Kesehatan

    Kutim Catat 6 Kasus Kaki Gajah, Dinkes Tunggu Hasil Pemeriksaan Terbaru

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    15 Oktober 2026 pukul 13:32 WITA

    Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih mencatat enam kasus filariasis atau penyakit kaki gajah pada 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menunggu hasil pemeriksaan tahun ini untuk mengetahui apakah masih ditemukan kasus positif.

    Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan pemeriksaan filariasis dilakukan setiap tahun oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memantau perkembangan kasus, sekaligus menilai peluang eliminasi penyakit kaki gajah di Kutim.

    “Kalau tidak salah, kemarin 2025 itu di angka enam orang. Tahun ini kita masih menunggu hasilnya, apakah ada tambahan, karena pemeriksaan masih berjalan,” ujar dr Yuwana.

    Ia berharap tidak ada penambahan kasus pada pemeriksaan tahun ini. Menurutnya, jika selama dua tahun berturut-turut tidak ditemukan penambahan kasus, Kutim diharapkan dapat mencapai eliminasi filariasis.

    Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kutim, Sumarno, menjelaskan pemeriksaan juga dilakukan melalui survei terhadap masyarakat yang dipilih secara acak oleh Kemenkes. Pemeriksaan ini dilakukan setelah program pemberian obat pencegahan massal filariasis dilaksanakan beberapa tahun lalu.

    Melalui pemeriksaan tersebut, petugas dapat mengetahui apakah masih ada warga yang positif terinfeksi. Jika ditemukan kasus, warga akan mendapatkan pengobatan.

    “Jadi, ini diperiksa lagi. Kalau ada, kita obati. Kalau enggak ada, kita bisa eliminasi,” kata Sumarno.

    Ia menjelaskan, filariasis menyerang sistem getah bening dan dapat menyebabkan pembengkakan pada kaki ketika penyakit berkembang ke stadium lanjut. Kondisi ini perlu diwaspadai karena penanganannya lebih sulit jika penyakit sudah mencapai stadium tinggi.

    “Kalau sudah stadium 3–4, kakinya bengkak. Itu sudah susah diobati, seumur hidup harus minum obat. Tapi kalau masih stadium 1–2, itu masih bisa diobati,” jelasnya.

    Karena itu, pemeriksaan darah kembali dilakukan setelah pemberian obat massal untuk mengetahui apakah masih ada warga yang positif terinfeksi. Jika ditemukan pada stadium awal, pengobatan dapat diberikan agar penderita bisa sembuh.

    “Kalau ada yang positif dan masih stadium 1, kita obati, bisa sembuh,” tuturnya.

    (Sf/Lo)

    Kesehatan

    Kutim Catat 6 Kasus Kaki Gajah, Dinkes Tunggu Hasil Pemeriksaan Terbaru

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    15 Oktober 2026 pukul 13:32 WITA

    Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih mencatat enam kasus filariasis atau penyakit kaki gajah pada 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim menunggu hasil pemeriksaan tahun ini untuk mengetahui apakah masih ditemukan kasus positif.

    Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan pemeriksaan filariasis dilakukan setiap tahun oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memantau perkembangan kasus, sekaligus menilai peluang eliminasi penyakit kaki gajah di Kutim.

    “Kalau tidak salah, kemarin 2025 itu di angka enam orang. Tahun ini kita masih menunggu hasilnya, apakah ada tambahan, karena pemeriksaan masih berjalan,” ujar dr Yuwana.

    Ia berharap tidak ada penambahan kasus pada pemeriksaan tahun ini. Menurutnya, jika selama dua tahun berturut-turut tidak ditemukan penambahan kasus, Kutim diharapkan dapat mencapai eliminasi filariasis.

    Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kutim, Sumarno, menjelaskan pemeriksaan juga dilakukan melalui survei terhadap masyarakat yang dipilih secara acak oleh Kemenkes. Pemeriksaan ini dilakukan setelah program pemberian obat pencegahan massal filariasis dilaksanakan beberapa tahun lalu.

    Melalui pemeriksaan tersebut, petugas dapat mengetahui apakah masih ada warga yang positif terinfeksi. Jika ditemukan kasus, warga akan mendapatkan pengobatan.

    “Jadi, ini diperiksa lagi. Kalau ada, kita obati. Kalau enggak ada, kita bisa eliminasi,” kata Sumarno.

    Ia menjelaskan, filariasis menyerang sistem getah bening dan dapat menyebabkan pembengkakan pada kaki ketika penyakit berkembang ke stadium lanjut. Kondisi ini perlu diwaspadai karena penanganannya lebih sulit jika penyakit sudah mencapai stadium tinggi.

    “Kalau sudah stadium 3–4, kakinya bengkak. Itu sudah susah diobati, seumur hidup harus minum obat. Tapi kalau masih stadium 1–2, itu masih bisa diobati,” jelasnya.

    Karena itu, pemeriksaan darah kembali dilakukan setelah pemberian obat massal untuk mengetahui apakah masih ada warga yang positif terinfeksi. Jika ditemukan pada stadium awal, pengobatan dapat diberikan agar penderita bisa sembuh.

    “Kalau ada yang positif dan masih stadium 1, kita obati, bisa sembuh,” tuturnya.

    (Sf/Lo)