Kesehatan
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS PKT Bontang, I Putu Satrya Wijaya saat ditemui. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Kebiasaan minum teh perlu diperhatikan ibu hamil karena kandungan tanin di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi. Jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, ibu hamil berisiko mengalami anemia yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Pupuk Kaltim Bontang, I Putu Satrya Wijaya, mengingatkan pentingnya menjaga pola makan dan memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan untuk mencegah anemia.
“Ibu hamil juga sangat perlu memperhatikan pola hidup, seperti tidak boleh minum teh sejak awal kehamilan karena dapat menghambat penyerapan zat besi, ujungnya bisa jadi anemia,” ujar I Putu saat ditemui beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, kadar hemoglobin perlu dipantau secara berkala untuk mendeteksi anemia. Mengacu pada penjelasan yang disampaikannya berdasarkan standar WHO, kadar hemoglobin pada trimester pertama perlu di atas 12 gram per desiliter (g/dL), sedangkan trimester ketiga di atas 11 g/dL.
“Bidan di faskes 1 atau dokter di faskes 3 dapat memberikan penanganan awal seperti pemberian penambah darah. Namun, jika tidak kunjung ada perbaikan, bisa dirujuk ke faskes tingkat 2 untuk dicari penyebabnya,” jelasnya.
Sementara itu, Administrasi Kesehatan Ahli Muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Kartika, mengingatkan ibu hamil agar rutin memeriksakan kondisi kehamilannya, terutama jika memiliki faktor risiko.
“Jika diberikan edukasi dan informasi oleh bidan, misalnya untuk pemeriksaan kehamilan harus rutin berapa minggu sekali, itu harusnya taat dan tidak ditunda,” katanya.
Kartika juga menyoroti penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko kematian ibu, seperti hipertensi dan diabetes melitus.
“Di tahun ini kasus kematian ibu yang terjadi bukan karena kasus langsung kehamilan, tapi karena adanya penyakit komorbid,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, berdasarkan data Dinkes Bontang, angka kematian ibu tercatat tiga kasus pada 2024, dua kasus pada 2025, dan satu kasus pada 2026. Upaya pencegahan terus dilakukan untuk menekan angka tersebut hingga mencapai nol kasus.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Kesehatan

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS PKT Bontang, I Putu Satrya Wijaya saat ditemui. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)
Bontang - Kebiasaan minum teh perlu diperhatikan ibu hamil karena kandungan tanin di dalamnya dapat menghambat penyerapan zat besi. Jika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, ibu hamil berisiko mengalami anemia yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Pupuk Kaltim Bontang, I Putu Satrya Wijaya, mengingatkan pentingnya menjaga pola makan dan memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan untuk mencegah anemia.
“Ibu hamil juga sangat perlu memperhatikan pola hidup, seperti tidak boleh minum teh sejak awal kehamilan karena dapat menghambat penyerapan zat besi, ujungnya bisa jadi anemia,” ujar I Putu saat ditemui beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, kadar hemoglobin perlu dipantau secara berkala untuk mendeteksi anemia. Mengacu pada penjelasan yang disampaikannya berdasarkan standar WHO, kadar hemoglobin pada trimester pertama perlu di atas 12 gram per desiliter (g/dL), sedangkan trimester ketiga di atas 11 g/dL.
“Bidan di faskes 1 atau dokter di faskes 3 dapat memberikan penanganan awal seperti pemberian penambah darah. Namun, jika tidak kunjung ada perbaikan, bisa dirujuk ke faskes tingkat 2 untuk dicari penyebabnya,” jelasnya.
Sementara itu, Administrasi Kesehatan Ahli Muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, Kartika, mengingatkan ibu hamil agar rutin memeriksakan kondisi kehamilannya, terutama jika memiliki faktor risiko.
“Jika diberikan edukasi dan informasi oleh bidan, misalnya untuk pemeriksaan kehamilan harus rutin berapa minggu sekali, itu harusnya taat dan tidak ditunda,” katanya.
Kartika juga menyoroti penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko kematian ibu, seperti hipertensi dan diabetes melitus.
“Di tahun ini kasus kematian ibu yang terjadi bukan karena kasus langsung kehamilan, tapi karena adanya penyakit komorbid,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, berdasarkan data Dinkes Bontang, angka kematian ibu tercatat tiga kasus pada 2024, dua kasus pada 2025, dan satu kasus pada 2026. Upaya pencegahan terus dilakukan untuk menekan angka tersebut hingga mencapai nol kasus.
(Sf/Lo)