Sosok Silvi Vidiarti, Jadikan Batik Bisa Bercerita

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Figur

    14 November 2023 01:46 WIB

    Owner LKP Atiiqna Smart, Silvi Vidiarti. (Foto: HO/Silvi)

    Salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui dunia, Batik, memiliki nilai estetika dan sejarah yang sangat tinggi. Namun, tidak semua orang mengenal dan menghargai batik sebagai karya seni. Ada juga yang hanya melihat batik sebagai barang dagangan atau hiasan rumah saja. Namun, tidak demikian dengan  Silvi Vidiarti. Sosok yang dengan goresan malamnya membuat batik seolah-olah bercerita. Yang lebih khas lagi, Silvi menuangkan dalam karya batiknya, dengan menceritakan tema tentang seluk beluk Kalimantan Timur.

    Untuk mendapatkan jati diri gambaran batik seperti itu, perjalanan panjang ditapaki oleh ibu dari tiga anak ini. Ia perlu waktu belasan tahun. Bahkan, Vivi panggilan akrabnya telah melakukan safari karir yang begitu panjang hingga sampai pada titik ini. 

    Minat batik itu tak ia dapatkan ketika ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Widya Cipta Dharma (STMIK WICIDA) pada tahun 1991. Apalagi setelah lulus, ia bahkan bekerja pada salah satu perusahaan kontraktor dan ditempatkan di bagian keuangan yang notabenenya jauh dari kegiatan seni. Dengan pengalaman seabrek itu, ia tak menyesalkan sama sekali.

    "Itu bagian dari investasi ilmu buat saya, pelajaran di perusahaan tersebut dengan ditempatkan di bidang yang belum saya kuasain ini sebagai bekal untuk masa depan," ungkap wanita yang lahir pada 28 September 1972 ini.

    Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, inilah kalimat yang cocok disematkan kepada Vivi. Pasalnya, di sela-sela padatnya ia bekerja, rupanya ia mengintip sang ibu. Sebagai Pengurus PKK dengan bermacam-macam kegiatan, pameran batik pun pernah terlaksana. Terlebih kegiatan rutinnya Dharma Wanita kala itu, belajar-mengajar batik, yang membuat dirinya secara tidak langsung dapat mengetahui cara membuat batik. Didukung pula ibunya memiliki kompor yang masih menggunakan minyak tanah.

    "Hanya melihat dan coba-coba main seperti itu, tak tahunya sampai sekarang saya melakukannya," imbuhnya.

    Tepat pada 2 Oktober 2009 sebagai momentum bersejarah bagi warga Indonesia yang merasakan hari batik nasional, karena pada tanggal itu, Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) oleh UNESCO. Setahun setelahnya, Vivi mengakhiri karirnya sebagai karyawan di perusahaan kontraktor, dan mulai menekuni batik.

    Tak semulus bayangannya, batik ini menjadi opsi terakhir setelah banyaknya usaha yang dibuka bersama suaminya sejak tahun 2000. Namun, dari usaha pertamanya itu lah menjadikan LKP Atiiqna Smart ini berdiri hingga besar di seluruh kalangan pecinta batik di Kalimantan Timur.


    Awal Mula LKP Atiiqna

    Vivi bersama suaminya memulai usaha dengan membentuk lembaga kursus dan pelatihan (LKP) Komputer di bawah izin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda yang terletak di Jalan Pramuka, dengan nama Kamil Kom. Nama usaha ini diambil dari nama anaknya yang pertama, Muhammad Kamil Maulidhanie. 

    Dikepung dengan berbagai institusi pendidikan, usaha ini sempat eksis, hingga merambah ke kelas Baca Tulis Hitung (Calistung) atau bimbel untuk anak-anak. Dengan sentuhan dan rangkulan, Vivi pun berhasil menggandeng mahasiswa untuk dapat juga mengajar di tempat bimbel yang ia buat. Ibu-ibu sekitar pun turut mengajar kala itu.

    Vivi memiliki jiwa pemimpin yang kreatif dan inovatif, sehingga ia mengembangkan itu dengan mengajak ibu-ibu tersebut berkarya atau membuat beberapa keterampilan. Ia tularkan ilmu itu kepada ibu-ibu, dan terbentuklah hantaran. Setelah itu, dengan membawa nama Hantaran ini, mereka mendapatkan binaan dari DIsdikbud, dengan mudah mendapatkan sertifikasinya dan kompetensinya di instruktur.

