Kesehatan

    Mengapa Trauma Membuat Seseorang Terjebak di Masa Lalu? Ini Penjelasan Medisnya

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    19 Oktober 2026 pukul 14:37 WITA

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Bontang - Pengalaman traumatis tidak selalu berakhir ketika peristiwa yang menyakitkan itu berlalu. Bagi sebagian orang, kenangan masa lalu dapat muncul kembali dalam bentuk ingatan yang mengganggu, mimpi buruk, hingga perasaan seolah-olah kejadian tersebut sedang berlangsung kembali.

    Kondisi ini bukan semata-mata karena seseorang sulit melupakan masa lalu. Dalam dunia kesehatan, pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

    Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melalui laman resminya pada 11 September 2026, PTSD dapat terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat mengancam atau mengerikan.

    Gejalanya dapat berupa pengalaman traumatis yang muncul kembali secara berulang, kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan pada kejadian tersebut, serta perasaan terus-menerus berada dalam ancaman.

    WHO menjelaskan, orang dengan PTSD dapat mengalami ingatan yang tidak diinginkan mengenai peristiwa traumatis hingga merasa seolah-olah kejadian itu berlangsung kembali. Pengalaman tersebut dapat muncul dalam bentuk gambaran visual, suara, aroma, mimpi buruk, maupun kilas balik atau flashback.

    Informasi tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang masih terpengaruh oleh kejadian masa lalu bukan selalu berarti tidak mau melangkah maju. Pada kondisi tertentu, ingatan traumatis memang dapat muncul kembali dan memicu respons emosional yang kuat.

    Ingatan Trauma Dapat Muncul Kembali karena Pemicu Tertentu

    Salah satu alasan seseorang merasa sulit melepaskan diri dari pengalaman traumatis adalah munculnya pemicu atau trigger.

    Pemicu merupakan sesuatu yang mengingatkan seseorang pada pengalaman traumatis, baik berupa tempat, orang, suara, aroma, maupun situasi tertentu.

    National Center for PTSD, lembaga di bawah Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat, menjelaskan bahwa pengingat trauma dapat memicu reaksi emosional dan respons tubuh yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya.

    Dalam artikel resminya mengenai pemicu trauma, lembaga tersebut menjelaskan bahwa seseorang dapat kembali merasakan ketakutan atau ketidaknyamanan ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian terdahulu.

    Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami hubungan penuh kekerasan mungkin merasa cemas ketika mendengar nada bicara yang menyerupai pelaku. Orang yang pernah mengalami kecelakaan juga bisa merasa takut ketika mendengar suara benturan keras atau melewati lokasi kejadian.

    Meski situasi yang dihadapi saat ini belum tentu berbahaya, ingatan terhadap pengalaman sebelumnya dapat memicu respons seolah-olah ancaman tersebut kembali hadir.

    Akibatnya, seseorang mungkin merasa sulit menikmati keadaan saat ini karena sebagian perhatiannya terus tertuju pada pengalaman yang pernah menyakitinya.

    Mengapa Masa Lalu Terasa Seperti Terjadi Kembali?

    Menurut WHO, salah satu gejala utama PTSD adalah re-experiencing, yakni mengalami kembali peristiwa traumatis melalui ingatan yang mengganggu, mimpi buruk, atau flashback.

    Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat merasakan ketakutan yang sangat kuat ketika ingatan tersebut muncul. Pada episode flashback, orang tersebut bahkan dapat merasa seolah-olah dirinya kembali berada di tempat dan waktu ketika peristiwa traumatis terjadi.

    Gejala ini dapat membuat pengalaman masa lalu terasa sangat dekat, meskipun peristiwanya sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.

    Selain itu, National Center for PTSD menjelaskan bahwa ingatan traumatis dapat menyimpan informasi mengenai bahaya yang dialami ketika peristiwa tersebut terjadi. Informasi itu dapat membuat seseorang lebih waspada terhadap hal-hal yang memiliki kemiripan dengan pengalaman sebelumnya.

    Respons tersebut pada dasarnya berkaitan dengan upaya mengenali dan mengantisipasi bahaya. Namun, ketika respons itu terus muncul dalam situasi yang sebenarnya aman, seseorang dapat mengalami ketakutan dan tekanan emosional yang mengganggu kehidupannya.

    Dengan demikian, perasaan seolah-olah terjebak di masa lalu dapat berkaitan dengan cara seseorang mengalami kembali ingatan traumatis dan merespons pengingat yang ada di sekitarnya.

