Figur

    Tak Pernah Terpublish, Ini Siswi Samarinda Yang Menang Bedah APBD dari Kemenkeu RI 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Februari 2024 pukul 10:14 WITA

    Ni Ayu Putu Gayatri Maheswari, Siswi SMA Negeri 10 Samarinda. (Foto: Istimewa - Ni Ayu Putu Gayatri Maheswari untuk Seputarfakta.com).

    TAK pernah terlintas sebelumnya di benak Ayu, ia akan punya kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia. Gadis  kelahiran Samarinda, 13 Oktober 2006 ini, sejak kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) berada di kota berjuluk Tepian. Kota yang walaupun secara administratif merupakan ibu kota provinsi, namun relatif jauh dari jangkauan nama-nama besar seperti Menteri Keuangan. 

    Karenanya, kesempatan untuk mengikuti lomba Bedah APBD Tahun 2023 yang diselenggarakan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, tak disia-siakan dara yang punya nama lengkap  Ni Ayu Putu Gayatri Maheswari tersebut. 

    Kerja kerasnya, bersama rekan satu tim dari SMA Negeri 10 Samarinda, berbuah manis. Ia berhasil meraih podium pertama lomba tersebut. Terang saja, ini adalah capaian yang tidak kecil bagi remaja yang memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) itu. 

    Mulanya, gadis berzodiak libra ini mengaku  punya ketakutan setiap kali hendak ikut kompetisi. Dalam benaknya, memutuskan berkompetisi maka harus menang. Sayangnya, alih-alih jadi motivasi, hal itu justru jadi momok tersendiri bagi Ayu.

    “Dulu pas SD, SMP, lomba itu menurutku jadi momok yang menyeramkan, di mindset aku tertanam harus menang, dan ngejar hadiahnya, atau validasi dari orang. Jadi kalau kalah aku jadi down dan ga mau ikut lomba sama sekali,” kenang Ayu, saat menceritakan masa kecilnya kepada Seputar Fakta, belum lama ini.

    SMA Negeri 10 Samarinda, jadi tempat yang dipilih Ayu sebagai titik balik pola pikirnya, tentang lomba itu tidak harus menang. Jiwa kompetitifnya mulai muncul di awal SMA. Jadi juara kelas mungkin sebagian kecil berangkat dari pola pikirnya yang baru. “Di SMA jadi titik balik aku, karena aku ngerasa dapat ekosistem belajar yang oke, dan lingkungan yang lebih suportif,” ungkap Ayu.

    Pengalaman yang sarat dilalui menimbulkan pemikiran baru bahwa lomba itu bukan sekadar kompetisi tapi juga jadi proses untuk evaluasi diri. “Dulu aku kelas 10 dan 11 masih suka kalah. Sampai mungkin akhir kelas 11 aku udah mulai bisa menang,” terangnya.

    Ayu adalah anak yang penuh perencanaan,  sangat terorganisir. Sehari sebelumnya ia akan membuat daftar hal apa saja yang akan dilakukan. Kalau bahasa kerennya itu "to do list". Menurutnya akan sangat membuang waktu jika menjalani hari yang sangat apa adanya. Kebiasaan ini mulai dilakukan saat SMA. 

    Gadis keturunan Bali ini, sejak SMA sangat menyukai bidang ekonomi. Dari sekian banyak bidang, yang disebutnya hanya ekonomi dan ekonomi.

    Kalau gadis seusianya mengidolakan artis tampan dan menawan, lain dengannya. Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani lah yang jadi idolanya. Ayu bercerita, betapa ia sangat senang dan terharunya saat diberi kesempatan bertemu dengan Menkeu RI saat menang lomba Bedah APBD itu. 

    Tak heran, jika kelak ia akan mengambil jurusan ekonomi di pendidikan tingkat tingginya. "Ya interestnya tinggi aja di bidang ekonomi dari yang lainnya" tuturnya. 

    Ditanya soal cita-cita, secara spesifik ia belum bisa menyebutkan. Namun, saat dibilang jadi Menkeu ia hanya bisa mengaminkan. 

    Berdamai dengan diri sendiri jadi poin penting baginya. Pernah gagal dalam lomba yang sudah diidam-idamkan dengan persiapan yang matang mengarahkannya pada pemikiran bahwa, ada banyak faktor lain yang bisa terjadi di luar kendalinya. Sebagai manusia ia berusaha se-maksimal mungkin, apa yang bisa diupayakan akan dilakukan, setelahnya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan sebagai pemilik alam semesta. 

    Agaknya, kalimat hasil tak menghianati usaha sangat pas untuknya. Belajar lebih dari delapan jam berhasil membawanya ke kancah nasional. Bukan perkara mudah memang, ia pun mengaku kuwalahan dalam membagi waktu dan menjaga kewarasan diri agar tetap fit. Untungnya, dukungan lingkungan sekitar, terutama keluarga sepenuhnya ia miliki. 

    Kini, dengan hobi belajarnya itu Ayu tengah bersiap mengejar ambisi lainnya. Ia berharap, dengan kemenangan lomba tingkat nasional ini dapat membawanya masuk ke Perguruan Tinggi impian, Universitas Gajah Mada. “Jangan ragu untuk eksplorasi banyak hal, ga perlu terpatri dengan omongan orang lain yang memandang bidang-bidang tertentu lebih unggul, karena kita bisa berprestasi dari hal yang kita suka,” pesannya.