    Hasil dari itu, yang membuat kelompok ini terus berlanjut, selalu menghadirkan kemenangan pada ajang lomba apapun. Sehingga mereka membuat komunitas. Dalam komunitas itu, ia sering mengikuti segala pameran, yang ia bawa saat itu, ada hasil rajutan, sulaman, sulam tumpar, dan ecobrick. Setelah banyaknya pameran dilalui, tercetuslah batik yang menjadi unggulan dalam komunitas ini.

    "Kenapa Batik? karena kemarin beberapa kali saya lomba-lomba itu kan selalu membawa kearifan lokal membawa baju yang kita tampilkan kita pada saat presentasi tampil dengan baju daerah. Nah sementara kadang kita pakai baju itu kan baju biasa nih, yang lain-lain sudah pakai batik. Batik ciri khas yang kayak bawa itu kayaknya Kaltim semua, sedangkan identik dari Samarinda belum ada, dimulai dari situ keinginan kami untuk menciptakan itu," jelasnya.

    Semenjak itulah, Vivi disini mengambil peluang itu, untuk menekuni dunia batik. Semenjak saat itu, mulai berani mengambil langkah untuk belajar batik di jogjakarta pada 2017 sembari mereka mengikuti pameran yang diadakan saat itu di Kota pelajar tersebut. Pembelajaran yang diambil, disini langsung diterapkan, mulai fokus untuk mencari motif yang sesuai namun berbeda dari yang lain.

    Vivi yang berasal dari kawasan yang memiliki kekentalan budaya Kota Samarinda, yakni di Samarinda Seberang, tepatnya di Kampung Baqa. Daerah tersebut membuat dirinya ingin membuat tentang batik itu. Karena selama ini dia mencari keunikannya di Kaltim itu apa.

    Semenjak menemukan jati diri itu, seiring berkembangnya waktu, mulai dikenal batik yang khas dari buah karya dari Vivi dan teman-teman lainnya. Sehingga dari sini cita-cita besar tercipta. Untuk menyebarkan ini, Vivi akhirnya membentuk LKP Atiiqna Smart ini, nama itu diambil dari anak perempuannya yang kedua bernama Nur Azizah Baitul Atiq.

    Semangat lainnya tercipta, setelah LKP ini mendapat perhatian dari Bank Indonesia melalui Mini Bank University, untuk membina kelompok ini agar adanya keberlanjutan dan kemajuan. Peningkatan itu dilihat dari segi omset, ilmu dan lainnya.

    "Alhamdulillah selalu meningkat, sampai saat ini, tentu binaan ini sangat berarti bagi kami, sehingga kami terus menggali karya terbaik," ujar Vivi.

    Dari terbentuknya LKP ini, Vivi selalu mendapatkan prestasi - prestasi gemilang. Selalu mendapatkan juara satu menjadi instruktur di Samarinda, bahkan tingkat nasional Vivi meraih juara ke-5 se-Indonesia. Selain itu, pengalamannya paling besar dapat berkolaborasi dan menggambar batik dengan Tema Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara baru-baru ini yang fenomenal.


    Batik Baqa ini Bercerita

    Motif buah baqa, buah bolok, Pohon sukun dan daun ulin menjadi karya yang membuka pintu gerbang Vivi melanjutkan karirnya di dunia batik. Inspirasi tanah kelahirannya ini diabadikannya melalui karya batiknya itu. Buah baqa adalah nama dari suatu kampung halaman keluarganya di Samarinda Seberang, sebuah daerah tertua di Samarinda dan juga cikal bakal berdirinya Kota Samarinda di zaman Kesultanan Kutai. 

    Buah baqa memiliki daging buah berwarna putih dan empuk serta manis saat matang. Masing-masingnya menghadirkan asal usul yang menarik. Kala itu, pohon Baqa dan pohon Sukun berjejer di bantaran sungai Mahakam. Banyaknya itu memiliki makna dan harapan untuk kemakmuran masyarakat sekitar, serta memiliki manfaat yang banyak.

    Gambar-gambar buah itu, terealisasi dalam kain putih yang dimiliki Vivi dan digambarkannya daun, akar, dan batang semua dijadikan motif. 

    "Nah, ternyata setelah jadi motif kita cetuskan didalam kain bagus juga gitu. Banyak yang tanya ini apa? Nah, saya selalu bercerita. Makanya motif kita penuh dengan cerita, jadi setiap motif-motif itu kita punya cerita, dibalik itu ada filosofi," bebernya.