    Menghindari Kenangan Justru Dapat Mempertahankan Masalah

    Selain mengalami kembali ingatan traumatis, seseorang dengan PTSD dapat berusaha menghindari segala sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian tersebut.

    Berdasarkan lembar fakta WHO tentang PTSD, penghindaran dapat berupa upaya menjauhi tempat, aktivitas, orang, pikiran, atau ingatan yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.

    Seseorang mungkin memilih tidak membicarakan pengalaman yang menyakitkan, menghindari hubungan baru karena takut terluka, atau menjauhi situasi yang dianggap berpotensi memunculkan kembali ketakutan.

    Menghindar terkadang terasa membantu karena dapat mengurangi ketidaknyamanan untuk sementara waktu. Namun, WHO menjelaskan bahwa strategi penghindaran pada penderita PTSD justru dapat memperkuat gejala mengalami kembali trauma dan mempertahankan masalah tersebut dalam jangka panjang.

    Artinya, semakin besar ketakutan seseorang terhadap pengingat trauma, semakin terbatas pula kesempatan untuk menghadapi situasi yang sebenarnya aman.

    Meski demikian, hal ini bukan berarti seseorang harus memaksakan diri menghadapi seluruh kenangannya sekaligus. Pemulihan membutuhkan pendekatan yang tepat, rasa aman, dan, apabila diperlukan, pendampingan tenaga profesional.

    Tidak Semua Orang yang Mengalami Trauma Mengalami PTSD

    Meski trauma dapat meninggalkan dampak psikologis, tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan mengalami PTSD.

    WHO menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang terpapar peristiwa yang berpotensi menimbulkan trauma akan mengalami tekanan emosional, tetapi dapat pulih secara alami seiring waktu.

    PTSD hanya berkembang pada sebagian orang. Kemungkinan terjadinya kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sifat peristiwa yang dialami, pengalaman traumatis sebelumnya, serta faktor psikologis, biologis, dan sosial.

    Dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar juga berperan dalam proses pemulihan setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis.

    Karena itu, seseorang yang masih teringat pengalaman menyakitkan tidak serta-merta mengalami gangguan mental. Ingatan terhadap masa lalu dapat menjadi bagian dari respons manusia terhadap pengalaman yang berat.

    Namun, apabila ingatan tersebut terus muncul, menimbulkan ketakutan yang intens, mengganggu tidur, atau menghambat aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

    Pemulihan Membutuhkan Dukungan dan Penanganan yang Tepat

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan dalam artikel berjudul Perang dan Gangguan Stres Pascatrauma yang diterbitkan pada 2 November 2023 menjelaskan bahwa PTSD merupakan reaksi psikologis yang dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang menakutkan dan mengancam keselamatan.

    Kemenkes juga menjelaskan bahwa pengalaman traumatis dapat menimbulkan gangguan psikologis yang memengaruhi kondisi seseorang setelah peristiwa tersebut berlalu.

    Sementara itu, WHO menyebutkan bahwa intervensi psikologis berbasis bukti merupakan pilihan utama dalam penanganan PTSD. Pendekatan yang memiliki bukti efektivitas antara lain terapi perilaku kognitif yang berfokus pada trauma serta Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR).

    Terapi tersebut dapat membantu seseorang mempelajari cara baru untuk mengelola pikiran dan perasaan yang mengganggu, sekaligus menghadapi situasi yang memicu ingatan traumatis dalam lingkungan yang aman dan suportif.

    WHO juga menyarankan agar seseorang tetap menjalankan rutinitas sehari-hari sebisa mungkin, menjaga pola tidur, melakukan aktivitas fisik, serta berbicara dengan orang tepercaya ketika sudah merasa siap.

    Apabila gejala trauma berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah penting untuk memperoleh penilaian dan penanganan yang sesuai.

    Pada akhirnya, merasa terjebak di masa lalu bukan berarti seseorang tidak memiliki keinginan untuk berubah. Pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara seseorang mengingat kejadian, mengenali ancaman, dan merespons situasi yang mengingatkannya pada pengalaman terdahulu.

    Dengan dukungan yang memadai dan penanganan yang tepat, seseorang dapat belajar mengelola ingatan traumatis serta membangun kembali rasa aman dalam menjalani kehidupannya saat ini.

