Seputar Fakta

    Kesehatan

    Waspada Perdarahan Kanker Serviks, Kadinkes Kutim Sebut Banyak Pasien Baru Terdeteksi Stadium Lanjut

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    28 Oktober 2026 pukul 16:36 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kutai Timur (Kutim), dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi ancaman bagi perempuan karena penyakit ini kerap baru diketahui setelah muncul gejala, seperti pendarahan. Saat memeriksakan diri, sebagian pasien sudah berada pada stadium dua atau tiga sehingga penanganannya lebih sulit.

    Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kutai Timur (Kutim), dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan keterlambatan pemeriksaan membuat pasien baru mendapatkan penanganan ketika penyakit sudah berkembang. Dalam kondisi tersebut, pasien bisa membutuhkan kemoterapi hingga dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.

    “Selama ini banyak masyarakat ibu-ibu yang melakukan pemeriksaan sudah terlambat. Sudah ada perdarahan dan sebagainya, sehingga ternyata sudah kanker leher rahim stadium dua atau tiga,” ujar dr Yuwana.

    Ia juga menyebut ada pasien yang meninggal dalam waktu singkat setelah diketahui mengidap kanker serviks. Menurutnya, masih banyak perempuan yang belum bersedia memeriksakan diri sehingga jumlah kasus di Kutim sulit dihitung secara pasti.

    Untuk gambaran di tingkat provinsi, dr Yuwana menyebut sekitar 24 persen perempuan di Kalimantan Timur, termasuk Kutim, mengalami masalah pada leher rahim.

    “Kalau untuk data secara global se-Kaltim itu, kalau dirata-rata, 24 persen wanita ada bermasalah di leher rahimnya. Itu untuk rata-rata ya,” tuturnya.

    Pemeriksaan Pap smear menjadi salah satu cara untuk mendeteksi perubahan sel pada leher rahim. Pemeriksaan ini diperuntukkan bagi perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Sebelum menjalani pemeriksaan, peserta diminta tidak melakukan hubungan seksual selama tiga hari.

    “Jadi, kemudian pada saat mau diperiksa, tiga hari sebelumnya dia tidak boleh melakukan hubungan seks,” tambahnya.

    Pencegahan kanker serviks juga dilakukan melalui vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak perempuan kelas V dan VI sekolah dasar. Yuwana mengatakan upaya ini dapat dimulai sejak usia 10 tahun.

    “Untuk anak perempuan itu dari usia 10 dan seterusnya itu sudah bisa kita cegah. Makanya kita sekarang ada melakukan program vaksinasi HPV,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Kesehatan

    Waspada Perdarahan Kanker Serviks, Kadinkes Kutim Sebut Banyak Pasien Baru Terdeteksi Stadium Lanjut

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    28 Oktober 2026 pukul 16:36 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kutai Timur (Kutim), dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi ancaman bagi perempuan karena penyakit ini kerap baru diketahui setelah muncul gejala, seperti pendarahan. Saat memeriksakan diri, sebagian pasien sudah berada pada stadium dua atau tiga sehingga penanganannya lebih sulit.

    Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kutai Timur (Kutim), dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan keterlambatan pemeriksaan membuat pasien baru mendapatkan penanganan ketika penyakit sudah berkembang. Dalam kondisi tersebut, pasien bisa membutuhkan kemoterapi hingga dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.

    “Selama ini banyak masyarakat ibu-ibu yang melakukan pemeriksaan sudah terlambat. Sudah ada perdarahan dan sebagainya, sehingga ternyata sudah kanker leher rahim stadium dua atau tiga,” ujar dr Yuwana.

    Ia juga menyebut ada pasien yang meninggal dalam waktu singkat setelah diketahui mengidap kanker serviks. Menurutnya, masih banyak perempuan yang belum bersedia memeriksakan diri sehingga jumlah kasus di Kutim sulit dihitung secara pasti.

    Untuk gambaran di tingkat provinsi, dr Yuwana menyebut sekitar 24 persen perempuan di Kalimantan Timur, termasuk Kutim, mengalami masalah pada leher rahim.

    “Kalau untuk data secara global se-Kaltim itu, kalau dirata-rata, 24 persen wanita ada bermasalah di leher rahimnya. Itu untuk rata-rata ya,” tuturnya.

    Pemeriksaan Pap smear menjadi salah satu cara untuk mendeteksi perubahan sel pada leher rahim. Pemeriksaan ini diperuntukkan bagi perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual. Sebelum menjalani pemeriksaan, peserta diminta tidak melakukan hubungan seksual selama tiga hari.

    “Jadi, kemudian pada saat mau diperiksa, tiga hari sebelumnya dia tidak boleh melakukan hubungan seks,” tambahnya.

    Pencegahan kanker serviks juga dilakukan melalui vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak perempuan kelas V dan VI sekolah dasar. Yuwana mengatakan upaya ini dapat dimulai sejak usia 10 tahun.

    “Untuk anak perempuan itu dari usia 10 dan seterusnya itu sudah bisa kita cegah. Makanya kita sekarang ada melakukan program vaksinasi HPV,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)