Cari disini...
Kesehatan
Sekretaris Dinas Kesehatan Kaltim, Ronny Setiawati. (Foto: Arman Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Ronny Setiawati, menegaskan kematian balita di Samarinda, bukan disebabkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Balita tersebut dilaporkan meninggal dunia pada 15 Oktober 2026 di salah satu rumah sakit swasta di Samarinda setelah mengalami sesak napas.
Penegasan itu disampaikan Ronny saat ditemui di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (19/10/2026).
"Terima kasih teman-teman media. Kami datang mendampingi teman-teman yang mau audiensi terkait karhutla. Salah satunya ada anak yang tanggal 15 Oktober 2026, kemarin, meninggal di salah satu rumah sakit swasta di Kota Samarinda," ujar Ronny.
Isu yang beredar di masyarakat mengaitkan kematian balita itu dengan kabut asap Karhutla yang sempat melanda Samarinda. Menanggapi hal itu, Ronny menyebut baik pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan Kota Samarinda telah memberikan klarifikasi bahwa kematian korban bukan akibat karhutla.
Dinkes Kaltim juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dengan berkoordinasi langsung dengan rumah sakit. Berdasarkan data medis yang diterima, korban didiagnosis menderita pneumonia.
"Kami melakukan penyelidikan epidemiologi, melihat kasus ini secara keseluruhan. Kami sudah terima data dan koordinasi dengan rumah sakit. Data yang kami terima anak tersebut terkena pneumonia," jelasnya.
Terkait penyebab pneumonia, Ronny menjelaskan banyak faktor yang bisa memicu, mulai dari infeksi virus, bakteri, hingga paparan berbagai jenis asap.
"Pneumonia itu banyak penyebabnya. Bisa dari virus, bakteri, bisa juga dari paparan asap. Asap rokok bisa, asap kendaraan bisa, banyak jenisnya," terangnya.
Ia menambahkan, untuk mengetahui penyebab spesifik pneumonia tersebut dibutuhkan pemeriksaan mendalam berupa autopsi pada organ paru. Hal itu sesuai dengan penjelasan dokter spesialis anak yang menangani pasien.
"Kalau mau melihat secara detail penyebab pneumonianya apa, harus dilakukan autopsi. Autopsi pada anak yang bersangkutan sudah tidak ada, karena kita tidak lihat paru-parunya ini masalahnya kenapa, penyebabnya apa," tutup Ronny.
Dengan klarifikasi ini, Dinkes Kaltim memastikan tidak ada kaitan langsung antara meninggalnya balita dengan kabut asap akibat karhutla di wilayah Samarinda.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Kesehatan

Sekretaris Dinas Kesehatan Kaltim, Ronny Setiawati. (Foto: Arman Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Ronny Setiawati, menegaskan kematian balita di Samarinda, bukan disebabkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Balita tersebut dilaporkan meninggal dunia pada 15 Oktober 2026 di salah satu rumah sakit swasta di Samarinda setelah mengalami sesak napas.
Penegasan itu disampaikan Ronny saat ditemui di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (19/10/2026).
"Terima kasih teman-teman media. Kami datang mendampingi teman-teman yang mau audiensi terkait karhutla. Salah satunya ada anak yang tanggal 15 Oktober 2026, kemarin, meninggal di salah satu rumah sakit swasta di Kota Samarinda," ujar Ronny.
Isu yang beredar di masyarakat mengaitkan kematian balita itu dengan kabut asap Karhutla yang sempat melanda Samarinda. Menanggapi hal itu, Ronny menyebut baik pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan Kota Samarinda telah memberikan klarifikasi bahwa kematian korban bukan akibat karhutla.
Dinkes Kaltim juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dengan berkoordinasi langsung dengan rumah sakit. Berdasarkan data medis yang diterima, korban didiagnosis menderita pneumonia.
"Kami melakukan penyelidikan epidemiologi, melihat kasus ini secara keseluruhan. Kami sudah terima data dan koordinasi dengan rumah sakit. Data yang kami terima anak tersebut terkena pneumonia," jelasnya.
Terkait penyebab pneumonia, Ronny menjelaskan banyak faktor yang bisa memicu, mulai dari infeksi virus, bakteri, hingga paparan berbagai jenis asap.
"Pneumonia itu banyak penyebabnya. Bisa dari virus, bakteri, bisa juga dari paparan asap. Asap rokok bisa, asap kendaraan bisa, banyak jenisnya," terangnya.
Ia menambahkan, untuk mengetahui penyebab spesifik pneumonia tersebut dibutuhkan pemeriksaan mendalam berupa autopsi pada organ paru. Hal itu sesuai dengan penjelasan dokter spesialis anak yang menangani pasien.
"Kalau mau melihat secara detail penyebab pneumonianya apa, harus dilakukan autopsi. Autopsi pada anak yang bersangkutan sudah tidak ada, karena kita tidak lihat paru-parunya ini masalahnya kenapa, penyebabnya apa," tutup Ronny.
Dengan klarifikasi ini, Dinkes Kaltim memastikan tidak ada kaitan langsung antara meninggalnya balita dengan kabut asap akibat karhutla di wilayah Samarinda.
(Sf/Rs)