    (Sf/Lo)

    Kesehatan

    Mengapa Trauma Membuat Seseorang Terjebak di Masa Lalu? Ini Penjelasan Medisnya

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Lodya A
    19 Oktober 2026 pukul 14:37 WITA

    Ilustrasi. (Foto: Freepik)

    Bontang - Pengalaman traumatis tidak selalu berakhir ketika peristiwa yang menyakitkan itu berlalu. Bagi sebagian orang, kenangan masa lalu dapat muncul kembali dalam bentuk ingatan yang mengganggu, mimpi buruk, hingga perasaan seolah-olah kejadian tersebut sedang berlangsung kembali.

    Kondisi ini bukan semata-mata karena seseorang sulit melupakan masa lalu. Dalam dunia kesehatan, pengalaman tersebut dapat berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

    Berdasarkan informasi yang dipublikasikan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melalui laman resminya pada 11 September 2026, PTSD dapat terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat mengancam atau mengerikan.

    Gejalanya dapat berupa pengalaman traumatis yang muncul kembali secara berulang, kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan pada kejadian tersebut, serta perasaan terus-menerus berada dalam ancaman.

    WHO menjelaskan, orang dengan PTSD dapat mengalami ingatan yang tidak diinginkan mengenai peristiwa traumatis hingga merasa seolah-olah kejadian itu berlangsung kembali. Pengalaman tersebut dapat muncul dalam bentuk gambaran visual, suara, aroma, mimpi buruk, maupun kilas balik atau flashback.

    Informasi tersebut menunjukkan bahwa seseorang yang masih terpengaruh oleh kejadian masa lalu bukan selalu berarti tidak mau melangkah maju. Pada kondisi tertentu, ingatan traumatis memang dapat muncul kembali dan memicu respons emosional yang kuat.

    Ingatan Trauma Dapat Muncul Kembali karena Pemicu Tertentu

    Salah satu alasan seseorang merasa sulit melepaskan diri dari pengalaman traumatis adalah munculnya pemicu atau trigger.

    Pemicu merupakan sesuatu yang mengingatkan seseorang pada pengalaman traumatis, baik berupa tempat, orang, suara, aroma, maupun situasi tertentu.

    National Center for PTSD, lembaga di bawah Departemen Urusan Veteran Amerika Serikat, menjelaskan bahwa pengingat trauma dapat memicu reaksi emosional dan respons tubuh yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya.

    Dalam artikel resminya mengenai pemicu trauma, lembaga tersebut menjelaskan bahwa seseorang dapat kembali merasakan ketakutan atau ketidaknyamanan ketika berhadapan dengan sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian terdahulu.

    Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami hubungan penuh kekerasan mungkin merasa cemas ketika mendengar nada bicara yang menyerupai pelaku. Orang yang pernah mengalami kecelakaan juga bisa merasa takut ketika mendengar suara benturan keras atau melewati lokasi kejadian.

    Meski situasi yang dihadapi saat ini belum tentu berbahaya, ingatan terhadap pengalaman sebelumnya dapat memicu respons seolah-olah ancaman tersebut kembali hadir.

    Akibatnya, seseorang mungkin merasa sulit menikmati keadaan saat ini karena sebagian perhatiannya terus tertuju pada pengalaman yang pernah menyakitinya.

    Mengapa Masa Lalu Terasa Seperti Terjadi Kembali?

    Menurut WHO, salah satu gejala utama PTSD adalah re-experiencing, yakni mengalami kembali peristiwa traumatis melalui ingatan yang mengganggu, mimpi buruk, atau flashback.

    Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat merasakan ketakutan yang sangat kuat ketika ingatan tersebut muncul. Pada episode flashback, orang tersebut bahkan dapat merasa seolah-olah dirinya kembali berada di tempat dan waktu ketika peristiwa traumatis terjadi.

    Gejala ini dapat membuat pengalaman masa lalu terasa sangat dekat, meskipun peristiwanya sudah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.

    Selain itu, National Center for PTSD menjelaskan bahwa ingatan traumatis dapat menyimpan informasi mengenai bahaya yang dialami ketika peristiwa tersebut terjadi. Informasi itu dapat membuat seseorang lebih waspada terhadap hal-hal yang memiliki kemiripan dengan pengalaman sebelumnya.

    Respons tersebut pada dasarnya berkaitan dengan upaya mengenali dan mengantisipasi bahaya. Namun, ketika respons itu terus muncul dalam situasi yang sebenarnya aman, seseorang dapat mengalami ketakutan dan tekanan emosional yang mengganggu kehidupannya.

    Dengan demikian, perasaan seolah-olah terjebak di masa lalu dapat berkaitan dengan cara seseorang mengalami kembali ingatan traumatis dan merespons pengingat yang ada di sekitarnya.

