Cari disini...
Kesehatan
Ilustrasi. (Dok. Freepik)
Penajam - Black Death menjadi salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah. Wabah pes yang melanda Eropa pada 1347 itu menyebar cepat ke berbagai wilayah dan menewaskan populasi dalam jumlah besar.
Kabar kematian seorang pekerja di lembaga penelitian anti-pes di Irkutsk, Rusia, memunculkan kembali kekhawatiran terhadap penyakit pes. Perempuan tersebut meninggal pada 2 Oktober 2026 setelah mengalami pneumonia berat. Hampir 200 orang dilaporkan ditempatkan dalam pemantauan medis. Otoritas kesehatan Rusia belum memastikan kematian itu disebabkan pes.
Sementara itu, dalam kajian Samuel K Cohn Jr berjudul Epidemiology of the Black Death and Successive Waves of Plague yang diterbitkan jurnal Medical History, wabah pes tiba di Messina, Italia, pada 1347 sebelum menyebar ke sebagian besar Eropa dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Penyebarannya berkaitan erat dengan mobilitas manusia dan jalur perdagangan. Kajian tersebut mencatat Black Death pada periode 1347–1351 bergerak dengan kecepatan sekitar 1,5 hingga 6 kilometer per hari.
Besarnya korban tidak memiliki satu angka pasti. Berbagai kajian sejarah menghasilkan perkiraan berbeda.
Penelitian yang diterbitkan Nature Ecology & Evolution pada 2022 memperkirakan lebih dari 50 persen populasi di sejumlah wilayah Eropa dan Asia Barat meninggal dalam sekitar lima tahun akibat Black Death. Penelitian tersebut menganalisis data dari 261 lokasi di 19 negara Eropa dan menemukan tingkat kematian sangat berbeda antarwilayah.
Black Death kini diketahui berkaitan dengan bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit pes dan ditularkan melalui pinjal yang terinfeksi dari hewan pengerat kepada manusia.
Pada masa Black Death, penyebab penyakit dan mekanisme penularannya belum dipahami. Pengobatan modern juga belum tersedia sehingga wabah sulit dikendalikan ketika masuk ke permukiman.
Catatan sejarah menunjukkan dampaknya tidak sebatas kematian. Berkurangnya populasi dalam skala besar mengguncang aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Eropa.
Pengendalian wabah juga melahirkan praktik yang kini dikenal sebagai karantina. Kota-kota mulai membatasi pergerakan orang dari wilayah terjangkit. Di Ragusa, pelaut dari daerah yang terpapar diwajibkan menjalani isolasi yang kemudian berkembang dari 30 menjadi 40 hari.
Meski telah berabad-abad berlalu, pes belum sepenuhnya hilang. Yersinia pestis masih ditemukan pada populasi hewan di sejumlah wilayah dan penyakit pes tetap menjadi bagian dari kewaspadaan kesehatan.
Menyikapi ancaman pandemi, Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular dan pandemi baru. Dilansir dari laman resmi Kemenkes, 3 September 2026, kesiapsiagaan itu mencakup kemampuan mendeteksi patogen hingga mempercepat pengembangan vaksin.
"Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan merenggut sekitar 200 nyawa manusia, melebihi Perang Dunia II. Olehnya itu kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa," ucap Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.
Pelajaran dari Black Death menunjukkan penyebaran penyakit dapat bergerak cepat ketika mobilitas manusia tidak diimbangi kemampuan mendeteksi dan mengendalikan penularan.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Kesehatan

Ilustrasi. (Dok. Freepik)
Penajam - Black Death menjadi salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah. Wabah pes yang melanda Eropa pada 1347 itu menyebar cepat ke berbagai wilayah dan menewaskan populasi dalam jumlah besar.
Kabar kematian seorang pekerja di lembaga penelitian anti-pes di Irkutsk, Rusia, memunculkan kembali kekhawatiran terhadap penyakit pes. Perempuan tersebut meninggal pada 2 Oktober 2026 setelah mengalami pneumonia berat. Hampir 200 orang dilaporkan ditempatkan dalam pemantauan medis. Otoritas kesehatan Rusia belum memastikan kematian itu disebabkan pes.
Sementara itu, dalam kajian Samuel K Cohn Jr berjudul Epidemiology of the Black Death and Successive Waves of Plague yang diterbitkan jurnal Medical History, wabah pes tiba di Messina, Italia, pada 1347 sebelum menyebar ke sebagian besar Eropa dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Penyebarannya berkaitan erat dengan mobilitas manusia dan jalur perdagangan. Kajian tersebut mencatat Black Death pada periode 1347–1351 bergerak dengan kecepatan sekitar 1,5 hingga 6 kilometer per hari.
Besarnya korban tidak memiliki satu angka pasti. Berbagai kajian sejarah menghasilkan perkiraan berbeda.
Penelitian yang diterbitkan Nature Ecology & Evolution pada 2022 memperkirakan lebih dari 50 persen populasi di sejumlah wilayah Eropa dan Asia Barat meninggal dalam sekitar lima tahun akibat Black Death. Penelitian tersebut menganalisis data dari 261 lokasi di 19 negara Eropa dan menemukan tingkat kematian sangat berbeda antarwilayah.
Black Death kini diketahui berkaitan dengan bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit pes dan ditularkan melalui pinjal yang terinfeksi dari hewan pengerat kepada manusia.
Pada masa Black Death, penyebab penyakit dan mekanisme penularannya belum dipahami. Pengobatan modern juga belum tersedia sehingga wabah sulit dikendalikan ketika masuk ke permukiman.
Catatan sejarah menunjukkan dampaknya tidak sebatas kematian. Berkurangnya populasi dalam skala besar mengguncang aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Eropa.
Pengendalian wabah juga melahirkan praktik yang kini dikenal sebagai karantina. Kota-kota mulai membatasi pergerakan orang dari wilayah terjangkit. Di Ragusa, pelaut dari daerah yang terpapar diwajibkan menjalani isolasi yang kemudian berkembang dari 30 menjadi 40 hari.
Meski telah berabad-abad berlalu, pes belum sepenuhnya hilang. Yersinia pestis masih ditemukan pada populasi hewan di sejumlah wilayah dan penyakit pes tetap menjadi bagian dari kewaspadaan kesehatan.
Menyikapi ancaman pandemi, Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular dan pandemi baru. Dilansir dari laman resmi Kemenkes, 3 September 2026, kesiapsiagaan itu mencakup kemampuan mendeteksi patogen hingga mempercepat pengembangan vaksin.
"Pandemi telah merenggut lebih banyak nyawa daripada perang. Wabah Black Death diperkirakan merenggut sekitar 200 nyawa manusia, melebihi Perang Dunia II. Olehnya itu kita harus berinvestasi dalam kesehatan layaknya pertahanan untuk menyelamatkan nyawa," ucap Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.
Pelajaran dari Black Death menunjukkan penyebaran penyakit dapat bergerak cepat ketika mobilitas manusia tidak diimbangi kemampuan mendeteksi dan mengendalikan penularan.
(Sf/Lo)