakili berbagai unsur keagamaan, seperti Islam, Kristen, dan Katolik, untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.

    Adapun peserta yang dilibatkan merupakan pelajar dari empat sekolah menengah di Kabupaten Paser, yakni SMK 1, SMK 2, SMK 3, dan MAN. Para siswa yang hadir mewakili latar belakang agama yang beragam guna menciptakan ruang interaksi yang inklusif.

    Isu radikalisme menjadi salah satu fokus materi yang disampaikan oleh pihak kepolisian dalam sesi pembekalan. Hal itu didasari oleh kerentanan usia remaja yang dinilai masih labil dan berpotensi terpapar paham ekstrem jika tidak dibentengi dengan filter keimanan yang kuat.

    Ilham menilai, pemahaman mengenai moderasi beragama sangat penting ditanamkan sejak dini. Moderasi beragama bukanlah memodifikasi ajaran agama, melainkan membentuk sikap bijak dalam menjalankan agama di tengah kehidupan bermasyarakat.

    "Tujuan utama kita adalah mencari persamaan untuk sama-sama kita jalankan demi mencapai kesuksesan bersama dan menjaga kondusivitas daerah agar tidak terjadi konflik keagamaan," tambahnya.

    Ia menekankan, moderasi beragama bertujuan untuk menemukan persamaan antar umat dalam menjaga kerukunan dimasyarakat. Sikap ekstrem yang cenderung intoleran serta mengabaikan ajaran agama, harus dihindari demi menjaga kerukunan umat beragama. 


    (Sf/Rs)