Cari disini...
Kesehatan
dr Ahmad Hadiwijaya. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)
Tana Paser - Penularan virus Influenza A di tengah masyarakat membawa risiko komplikasi serius bagi anak-anak khususnya infeksi paru-paru berat atau pneumonia. Ancaman kesehatan tersebut menjadi perhatian utama tenaga medis di tengah meningkatnya kasus penularan di lingkungan keluarga dan sekolah.
Dokter Spesialis Anak, dr Ahmad Hadiwijaya, mengungkapkan, dampak infeksi Influenza A tidak boleh dipandang sebelah mata meski penyakit tersebut bukan jenis baru. Komplikasi berat mengintai kelompok anak-anak dengan kriteria rentan yang membutuhkan kewaspadaan ekstra dari para orang tua.
Kelompok paling berisiko tinggi mengalami komplikasi tersebut yaitu bayi serta balita yang masih berada di bawah usia dua tahun. Selain itu, anak-anak yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid juga masuk dalam kategori rawan mengalami perburukan kondisi.
"Tidak boleh diremehkan. Para orang tua tetap harus waspada khususnya anak di usia rentan," kata dr Ahmad Hadiwijaya, Jumat (2/10/2026).
Beberapa jenis komorbid pada anak yang sangat rentan terhadap serangan Influenza A di antaranya penyakit asma, kelainan jantung, hingga gangguan pada sistem imun tubuh. Pada kelompok itu, infeksi virus pernapasan dapat berkembang cepat memicu gangguan organ yang lebih parah.
dr Ahmad menjelaskan, tingkat penularan Influenza A tergolong cukup tinggi dan masif melalui percikan cairan pernapasan atau droplet. Proses penyebaran terjadi saat penderita batuk, bersin, atau berbicara di ruangan tertutup dengan ventilasi minim.
"Penularannya tergolong cukup tinggi karena dapat ditularkan melalui bersin, batuk ataupun ketika berbicara," tambahnya.
Titik rawan penyebaran utama virus tersebut berada di lingkungan sekolah, tempat penitipan anak, serta area rumah tangga. Risiko penularan makin tinggi karena anak yang terinfeksi sudah dapat menularkan virus sejak sehari sebelum gejala klinis muncul.
Guna mencegah penyebaran berantai di area sekolah, orang tua diimbau tidak memaksakan anak yang sedang demam atau flu untuk tetap masuk sekolah. Langkah meliburkan anak sakit menjadi tindakan krusial demi mencegah penularan ke teman sekelas.
dr Ahmad menyampaikan, penggunaan obat antibiotik tidak berguna untuk mengatasi Influenza A karena penyakit itu disebabkan oleh infeksi virus, bukan bakteri. Antibiotik hanya diberikan apabila ditemukan infeksi bakteri sekunder berdasarkan diagnosis dokter.
Sebagai langkah penanganan, dokter dapat memberikan terapi antivirus seperti Oseltamivir kepada pasien. Pemberian obat antivirus itu efektif jika diberikan dalam rentang waktu 48 jam pertama sejak gejala awal muncul pada anak.
Langkah pencegahan utama yang direkomendasikan adalah pemberian vaksinasi influenza tahunan bagi anak mulai usia 6 bulan. Pemberian vaksin terbukti ampuh menurunkan risiko keparahan penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi berat pada anak.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Kesehatan

dr Ahmad Hadiwijaya. (Foto: Padliannor/seputarfakta.com)
Tana Paser - Penularan virus Influenza A di tengah masyarakat membawa risiko komplikasi serius bagi anak-anak khususnya infeksi paru-paru berat atau pneumonia. Ancaman kesehatan tersebut menjadi perhatian utama tenaga medis di tengah meningkatnya kasus penularan di lingkungan keluarga dan sekolah.
Dokter Spesialis Anak, dr Ahmad Hadiwijaya, mengungkapkan, dampak infeksi Influenza A tidak boleh dipandang sebelah mata meski penyakit tersebut bukan jenis baru. Komplikasi berat mengintai kelompok anak-anak dengan kriteria rentan yang membutuhkan kewaspadaan ekstra dari para orang tua.
Kelompok paling berisiko tinggi mengalami komplikasi tersebut yaitu bayi serta balita yang masih berada di bawah usia dua tahun. Selain itu, anak-anak yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid juga masuk dalam kategori rawan mengalami perburukan kondisi.
"Tidak boleh diremehkan. Para orang tua tetap harus waspada khususnya anak di usia rentan," kata dr Ahmad Hadiwijaya, Jumat (2/10/2026).
Beberapa jenis komorbid pada anak yang sangat rentan terhadap serangan Influenza A di antaranya penyakit asma, kelainan jantung, hingga gangguan pada sistem imun tubuh. Pada kelompok itu, infeksi virus pernapasan dapat berkembang cepat memicu gangguan organ yang lebih parah.
dr Ahmad menjelaskan, tingkat penularan Influenza A tergolong cukup tinggi dan masif melalui percikan cairan pernapasan atau droplet. Proses penyebaran terjadi saat penderita batuk, bersin, atau berbicara di ruangan tertutup dengan ventilasi minim.
"Penularannya tergolong cukup tinggi karena dapat ditularkan melalui bersin, batuk ataupun ketika berbicara," tambahnya.
Titik rawan penyebaran utama virus tersebut berada di lingkungan sekolah, tempat penitipan anak, serta area rumah tangga. Risiko penularan makin tinggi karena anak yang terinfeksi sudah dapat menularkan virus sejak sehari sebelum gejala klinis muncul.
Guna mencegah penyebaran berantai di area sekolah, orang tua diimbau tidak memaksakan anak yang sedang demam atau flu untuk tetap masuk sekolah. Langkah meliburkan anak sakit menjadi tindakan krusial demi mencegah penularan ke teman sekelas.
dr Ahmad menyampaikan, penggunaan obat antibiotik tidak berguna untuk mengatasi Influenza A karena penyakit itu disebabkan oleh infeksi virus, bukan bakteri. Antibiotik hanya diberikan apabila ditemukan infeksi bakteri sekunder berdasarkan diagnosis dokter.
Sebagai langkah penanganan, dokter dapat memberikan terapi antivirus seperti Oseltamivir kepada pasien. Pemberian obat antivirus itu efektif jika diberikan dalam rentang waktu 48 jam pertama sejak gejala awal muncul pada anak.
Langkah pencegahan utama yang direkomendasikan adalah pemberian vaksinasi influenza tahunan bagi anak mulai usia 6 bulan. Pemberian vaksin terbukti ampuh menurunkan risiko keparahan penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi berat pada anak.
(Sf/Rs)