Cari disini...
Figur
Widyaiswara Ahli Utama Pemprov Kaltim, Sugeng Chairuddin. (Foto: Dokumentasi pribadi Sugeng Chairuddin untuk Seputarfakta.com)
NAMA Sugeng Chairuddin tentu tidak asing bagi masyarakat Kaltim, khususnya Kota Samarinda.
Pria 58 tahun kelahiran Malang ini adalah mantan Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda dan kini menjadi Pejabat Fungsional Widyaiswara Ahli Utama Lingkungan Pemprov Kaltim berdasarkan SK Presiden RI Joko Widodo Nomor 28/M tahun 2022.
Dengan prestasi gemilang sebagai abdi negara ini, siapa sangka Sugeng awalnya tidak pernah berminat mengabdi sebagai ASN. Cita-cita awalnya ternyata sangat sederhana, yakni menjadi petani.
Ia awalnya mengikuti seleksi dan diterima di Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul).
Tapi takdir ternyata berkata lain, ia bergabung dengan program sekolah gratis di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) secara tidak direncanakan dan itu gratis.
Sugeng terinspirasi oleh istri pertamanya yang berhasil lulus dari program tersebut. “Dalam perjalanan saya termasuk tidak mampu 'kan, jadi ada sekolah gratis itu (IPDN). Dulunya istri saya yang pertama ikut itu dan saya menemani pas waktu masih pacaran kan, ternyata dia lulus. Akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan dan orang tua juga merekomendasikan saya masuk ke IPDN,” jelas Sugeng pada seputarfakta.com, Kamis (7/3/2024).
Masuk di IPDN membuat Sugeng berpikir akan menjadi lurah, sehingga mendorongnya untuk menikahi sang kekasih. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tiga anak. Anak-anaknya kini mengejar karier masing-masing, salah satunya menjadi dokter dan membuka praktik sendiri.
“Karena 'kan IPDN itu di pikiran saya jadi lurah. Kalau lurah 'kan artinya harus ada Bu Lurah, makanya saya menikah,” selorohnya.
Di usianya yang tak lagi muda, Sugeng membagi waktu antara karier di pemerintahan dan kegiatan akademis. Selama lima tahun, dirinya menjadi dosen di Fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi di Samarinda.
Bahkan ketika menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Sugeng tetap aktif dalam dunia pendidikan sampai sekarang.
Selain pekerjaan, hobi Sugeng adalah jalan-jalan, terutama wisata alam. Ketertarikannya pada mendaki gunung masih berlanjut dan baru saja kembali dari pendakian Gunung Rinjani. “Bulan Mei nanti saya akan ke Gunung Kerinci,” ujarnya.
Perjalanan karier Sugeng dalam pemerintahan dimulai dari posisi staf kelurahan hingga mencapai jabatan sebagai pejabat Widyaiswara Pemerintah Provinsi Kaltim.
Ia menikmati setiap fase pekerjaannya dan merasa senang dapat membantu serta memberi pelayanan kepada masyarakat.
Sugeng memiliki semangat hidup yang tinggi, didorong oleh rasa syukur atas setiap aspek dalam hidupnya. Dalam menjalani hari-hari, tetap mempertahankan semangatnya dengan mensyukuri setiap momen yang ada.
“Saya dulu tidak terpikirkan mau jadi apa, jadi hidup saya mengalir begitu saja. Tapi waktu SMA saya punya motto hidup, ‘rela menerangi kegelapan’, kurang lebih hidup seperti lilin,” ungkapnya.
Ke depan, Sugeng merencanakan untuk terus mengajar dengan baik dan menulis buku setiap tahunnya, dengan target minimal dua jurnal dan satu buku.
Ia juga mencurahkan waktu untuk olahraga ringan, seperti jalan santai, serta menikmati film yang mengisahkan kerajaan dan perjuangan.
Dengan kehidupan yang dinamis dan penuh pencapaian, Sugeng Chairuddin tetap berupaya rendah hati dan berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan dunia pendidikan, terkhusus di wilayah Benua Etam.
(sf/by)
Cari disini...
