Seputar Fakta

    Kesehatan

    Tekan Risiko Stunting, DPPKB Samarinda Sasar 30 Keluarga Lewat Genting Non-Nutrisi

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    04 November 2026 pukul 15:37 WITA

    Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda memperluas upaya penanganan stunting melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) Non-Nutrisi yang menyasar 30 keluarga risiko stunting di Kecamatan Samarinda Seberang dan Sungai Kunjang. 

    Program yang dijadwalkan berlangsung pada 5 November 2026 itu tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar keluarga, seperti jamban sehat, rumah layak huni, dan akses air bersih, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi keluarga melalui pelatihan pemanfaatan tanaman pekarangan.

    Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani, mengatakan, 30 keluarga sasaran tersebut terdiri dari 14 keluarga di Samarinda Seberang dan 16 keluarga di Sungai Kunjang. 

    Pelaksanaan program turut melibatkan 24 pendamping dari TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan, penyuluh keluarga berencana, serta kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UP2KA).

    “Genting Non-Nutrisi ini merupakan program terbaru. Selain jamban sehat, rumah layak huni, dan air bersih, ada satu lagi yang kita dorong, yaitu peningkatan ekonomi keluarga,” ujar Deasy, Rabu (4/11/2026).

    Salah satu kegiatan yang disiapkan berupa pelatihan keterampilan tanaman pekarangan. Sebanyak 30 keluarga sasaran akan menerima bibit tomat, terong, dan cabai untuk ditanam serta dikembangkan di lingkungan rumah masing-masing.

    Menurut Deasy, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemberian bibit. DPPKB bersama Pokja III PKK, UP2KA, dan penyuluh KB akan melakukan pendampingan serta pemantauan selama satu tahun. 

    Harapannya, tanaman yang dikembangkan dapat menghasilkan produk untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun menambah pendapatan keluarga.

    “Kita akan pantau selama satu tahun. Paling tidak, hasil dari pekarangan itu bisa digunakan sendiri di rumah atau bahkan dijual,” jelasnya.

    Keluarga penerima manfaat tersebar di empat kelurahan. Namun, dalam keterangan yang disampaikan, baru tiga wilayah yang disebutkan, yakni Loa Buah, Teluk Lerong Ulu, dan Loa Bakung. Lokasi kelurahan keempat masih perlu dikonfirmasi.

    Deasy menyebut, keluarga sasaran nantinya juga akan diarahkan masuk dalam kelompok UP2KA agar pendampingan peningkatan ekonomi dapat berlanjut. 

    Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi mendorong keluarga memiliki keterampilan dan kemampuan memanfaatkan potensi pekarangan secara mandiri.

    Pelaksanaan kegiatan pada 5 November tersebut didukung melalui kolaborasi dengan sejumlah organisasi karena tidak menggunakan anggaran APBD. 

    Salah satu pihak yang memberikan dukungan ialah Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPeA) Provinsi Kalimantan Timur yang dipimpin Liana.

    Deasy menjelaskan, IPPeA memberikan dukungan untuk kebutuhan narasumber, konsumsi, peralatan, hingga pelaksanaan pelatihan. Sementara DPPKB berperan menyiapkan peserta dan melakukan pendampingan setelah kegiatan.

    Selain mendukung pelatihan, IPPeA Kaltim juga membantu pembangunan tiga jamban sehat di Kelurahan Sempaja Utara, Tenun, dan Loa Buah. Total dukungan yang diberikan untuk pembangunan tersebut mencapai Rp37 juta dan bersumber dari non-APBD.

    “Semua non-APBD, support dari IPPeA sebesar Rp37 juta,” ungkap Deasy.

    Melalui kolaborasi tersebut, DPPKB berharap intervensi penanganan stunting dapat menjangkau aspek yang lebih luas. 

    Sebab, upaya pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga kondisi sanitasi, lingkungan tempat tinggal, akses air bersih, serta kemampuan ekonomi keluarga.

