Cari disini...
Kesehatan
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Anak yang sulit berkonsentrasi, memiliki aktivitas berlebihan atau mengalami kesulitan membaca dan mengeja kerap dianggap malas hingga dicap nakal. Padahal, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan kondisi perkembangan saraf, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia.
Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan AyoSehat Kemenkes, Rabu (14/10/2026).
Dalam unggahannya, Kemenkes menjelaskan bahwa ADHD dan disleksia merupakan kondisi perkembangan saraf yang membuat individu memproses informasi dan lingkungan dengan cara yang berbeda.
ADHD merupakan kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, serta mengatur aktivitas. Anak dengan ADHD dapat mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasi, mudah terdistraksi, bertindak impulsif atau menunjukkan aktivitas yang berlebihan.
Sementara itu, disleksia merupakan kesulitan belajar spesifik yang terutama memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja. Anak dengan disleksia dapat mengalami kesulitan mengenali kata, menghubungkan huruf dengan bunyinya, serta membaca secara akurat dan lancar.
Meski demikian, disleksia tidak berkaitan langsung dengan rendahnya tingkat kecerdasan. Anak yang mengalaminya tetap memiliki potensi untuk berkembang dan berprestasi, meskipun membutuhkan pendekatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
*ADHD dan Disleksia Memiliki Karakteristik Berbeda*
ADHD dan disleksia merupakan dua kondisi yang berbeda. ADHD terutama berkaitan dengan perhatian, pengendalian impuls dan pengaturan aktivitas. Sementara itu, disleksia terutama memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja.
Keduanya juga dapat terjadi bersamaan pada anak yang sama. Karena itu, pemahaman mengenai karakteristik masing-masing kondisi penting agar anak memperoleh dukungan yang tepat.
Kesulitan belajar atau perilaku tertentu tidak seharusnya langsung dijadikan alasan untuk memberikan label negatif kepada anak. Anak yang mengalami hambatan dalam mengikuti pelajaran, misalnya, belum tentu malas atau tidak mau berusaha.
Melalui unggahan tersebut, Kemenkes mengingatkan bahwa anak yang memiliki cara belajar berbeda bukan berarti tidak mampu berprestasi. Mereka membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
*Orang Tua dan Guru Berperan dalam Mendukung Anak*
Kemenkes mengajak orang tua dan guru menciptakan lingkungan yang aman, suportif, serta sesuai dengan kebutuhan anak.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memvalidasi perasaan anak dengan mendengarkan keluhan mereka ketika mengalami kesulitan. Anak perlu merasa dipahami, bukan dihakimi.
Selain itu, orang tua dan guru dianjurkan menghindari pelabelan seperti malas atau nakal. Memahami kebutuhan anak menjadi langkah penting sebelum menilai perilakunya.
Kemenkes juga menyarankan agar orang tua dan guru memberikan apresiasi terhadap usaha dan proses belajar anak, bukan hanya hasil akhirnya.
Anak juga perlu diberi kesempatan untuk bergerak atau beristirahat sejenak di sela kegiatan belajar. Sementara itu, rutinitas yang jelas dan konsisten dapat membantu mereka mengikuti aktivitas sehari-hari.
Dalam unggahan tersebut, Kemenkes menyampaikan pesan, “Dengarkan suaranya, pahami keunikannya, hadirkan perubahan.”
Pesan ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk lebih memahami kebutuhan anak dan membangun lingkungan inklusif yang memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berkembang.
Meski demikian, anak yang sulit berkonsentrasi, aktif atau mengalami kesulitan membaca tidak serta-merta mengalami ADHD atau disleksia. Penentuan kondisi tersebut memerlukan penilaian oleh tenaga profesional yang kompeten.
Dengan mengenali karakteristik ADHD dan disleksia sejak dini, orang tua dan guru diharapkan dapat memberikan dukungan yang sesuai agar anak mampu belajar, berkembang dan meraih prestasi sesuai potensinya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Kesehatan

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Anak yang sulit berkonsentrasi, memiliki aktivitas berlebihan atau mengalami kesulitan membaca dan mengeja kerap dianggap malas hingga dicap nakal. Padahal, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan kondisi perkembangan saraf, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia.
Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun Instagram Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan AyoSehat Kemenkes, Rabu (14/10/2026).
Dalam unggahannya, Kemenkes menjelaskan bahwa ADHD dan disleksia merupakan kondisi perkembangan saraf yang membuat individu memproses informasi dan lingkungan dengan cara yang berbeda.
ADHD merupakan kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, serta mengatur aktivitas. Anak dengan ADHD dapat mengalami kesulitan mempertahankan konsentrasi, mudah terdistraksi, bertindak impulsif atau menunjukkan aktivitas yang berlebihan.
Sementara itu, disleksia merupakan kesulitan belajar spesifik yang terutama memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja. Anak dengan disleksia dapat mengalami kesulitan mengenali kata, menghubungkan huruf dengan bunyinya, serta membaca secara akurat dan lancar.
Meski demikian, disleksia tidak berkaitan langsung dengan rendahnya tingkat kecerdasan. Anak yang mengalaminya tetap memiliki potensi untuk berkembang dan berprestasi, meskipun membutuhkan pendekatan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
*ADHD dan Disleksia Memiliki Karakteristik Berbeda*
ADHD dan disleksia merupakan dua kondisi yang berbeda. ADHD terutama berkaitan dengan perhatian, pengendalian impuls dan pengaturan aktivitas. Sementara itu, disleksia terutama memengaruhi kemampuan membaca dan mengeja.
Keduanya juga dapat terjadi bersamaan pada anak yang sama. Karena itu, pemahaman mengenai karakteristik masing-masing kondisi penting agar anak memperoleh dukungan yang tepat.
Kesulitan belajar atau perilaku tertentu tidak seharusnya langsung dijadikan alasan untuk memberikan label negatif kepada anak. Anak yang mengalami hambatan dalam mengikuti pelajaran, misalnya, belum tentu malas atau tidak mau berusaha.
Melalui unggahan tersebut, Kemenkes mengingatkan bahwa anak yang memiliki cara belajar berbeda bukan berarti tidak mampu berprestasi. Mereka membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
*Orang Tua dan Guru Berperan dalam Mendukung Anak*
Kemenkes mengajak orang tua dan guru menciptakan lingkungan yang aman, suportif, serta sesuai dengan kebutuhan anak.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memvalidasi perasaan anak dengan mendengarkan keluhan mereka ketika mengalami kesulitan. Anak perlu merasa dipahami, bukan dihakimi.
Selain itu, orang tua dan guru dianjurkan menghindari pelabelan seperti malas atau nakal. Memahami kebutuhan anak menjadi langkah penting sebelum menilai perilakunya.
Kemenkes juga menyarankan agar orang tua dan guru memberikan apresiasi terhadap usaha dan proses belajar anak, bukan hanya hasil akhirnya.
Anak juga perlu diberi kesempatan untuk bergerak atau beristirahat sejenak di sela kegiatan belajar. Sementara itu, rutinitas yang jelas dan konsisten dapat membantu mereka mengikuti aktivitas sehari-hari.
Dalam unggahan tersebut, Kemenkes menyampaikan pesan, “Dengarkan suaranya, pahami keunikannya, hadirkan perubahan.”
Pesan ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk lebih memahami kebutuhan anak dan membangun lingkungan inklusif yang memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berkembang.
Meski demikian, anak yang sulit berkonsentrasi, aktif atau mengalami kesulitan membaca tidak serta-merta mengalami ADHD atau disleksia. Penentuan kondisi tersebut memerlukan penilaian oleh tenaga profesional yang kompeten.
Dengan mengenali karakteristik ADHD dan disleksia sejak dini, orang tua dan guru diharapkan dapat memberikan dukungan yang sesuai agar anak mampu belajar, berkembang dan meraih prestasi sesuai potensinya.
(Sf/Lo)