Cari disini...
Kesehatan
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kutim, Sumarno. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengingatkan masyarakat mewaspadai demam berdarah dengue (DBD), terutama menjelang musim hujan.
Masyarakat diminta memberantas sarang nyamuk dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mengarah pada DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kutim, Sumarno, mengatakan petugas Puskesmas telah diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan saat musim pancaroba.
Pemantauan dilakukan melalui kader juru pemantau jentik (jumantik) dan petugas surveilans di setiap Puskesmas. Dinkes juga menggunakan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk memantau laporan penyakit dan mendeteksi kemungkinan peningkatan kasus.
“Kalau sudah musim pancaroba, teman-teman sudah kami ingatkan di grup agar bergerak cepat,” ujar Sumarno.
Ia menjelaskan, pengasapan atau fogging bukan langkah utama dalam pencegahan DBD. Pengasapan dilakukan ketika ditemukan kasus, dengan sasaran wilayah sekitar 200 meter dari lokasi penderita.
Upaya utama mencegah penularan DBD adalah memberantas sarang nyamuk untuk memutus perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat diminta menerapkan 3M Plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
“Fogging itu jalan terakhir. Kunci utamanya memutus mata rantai,” jelasnya.
Sumarno juga mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan demam yang dialami anak. Jika anak mengalami demam atau sakit, ia menyarankan agar segera dibawa ke dokter untuk diperiksa.
Menurutnya, kondisi penderita DBD dapat memburuk pada hari keempat atau kelima sejak demam muncul. Karena itu, demam yang mulai turun tidak selalu berarti pasien sudah pulih. Pasien yang masih memerlukan perawatan harus mengikuti anjuran dokter dan tidak meninggalkan rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang.
“Harapannya masyarakat sudah mengerti kalau anak panas atau sakit, sebaiknya dibawa ke dokter. Ikuti instruksi dokter. Jangan pulang kalau masih harus dirawat di rumah sakit,” katanya.
Sumarno menambahkan, rumah sakit telah menggunakan pemeriksaan cepat atau rapid diagnostic test (RDT) untuk membantu mendeteksi DBD pada pasien yang dicurigai mengalami penyakit tersebut.
“Jadi, rumah sakit ada RDT itu. Begitu datang orang yang dicurigai DBD, langsung diperiksa pakai itu. Insyaallah tidak sampai terlambat, asalkan masyarakat cepat membawa ke rumah sakit begitu ada gejala,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Kesehatan

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kutim, Sumarno. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengingatkan masyarakat mewaspadai demam berdarah dengue (DBD), terutama menjelang musim hujan.
Masyarakat diminta memberantas sarang nyamuk dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala yang mengarah pada DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kutim, Sumarno, mengatakan petugas Puskesmas telah diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan saat musim pancaroba.
Pemantauan dilakukan melalui kader juru pemantau jentik (jumantik) dan petugas surveilans di setiap Puskesmas. Dinkes juga menggunakan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk memantau laporan penyakit dan mendeteksi kemungkinan peningkatan kasus.
“Kalau sudah musim pancaroba, teman-teman sudah kami ingatkan di grup agar bergerak cepat,” ujar Sumarno.
Ia menjelaskan, pengasapan atau fogging bukan langkah utama dalam pencegahan DBD. Pengasapan dilakukan ketika ditemukan kasus, dengan sasaran wilayah sekitar 200 meter dari lokasi penderita.
Upaya utama mencegah penularan DBD adalah memberantas sarang nyamuk untuk memutus perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat diminta menerapkan 3M Plus, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
“Fogging itu jalan terakhir. Kunci utamanya memutus mata rantai,” jelasnya.
Sumarno juga mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan demam yang dialami anak. Jika anak mengalami demam atau sakit, ia menyarankan agar segera dibawa ke dokter untuk diperiksa.
Menurutnya, kondisi penderita DBD dapat memburuk pada hari keempat atau kelima sejak demam muncul. Karena itu, demam yang mulai turun tidak selalu berarti pasien sudah pulih. Pasien yang masih memerlukan perawatan harus mengikuti anjuran dokter dan tidak meninggalkan rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang.
“Harapannya masyarakat sudah mengerti kalau anak panas atau sakit, sebaiknya dibawa ke dokter. Ikuti instruksi dokter. Jangan pulang kalau masih harus dirawat di rumah sakit,” katanya.
Sumarno menambahkan, rumah sakit telah menggunakan pemeriksaan cepat atau rapid diagnostic test (RDT) untuk membantu mendeteksi DBD pada pasien yang dicurigai mengalami penyakit tersebut.
“Jadi, rumah sakit ada RDT itu. Begitu datang orang yang dicurigai DBD, langsung diperiksa pakai itu. Insyaallah tidak sampai terlambat, asalkan masyarakat cepat membawa ke rumah sakit begitu ada gejala,” pungkasnya.
(Sf/Lo)