    (Sf/Rs)

    Figur

    Tak Pernah Terpublish, Ini Siswi Samarinda Yang Menang Bedah APBD dari Kemenkeu RI 

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Februari 2024 pukul 10:14 WITA

    Ni Ayu Putu Gayatri Maheswari, Siswi SMA Negeri 10 Samarinda. (Foto: Istimewa - Ni Ayu Putu Gayatri Maheswari untuk Seputarfakta.com).

    TAK pernah terlintas sebelumnya di benak Ayu, ia akan punya kesempatan bertemu dan berdiskusi dengan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia. Gadis  kelahiran Samarinda, 13 Oktober 2006 ini, sejak kecil hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) berada di kota berjuluk Tepian. Kota yang walaupun secara administratif merupakan ibu kota provinsi, namun relatif jauh dari jangkauan nama-nama besar seperti Menteri Keuangan. 

    Karenanya, kesempatan untuk mengikuti lomba Bedah APBD Tahun 2023 yang diselenggarakan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, tak disia-siakan dara yang punya nama lengkap  Ni Ayu Putu Gayatri Maheswari tersebut. 

    Kerja kerasnya, bersama rekan satu tim dari SMA Negeri 10 Samarinda, berbuah manis. Ia berhasil meraih podium pertama lomba tersebut. Terang saja, ini adalah capaian yang tidak kecil bagi remaja yang memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) itu. 

    Mulanya, gadis berzodiak libra ini mengaku  punya ketakutan setiap kali hendak ikut kompetisi. Dalam benaknya, memutuskan berkompetisi maka harus menang. Sayangnya, alih-alih jadi motivasi, hal itu justru jadi momok tersendiri bagi Ayu.

    “Dulu pas SD, SMP, lomba itu menurutku jadi momok yang menyeramkan, di mindset aku tertanam harus menang, dan ngejar hadiahnya, atau validasi dari orang. Jadi kalau kalah aku jadi down dan ga mau ikut lomba sama sekali,” kenang Ayu, saat menceritakan masa kecilnya kepada Seputar Fakta, belum lama ini.

    SMA Negeri 10 Samarinda, jadi tempat yang dipilih Ayu sebagai titik balik pola pikirnya, tentang lomba itu tidak harus menang. Jiwa kompetitifnya mulai muncul di awal SMA. Jadi juara kelas mungkin sebagian kecil berangkat dari pola pikirnya yang baru. “Di SMA jadi titik balik aku, karena aku ngerasa dapat ekosistem belajar yang oke, dan lingkungan yang lebih suportif,” ungkap Ayu.

    Pengalaman yang sarat dilalui menimbulkan pemikiran baru bahwa lomba itu bukan sekadar kompetisi tapi juga jadi proses untuk evaluasi diri. “Dulu aku kelas 10 dan 11 masih suka kalah. Sampai mungkin akhir kelas 11 aku udah mulai bisa menang,” terangnya.

    Ayu adalah anak yang penuh perencanaan,  sangat terorganisir. Sehari sebelumnya ia akan membuat daftar hal apa saja yang akan dilakukan. Kalau bahasa kerennya itu "to do list". Menurutnya akan sangat membuang waktu jika menjalani hari yang sangat apa adanya. Kebiasaan ini mulai dilakukan saat SMA. 

    Gadis keturunan Bali ini, sejak SMA sangat menyukai bidang ekonomi. Dari sekian banyak bidang, yang disebutnya hanya ekonomi dan ekonomi.

    Kalau gadis seusianya mengidolakan artis tampan dan menawan, lain dengannya. Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani lah yang jadi idolanya. Ayu bercerita, betapa ia sangat senang dan terharunya saat diberi kesempatan bertemu dengan Menkeu RI saat menang lomba Bedah APBD itu. 

    Tak heran, jika kelak ia akan mengambil jurusan ekonomi di pendidikan tingkat tingginya. "Ya interestnya tinggi aja di bidang ekonomi dari yang lainnya" tuturnya. 

    Ditanya soal cita-cita, secara spesifik ia belum bisa menyebutkan. Namun, saat dibilang jadi Menkeu ia hanya bisa mengaminkan. 

    Berdamai dengan diri sendiri jadi poin penting baginya. Pernah gagal dalam lomba yang sudah diidam-idamkan dengan persiapan yang matang mengarahkannya pada pemikiran bahwa, ada banyak faktor lain yang bisa terjadi di luar kendalinya. Sebagai manusia ia berusaha se-maksimal mungkin, apa yang bisa diupayakan akan dilakukan, setelahnya hanya bisa memasrahkan kepada Tuhan sebagai pemilik alam semesta. 

    Agaknya, kalimat hasil tak menghianati usaha sangat pas untuknya. Belajar lebih dari delapan jam berhasil membawanya ke kancah nasional. Bukan perkara mudah memang, ia pun mengaku kuwalahan dalam membagi waktu dan menjaga kewarasan diri agar tetap fit. Untungnya, dukungan lingkungan sekitar, terutama keluarga sepenuhnya ia miliki. 

    Kini, dengan hobi belajarnya itu Ayu tengah bersiap mengejar ambisi lainnya. Ia berharap, dengan kemenangan lomba tingkat nasional ini dapat membawanya masuk ke Perguruan Tinggi impian, Universitas Gajah Mada. “Jangan ragu untuk eksplorasi banyak hal, ga perlu terpatri dengan omongan orang lain yang memandang bidang-bidang tertentu lebih unggul, karena kita bisa berprestasi dari hal yang kita suka,” pesannya.

    (Sf/Rs)