Kesehatan

    Mengenal N95, Masker yang Kembali Disarankan di Tengah Kabut Asap

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Lodya A
    18 Oktober 2026 pukul 11:55 WITA

    Ilustrasi. (Dok. Freepik)

    Penajam - Masker N95 kembali banyak disebut di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menganjurkan masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan menggunakan masker, terutama N95 jika tersedia.

    Sebenarnya, apa yang membedakan N95 dengan masker yang biasa digunakan sehari-hari?

    N95 merupakan respirator yang dirancang untuk menyaring partikel sangat kecil dari udara. Angka “95” mengacu pada kemampuan filtrasi, yakni sedikitnya 95 persen terhadap partikel berukuran sekitar 0,3 mikrometer dalam pengujian standar.

    Kemampuan tersebut membuat N95 berbeda dari masker medis.  Masker medis umumnya digunakan untuk melindungi dari droplet dan percikan, sedangkan N95 dirancang lebih rapat pada wajah sehingga udara yang dihirup lebih banyak melewati bahan penyaring.

    Kajian dalam Lombok Medical Journal menjelaskan masker medis memiliki tiga lapis dan digunakan sebagai perlindungan terhadap cairan atau droplet. Kemampuannya menyaring partikel udara yang sangat kecil tidak setara dengan respirator N95. 

    Jenis masker lainnya, masker kain memiliki kemampuan filtrasi yang lebih beragam, tergantung bahan dan jumlah lapisannya.

    Kerapatan menjadi bagian penting dari fungsi N95. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan baik karena celah di sekitar wajah dapat membuat udara masuk tanpa melewati bahan penyaring.

    N95 sudah dikenal luas sejak pandemi Covid-19. Ketika itu, respirator ini banyak digunakan tenaga kesehatan karena memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap partikel dan aerosol dibandingkan masker medis biasa.

    Konteksnya saat ini, N95 kembali direkomendasikan ketika masyarakat menghadapi paparan asap karhutla.

    Kementerian Kesehatan menjelaskan asap karhutla dapat mengandung PM2,5, yaitu partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan. Dalam kondisi kualitas udara buruk, paparan terhadap partikel tersebut perlu dikurangi.

    Mengutip Kemkes.go.id, Menkes Budi meminta kelompok rentan, seperti bayi, balita, lansia dan ibu hamil, membatasi aktivitas di luar rumah saat kabut asap. Jika harus keluar, penggunaan masker dianjurkan, terutama N95 apabila tersedia.

    Meski memiliki filtrasi tinggi, N95 bukan berarti membuat seseorang sepenuhnya aman dari dampak asap. Mengurangi aktivitas di luar ruangan tetap menjadi langkah penting ketika kualitas udara memburuk.

    Penggunaan N95 juga perlu diperhatikan. Masker yang longgar akan mengurangi perlindungannya. Respirator harus terpasang rapat pada hidung, mulut dan bagian wajah yang ditutup.

    Penelitian mengenai penggunaan N95 pada tenaga kesehatan juga mencatat sejumlah keluhan ketika respirator digunakan dalam waktu tertentu, seperti rasa tidak nyaman, kesulitan bernapas, sakit kepala dan kelelahan. Karena itu, pemakaian N95 tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.

    (Sf/Lo)

    Kesehatan

    Mengenal N95, Masker yang Kembali Disarankan di Tengah Kabut Asap

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Lodya A
    18 Oktober 2026 pukul 11:55 WITA

    Ilustrasi. (Dok. Freepik)

    Penajam - Masker N95 kembali banyak disebut di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menganjurkan masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan menggunakan masker, terutama N95 jika tersedia.

    Sebenarnya, apa yang membedakan N95 dengan masker yang biasa digunakan sehari-hari?

    N95 merupakan respirator yang dirancang untuk menyaring partikel sangat kecil dari udara. Angka “95” mengacu pada kemampuan filtrasi, yakni sedikitnya 95 persen terhadap partikel berukuran sekitar 0,3 mikrometer dalam pengujian standar.

    Kemampuan tersebut membuat N95 berbeda dari masker medis.  Masker medis umumnya digunakan untuk melindungi dari droplet dan percikan, sedangkan N95 dirancang lebih rapat pada wajah sehingga udara yang dihirup lebih banyak melewati bahan penyaring.

    Kajian dalam Lombok Medical Journal menjelaskan masker medis memiliki tiga lapis dan digunakan sebagai perlindungan terhadap cairan atau droplet. Kemampuannya menyaring partikel udara yang sangat kecil tidak setara dengan respirator N95. 

    Jenis masker lainnya, masker kain memiliki kemampuan filtrasi yang lebih beragam, tergantung bahan dan jumlah lapisannya.

    Kerapatan menjadi bagian penting dari fungsi N95. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan baik karena celah di sekitar wajah dapat membuat udara masuk tanpa melewati bahan penyaring.

    N95 sudah dikenal luas sejak pandemi Covid-19. Ketika itu, respirator ini banyak digunakan tenaga kesehatan karena memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap partikel dan aerosol dibandingkan masker medis biasa.

    Konteksnya saat ini, N95 kembali direkomendasikan ketika masyarakat menghadapi paparan asap karhutla.

    Kementerian Kesehatan menjelaskan asap karhutla dapat mengandung PM2,5, yaitu partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dapat masuk lebih jauh ke saluran pernapasan. Dalam kondisi kualitas udara buruk, paparan terhadap partikel tersebut perlu dikurangi.

    Mengutip Kemkes.go.id, Menkes Budi meminta kelompok rentan, seperti bayi, balita, lansia dan ibu hamil, membatasi aktivitas di luar rumah saat kabut asap. Jika harus keluar, penggunaan masker dianjurkan, terutama N95 apabila tersedia.

    Meski memiliki filtrasi tinggi, N95 bukan berarti membuat seseorang sepenuhnya aman dari dampak asap. Mengurangi aktivitas di luar ruangan tetap menjadi langkah penting ketika kualitas udara memburuk.

    Penggunaan N95 juga perlu diperhatikan. Masker yang longgar akan mengurangi perlindungannya. Respirator harus terpasang rapat pada hidung, mulut dan bagian wajah yang ditutup.

    Penelitian mengenai penggunaan N95 pada tenaga kesehatan juga mencatat sejumlah keluhan ketika respirator digunakan dalam waktu tertentu, seperti rasa tidak nyaman, kesulitan bernapas, sakit kepala dan kelelahan. Karena itu, pemakaian N95 tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.

    (Sf/Lo)