    (Sf/Rs)

    Kesehatan

    Tekan Risiko Stunting, DPPKB Samarinda Sasar 30 Keluarga Lewat Genting Non-Nutrisi

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    04 November 2026 pukul 15:37 WITA

    Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda, Deasy Evriyani. (Foto: Arsensia Serlyani/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda memperluas upaya penanganan stunting melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) Non-Nutrisi yang menyasar 30 keluarga risiko stunting di Kecamatan Samarinda Seberang dan Sungai Kunjang. 

    Program yang dijadwalkan berlangsung pada 5 November 2026 itu tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar keluarga, seperti jamban sehat, rumah layak huni, dan akses air bersih, tetapi juga mendorong peningkatan ekonomi keluarga melalui pelatihan pemanfaatan tanaman pekarangan.

    Kepala DPPKB Kota Samarinda, Deasy Evriyani, mengatakan, 30 keluarga sasaran tersebut terdiri dari 14 keluarga di Samarinda Seberang dan 16 keluarga di Sungai Kunjang. 

    Pelaksanaan program turut melibatkan 24 pendamping dari TP PKK tingkat kecamatan dan kelurahan, penyuluh keluarga berencana, serta kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UP2KA).

    “Genting Non-Nutrisi ini merupakan program terbaru. Selain jamban sehat, rumah layak huni, dan air bersih, ada satu lagi yang kita dorong, yaitu peningkatan ekonomi keluarga,” ujar Deasy, Rabu (4/11/2026).

    Salah satu kegiatan yang disiapkan berupa pelatihan keterampilan tanaman pekarangan. Sebanyak 30 keluarga sasaran akan menerima bibit tomat, terong, dan cabai untuk ditanam serta dikembangkan di lingkungan rumah masing-masing.

    Menurut Deasy, kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemberian bibit. DPPKB bersama Pokja III PKK, UP2KA, dan penyuluh KB akan melakukan pendampingan serta pemantauan selama satu tahun. 

    Harapannya, tanaman yang dikembangkan dapat menghasilkan produk untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun menambah pendapatan keluarga.

    “Kita akan pantau selama satu tahun. Paling tidak, hasil dari pekarangan itu bisa digunakan sendiri di rumah atau bahkan dijual,” jelasnya.

    Keluarga penerima manfaat tersebar di empat kelurahan. Namun, dalam keterangan yang disampaikan, baru tiga wilayah yang disebutkan, yakni Loa Buah, Teluk Lerong Ulu, dan Loa Bakung. Lokasi kelurahan keempat masih perlu dikonfirmasi.

    Deasy menyebut, keluarga sasaran nantinya juga akan diarahkan masuk dalam kelompok UP2KA agar pendampingan peningkatan ekonomi dapat berlanjut. 

    Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi mendorong keluarga memiliki keterampilan dan kemampuan memanfaatkan potensi pekarangan secara mandiri.

    Pelaksanaan kegiatan pada 5 November tersebut didukung melalui kolaborasi dengan sejumlah organisasi karena tidak menggunakan anggaran APBD. 

    Salah satu pihak yang memberikan dukungan ialah Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPeA) Provinsi Kalimantan Timur yang dipimpin Liana.

    Deasy menjelaskan, IPPeA memberikan dukungan untuk kebutuhan narasumber, konsumsi, peralatan, hingga pelaksanaan pelatihan. Sementara DPPKB berperan menyiapkan peserta dan melakukan pendampingan setelah kegiatan.

    Selain mendukung pelatihan, IPPeA Kaltim juga membantu pembangunan tiga jamban sehat di Kelurahan Sempaja Utara, Tenun, dan Loa Buah. Total dukungan yang diberikan untuk pembangunan tersebut mencapai Rp37 juta dan bersumber dari non-APBD.

    “Semua non-APBD, support dari IPPeA sebesar Rp37 juta,” ungkap Deasy.

    Melalui kolaborasi tersebut, DPPKB berharap intervensi penanganan stunting dapat menjangkau aspek yang lebih luas. 

    Sebab, upaya pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga kondisi sanitasi, lingkungan tempat tinggal, akses air bersih, serta kemampuan ekonomi keluarga.

    (Sf/Rs)