Cari disini...
Kesehatan
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Informasi mengenai pengobatan tuberkulosis (TB) yang disebut dapat dipersingkat menjadi hanya satu bulan mulai menjadi perhatian masyarakat. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa pengobatan TB selama satu bulan belum menjadi standar yang berlaku saat ini.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, @kemenkes_ri, Kemenkes menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan kombinasi obat, dosis maupun formulasi baru yang memungkinkan pengobatan TB secara umum dilakukan hanya dalam waktu satu bulan.
Kemenkes menegaskan, durasi pengobatan TB masih minimal enam bulan, dengan lama terapi disesuaikan berdasarkan jenis TB dan kondisi pasien.
Sementara itu, penelitian untuk menemukan obat atau regimen yang dapat memperpendek masa pengobatan hingga satu bulan masih terus dilakukan.
“Berkaitan dengan obat atau regimen baru yang diharapkan dapat mempersingkat masa pengobatan TB menjadi hanya satu bulan, hingga saat ini masih merupakan inovasi yang sedang melalui proses penelitian dan pengujian klinis,” tulis Kemenkes dalam unggahannya.
Mengapa Belum Bisa Diterapkan?
Kemenkes menjelaskan, perubahan regimen pengobatan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan hasil penelitian awal. Obat atau kombinasi obat baru harus melewati tahapan uji klinis untuk memastikan efektivitas, keamanan, dosis, serta berbagai aspek lainnya.
Karena itu, regimen yang nantinya mampu memangkas pengobatan TB menjadi satu bulan belum dapat digunakan secara luas sebelum seluruh proses penelitian dan pengujian selesai.
Pengembangan terapi dengan durasi lebih pendek dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan mengurangi risiko putus obat.
TB Resistan Obat Sudah Memiliki Regimen 6 Bulan
Meski pengobatan TB satu bulan masih dalam tahap penelitian, Kemenkes menyebut inovasi untuk memperpendek durasi terapi sudah diterapkan pada TB Resistan Obat (TB-RO).
Salah satunya melalui regimen BPaLM, yang memungkinkan sebagian pasien MDR-TB (Multidrug Resistance Tuberculosis) atau RR-TB (Rifampicin Resistance Tuberculosis) menjalani pengobatan selama enam bulan.
Durasi tersebut lebih singkat dibandingkan regimen lama yang dapat berlangsung antara 9 hingga 24 bulan.
Dengan demikian, kabar mengenai pengobatan TB satu bulan bukan berarti pasien TB saat ini sudah dapat menyelesaikan terapi dalam satu bulan. Terapi tersebut masih menjadi bagian dari inovasi yang sedang dikembangkan dan harus melalui pengujian klinis terlebih dahulu.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Kesehatan

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Informasi mengenai pengobatan tuberkulosis (TB) yang disebut dapat dipersingkat menjadi hanya satu bulan mulai menjadi perhatian masyarakat. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa pengobatan TB selama satu bulan belum menjadi standar yang berlaku saat ini.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, @kemenkes_ri, Kemenkes menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan kombinasi obat, dosis maupun formulasi baru yang memungkinkan pengobatan TB secara umum dilakukan hanya dalam waktu satu bulan.
Kemenkes menegaskan, durasi pengobatan TB masih minimal enam bulan, dengan lama terapi disesuaikan berdasarkan jenis TB dan kondisi pasien.
Sementara itu, penelitian untuk menemukan obat atau regimen yang dapat memperpendek masa pengobatan hingga satu bulan masih terus dilakukan.
“Berkaitan dengan obat atau regimen baru yang diharapkan dapat mempersingkat masa pengobatan TB menjadi hanya satu bulan, hingga saat ini masih merupakan inovasi yang sedang melalui proses penelitian dan pengujian klinis,” tulis Kemenkes dalam unggahannya.
Mengapa Belum Bisa Diterapkan?
Kemenkes menjelaskan, perubahan regimen pengobatan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan hasil penelitian awal. Obat atau kombinasi obat baru harus melewati tahapan uji klinis untuk memastikan efektivitas, keamanan, dosis, serta berbagai aspek lainnya.
Karena itu, regimen yang nantinya mampu memangkas pengobatan TB menjadi satu bulan belum dapat digunakan secara luas sebelum seluruh proses penelitian dan pengujian selesai.
Pengembangan terapi dengan durasi lebih pendek dilakukan dengan harapan dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan mengurangi risiko putus obat.
TB Resistan Obat Sudah Memiliki Regimen 6 Bulan
Meski pengobatan TB satu bulan masih dalam tahap penelitian, Kemenkes menyebut inovasi untuk memperpendek durasi terapi sudah diterapkan pada TB Resistan Obat (TB-RO).
Salah satunya melalui regimen BPaLM, yang memungkinkan sebagian pasien MDR-TB (Multidrug Resistance Tuberculosis) atau RR-TB (Rifampicin Resistance Tuberculosis) menjalani pengobatan selama enam bulan.
Durasi tersebut lebih singkat dibandingkan regimen lama yang dapat berlangsung antara 9 hingga 24 bulan.
Dengan demikian, kabar mengenai pengobatan TB satu bulan bukan berarti pasien TB saat ini sudah dapat menyelesaikan terapi dalam satu bulan. Terapi tersebut masih menjadi bagian dari inovasi yang sedang dikembangkan dan harus melalui pengujian klinis terlebih dahulu.
(Sf/Rs)