    Menghindari Kenangan Justru Dapat Mempertahankan Masalah

    Selain mengalami kembali ingatan traumatis, seseorang dengan PTSD dapat berusaha menghindari segala sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian tersebut.

    Berdasarkan lembar fakta WHO tentang PTSD, penghindaran dapat berupa upaya menjauhi tempat, aktivitas, orang, pikiran, atau ingatan yang berkaitan dengan pengalaman traumatis.

    Seseorang mungkin memilih tidak membicarakan pengalaman yang menyakitkan, menghindari hubungan baru karena takut terluka, atau menjauhi situasi yang dianggap berpotensi memunculkan kembali ketakutan.

    Menghindar terkadang terasa membantu karena dapat mengurangi ketidaknyamanan untuk sementara waktu. Namun, WHO menjelaskan bahwa strategi penghindaran pada penderita PTSD justru dapat memperkuat gejala mengalami kembali trauma dan mempertahankan masalah tersebut dalam jangka panjang.

    Artinya, semakin besar ketakutan seseorang terhadap pengingat trauma, semakin terbatas pula kesempatan untuk menghadapi situasi yang sebenarnya aman.

    Meski demikian, hal ini bukan berarti seseorang harus memaksakan diri menghadapi seluruh kenangannya sekaligus. Pemulihan membutuhkan pendekatan yang tepat, rasa aman, dan, apabila diperlukan, pendampingan tenaga profesional.

    Tidak Semua Orang yang Mengalami Trauma Mengalami PTSD

    Meski trauma dapat meninggalkan dampak psikologis, tidak semua orang yang mengalami peristiwa traumatis akan mengalami PTSD.

    WHO menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang terpapar peristiwa yang berpotensi menimbulkan trauma akan mengalami tekanan emosional, tetapi dapat pulih secara alami seiring waktu.

    PTSD hanya berkembang pada sebagian orang. Kemungkinan terjadinya kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sifat peristiwa yang dialami, pengalaman traumatis sebelumnya, serta faktor psikologis, biologis, dan sosial.

    Dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar juga berperan dalam proses pemulihan setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis.

    Karena itu, seseorang yang masih teringat pengalaman menyakitkan tidak serta-merta mengalami gangguan mental. Ingatan terhadap masa lalu dapat menjadi bagian dari respons manusia terhadap pengalaman yang berat.

    Namun, apabila ingatan tersebut terus muncul, menimbulkan ketakutan yang intens, mengganggu tidur, atau menghambat aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

    Pemulihan Membutuhkan Dukungan dan Penanganan yang Tepat

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan dalam artikel berjudul Perang dan Gangguan Stres Pascatrauma yang diterbitkan pada 2 November 2023 menjelaskan bahwa PTSD merupakan reaksi psikologis yang dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang menakutkan dan mengancam keselamatan.

    Kemenkes juga menjelaskan bahwa pengalaman traumatis dapat menimbulkan gangguan psikologis yang memengaruhi kondisi seseorang setelah peristiwa tersebut berlalu.

    Sementara itu, WHO menyebutkan bahwa intervensi psikologis berbasis bukti merupakan pilihan utama dalam penanganan PTSD. Pendekatan yang memiliki bukti efektivitas antara lain terapi perilaku kognitif yang berfokus pada trauma serta Eye Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR).

    Terapi tersebut dapat membantu seseorang mempelajari cara baru untuk mengelola pikiran dan perasaan yang mengganggu, sekaligus menghadapi situasi yang memicu ingatan traumatis dalam lingkungan yang aman dan suportif.

    WHO juga menyarankan agar seseorang tetap menjalankan rutinitas sehari-hari sebisa mungkin, menjaga pola tidur, melakukan aktivitas fisik, serta berbicara dengan orang tepercaya ketika sudah merasa siap.

    Apabila gejala trauma berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah penting untuk memperoleh penilaian dan penanganan yang sesuai.

    Pada akhirnya, merasa terjebak di masa lalu bukan berarti seseorang tidak memiliki keinginan untuk berubah. Pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara seseorang mengingat kejadian, mengenali ancaman, dan merespons situasi yang mengingatkannya pada pengalaman terdahulu.

    Dengan dukungan yang memadai dan penanganan yang tepat, seseorang dapat belajar mengelola ingatan traumatis serta membangun kembali rasa aman dalam menjalani kehidupannya saat ini.

    (Sf/Lo)