Kesehatan

    Tiga Kasus TBC Ditemukan di Lapas Bontang, Pengobatan Sudah Dimulai

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    20 Oktober 2026 pukul 18:16 WITA

    Pembukaan Tracing TBC Terintegrasi CKG di Lapas Kelas IIA Bontang. (Foto: Prokompim Bontang)

    Bontang - Sebanyak tiga kasus TBC ditemukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang hingga Triwulan III 2026. Temuan tersebut berdasarkan pemeriksaan terhadap 48 orang yang terduga mengidap penyakit menular tersebut.

    Ketiga warga binaan yang terdiagnosis TBC itu telah memulai pengobatan. Temuan ini menjadi perhatian dalam upaya pencegahan penularan, mengingat jumlah penghuni Lapas Kelas IIA Bontang mencapai 1.814 orang, jauh melebihi kapasitas yang hanya mampu menampung 594 orang.

    Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Kesehatan pun memperkuat upaya deteksi dini melalui kegiatan Tracing TBC Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni di Lapas Kelas IIA Bontang, Selasa (20/10/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, tersebut turut mendapat pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable dari Kementerian Kesehatan.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan bahwa penanggulangan TBC merupakan salah satu program prioritas nasional untuk mendukung eliminasi penyakit tersebut pada 2030.

    “Skrining terintegrasi dilakukan melalui pemeriksaan gejala, rontgen dada menggunakan X-Ray Portable, serta Cek Kesehatan Gratis bagi warga binaan dan petugas lapas,” ujar Totoek.

    Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC, sekaligus mencegah risiko penularan di lingkungan pemasyarakatan.

    Lapas Kelas IIA Bontang menjadi lokasi pertama di Kota Bontang yang mendapatkan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable dalam program skrining terintegrasi tersebut.

    Secara keseluruhan, Kota Bontang memperoleh alokasi 73 lokus skrining TBC terintegrasi CKG. Sebanyak 29 lokus mendapatkan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable, sedangkan 44 lokus lainnya melaksanakan skrining berdasarkan gejala.

    Untuk memperkuat upaya deteksi dan penegakan diagnosis, Dinas Kesehatan Kota Bontang juga mendapat dukungan satu unit X-Ray Portable serta lima unit alat tes molekuler cepat yang diperuntukkan bagi puskesmas.

    Diketahui, capaian pengobatan TBC di Kota Bontang sendiri tercatat sekitar 94 persen berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Pemerintah daerah menargetkan capaian itu terus meningkat melalui perluasan skrining, penemuan kasus aktif dan pendampingan pasien.

    Di sisi lain, Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Agus Wiyono, menyambut baik dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan akses pemeriksaan, pengobatan, serta rujukan ke rumah sakit bagi warga binaan.

    Ia berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan pembinaan yang bermanfaat sebagai bekal untuk kembali ke keluarga dan masyarakat.

    “Kami berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pembinaan yang bermanfaat sehingga nantinya dapat kembali ke keluarga dan masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, serta tidak mengulangi pelanggaran hukum,” ungkapnya.

    (Sf/Lo)

    Kesehatan

    Tiga Kasus TBC Ditemukan di Lapas Bontang, Pengobatan Sudah Dimulai

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    20 Oktober 2026 pukul 18:16 WITA

    Pembukaan Tracing TBC Terintegrasi CKG di Lapas Kelas IIA Bontang. (Foto: Prokompim Bontang)

    Bontang - Sebanyak tiga kasus TBC ditemukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang hingga Triwulan III 2026. Temuan tersebut berdasarkan pemeriksaan terhadap 48 orang yang terduga mengidap penyakit menular tersebut.

    Ketiga warga binaan yang terdiagnosis TBC itu telah memulai pengobatan. Temuan ini menjadi perhatian dalam upaya pencegahan penularan, mengingat jumlah penghuni Lapas Kelas IIA Bontang mencapai 1.814 orang, jauh melebihi kapasitas yang hanya mampu menampung 594 orang.

    Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Kesehatan pun memperkuat upaya deteksi dini melalui kegiatan Tracing TBC Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni di Lapas Kelas IIA Bontang, Selasa (20/10/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, tersebut turut mendapat pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable dari Kementerian Kesehatan.

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan bahwa penanggulangan TBC merupakan salah satu program prioritas nasional untuk mendukung eliminasi penyakit tersebut pada 2030.

    “Skrining terintegrasi dilakukan melalui pemeriksaan gejala, rontgen dada menggunakan X-Ray Portable, serta Cek Kesehatan Gratis bagi warga binaan dan petugas lapas,” ujar Totoek.

    Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC, sekaligus mencegah risiko penularan di lingkungan pemasyarakatan.

    Lapas Kelas IIA Bontang menjadi lokasi pertama di Kota Bontang yang mendapatkan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable dalam program skrining terintegrasi tersebut.

    Secara keseluruhan, Kota Bontang memperoleh alokasi 73 lokus skrining TBC terintegrasi CKG. Sebanyak 29 lokus mendapatkan pendampingan pemeriksaan menggunakan X-Ray Portable, sedangkan 44 lokus lainnya melaksanakan skrining berdasarkan gejala.

    Untuk memperkuat upaya deteksi dan penegakan diagnosis, Dinas Kesehatan Kota Bontang juga mendapat dukungan satu unit X-Ray Portable serta lima unit alat tes molekuler cepat yang diperuntukkan bagi puskesmas.

    Diketahui, capaian pengobatan TBC di Kota Bontang sendiri tercatat sekitar 94 persen berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Pemerintah daerah menargetkan capaian itu terus meningkat melalui perluasan skrining, penemuan kasus aktif dan pendampingan pasien.

    Di sisi lain, Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Agus Wiyono, menyambut baik dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan akses pemeriksaan, pengobatan, serta rujukan ke rumah sakit bagi warga binaan.

    Ia berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan pembinaan yang bermanfaat sebagai bekal untuk kembali ke keluarga dan masyarakat.

    “Kami berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pembinaan yang bermanfaat sehingga nantinya dapat kembali ke keluarga dan masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, serta tidak mengulangi pelanggaran hukum,” ungkapnya.

    (Sf/Lo)