Figur

Widyaiswara Ahli Utama Pemprov Kaltim, Sugeng Chairuddin. (Foto: Dokumentasi pribadi Sugeng Chairuddin untuk Seputarfakta.com)
NAMA Sugeng Chairuddin tentu tidak asing bagi masyarakat Kaltim, khususnya Kota Samarinda.
Pria 58 tahun kelahiran Malang ini adalah mantan Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda dan kini menjadi Pejabat Fungsional Widyaiswara Ahli Utama Lingkungan Pemprov Kaltim berdasarkan SK Presiden RI Joko Widodo Nomor 28/M tahun 2022.
Dengan prestasi gemilang sebagai abdi negara ini, siapa sangka Sugeng awalnya tidak pernah berminat mengabdi sebagai ASN. Cita-cita awalnya ternyata sangat sederhana, yakni menjadi petani.
Ia awalnya mengikuti seleksi dan diterima di Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul).
Tapi takdir ternyata berkata lain, ia bergabung dengan program sekolah gratis di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) secara tidak direncanakan dan itu gratis.
Sugeng terinspirasi oleh istri pertamanya yang berhasil lulus dari program tersebut. “Dalam perjalanan saya termasuk tidak mampu 'kan, jadi ada sekolah gratis itu (IPDN). Dulunya istri saya yang pertama ikut itu dan saya menemani pas waktu masih pacaran kan, ternyata dia lulus. Akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan dan orang tua juga merekomendasikan saya masuk ke IPDN,” jelas Sugeng pada seputarfakta.com, Kamis (7/3/2024).
Masuk di IPDN membuat Sugeng berpikir akan menjadi lurah, sehingga mendorongnya untuk menikahi sang kekasih. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai tiga anak. Anak-anaknya kini mengejar karier masing-masing, salah satunya menjadi dokter dan membuka praktik sendiri.
“Karena 'kan IPDN itu di pikiran saya jadi lurah. Kalau lurah 'kan artinya harus ada Bu Lurah, makanya saya menikah,” selorohnya.
Di usianya yang tak lagi muda, Sugeng membagi waktu antara karier di pemerintahan dan kegiatan akademis. Selama lima tahun, dirinya menjadi dosen di Fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi di Samarinda.
Bahkan ketika menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Sugeng tetap aktif dalam dunia pendidikan sampai sekarang.
Selain pekerjaan, hobi Sugeng adalah jalan-jalan, terutama wisata alam. Ketertarikannya pada mendaki gunung masih berlanjut dan baru saja kembali dari pendakian Gunung Rinjani. “Bulan Mei nanti saya akan ke Gunung Kerinci,” ujarnya.
Perjalanan karier Sugeng dalam pemerintahan dimulai dari posisi staf kelurahan hingga mencapai jabatan sebagai pejabat Widyaiswara Pemerintah Provinsi Kaltim.
Ia menikmati setiap fase pekerjaannya dan merasa senang dapat membantu serta memberi pelayanan kepada masyarakat.
Sugeng memiliki semangat hidup yang tinggi, didorong oleh rasa syukur atas setiap aspek dalam hidupnya. Dalam menjalani hari-hari, tetap mempertahankan semangatnya dengan mensyukuri setiap momen yang ada.
“Saya dulu tidak terpikirkan mau jadi apa, jadi hidup saya mengalir begitu saja. Tapi waktu SMA saya punya motto hidup, ‘rela menerangi kegelapan’, kurang lebih hidup seperti lilin,” ungkapnya.
Ke depan, Sugeng merencanakan untuk terus mengajar dengan baik dan menulis buku setiap tahunnya, dengan target minimal dua jurnal dan satu buku.
Ia juga mencurahkan waktu untuk olahraga ringan, seperti jalan santai, serta menikmati film yang mengisahkan kerajaan dan perjuangan.
Dengan kehidupan yang dinamis dan penuh pencapaian, Sugeng Chairuddin tetap berupaya rendah hati dan berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan dunia pendidikan, terkhusus di wilayah Benua Etam.
(sf/by)