    Selain motif-motif tersebut, Atiqna Batik juga membuat ikon-ikon lain seperti pesut atau lembuswana (ikon Kaltim), lampu dubai (ikon Samarinda), masjid tua Sirathal Mustaqiem (ikon Samarinda), kampung warna-warni (ikon Samarinda), cagar budaya Rumah Tua (ikon Samarinda), dan lain-lain³. Motif-motif ini dipilih karena mencerminkan kekayaan budaya dan keindahan alam Samarinda.

    "Kami berusaha membuat dan mencari ide batik kearifan lokal, yang mencerminkan ciri untuk batik. Selama ini comtohnya di Samarinda yang tenar dan khad kan ada sarung Samarinda. Kami menemukan semacam lampu dubai di Taman Samarendah dan kami bisa buat motifnya. Adapula kampung baqa berupa bayik motif daun baqa dikombinasi buah bolok," tutur Silvi Vidiarti.

    Atiqna Batik tidak hanya menjual produk-produknya secara online melalui media sosial atau marketplace, tetapi juga menerima kunjungan maupun pelatihan dari orang-orang yang tertarik belajar membatik. Silvi Vidiarti mengatakan bahwa ia ingin melestarikan nama kampung halamannya dengan menuangkannya dalam motif batik.

    "Saya ingin membuat orang-orang lebih mengenal dan mencintai batik sebagai warisan budaya kita. Saya juga ingin memberikan peluang bagi orang-orang muda untuk belajar membatik agar mereka bisa mengembangkan potensi diri mereka," pungkas Silvi Vidiarti.

    Dari keseluruhan motif yang ada, dari tahun 2019 beberapa karyanya telah diberikan hak cipta. Bahkan karya-karya lainnya seperti yupa prasasti itu pun mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Itu tak luput pula dari bantuannya Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim dan Diskominfo Kaltim.

    Dengan berdirinya LKP ini, Vivi berharap untuk kedepan terus dapat mensosialisasikan dan ia mengingkan selalu ada kebersamaan setelahnya ketika mulai ramai yang telah membatik. Kelestarian batik ini harus tetap di budayakan oleh masyarakat Kaltim secara keseluruhan, termasuk generasi Z.

    "Saya selalu menularkan untuk mengajar walaupun basic saya bukan pengajar. Tapi kalau pada saat pengin lihat malam enggak perlu jauh-jauh lagi untuk belajar, cuku di Samarinda. Dengan pembelajaran ini kita sama-sama bisa melestarikan budaya kita," tutup Vivi.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Sosok Silvi Vidiarti, Jadikan Batik Bisa Bercerita

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Figur

    14 November 2023 01:46 WIB

    Owner LKP Atiiqna Smart, Silvi Vidiarti. (Foto: HO/Silvi)

    Salah satu warisan budaya Indonesia yang diakui dunia, Batik, memiliki nilai estetika dan sejarah yang sangat tinggi. Namun, tidak semua orang mengenal dan menghargai batik sebagai karya seni. Ada juga yang hanya melihat batik sebagai barang dagangan atau hiasan rumah saja. Namun, tidak demikian dengan  Silvi Vidiarti. Sosok yang dengan goresan malamnya membuat batik seolah-olah bercerita. Yang lebih khas lagi, Silvi menuangkan dalam karya batiknya, dengan menceritakan tema tentang seluk beluk Kalimantan Timur.

    Untuk mendapatkan jati diri gambaran batik seperti itu, perjalanan panjang ditapaki oleh ibu dari tiga anak ini. Ia perlu waktu belasan tahun. Bahkan, Vivi panggilan akrabnya telah melakukan safari karir yang begitu panjang hingga sampai pada titik ini. 

    Minat batik itu tak ia dapatkan ketika ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Widya Cipta Dharma (STMIK WICIDA) pada tahun 1991. Apalagi setelah lulus, ia bahkan bekerja pada salah satu perusahaan kontraktor dan ditempatkan di bagian keuangan yang notabenenya jauh dari kegiatan seni. Dengan pengalaman seabrek itu, ia tak menyesalkan sama sekali.

    "Itu bagian dari investasi ilmu buat saya, pelajaran di perusahaan tersebut dengan ditempatkan di bidang yang belum saya kuasain ini sebagai bekal untuk masa depan," ungkap wanita yang lahir pada 28 September 1972 ini.

    Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, inilah kalimat yang cocok disematkan kepada Vivi. Pasalnya, di sela-sela padatnya ia bekerja, rupanya ia mengintip sang ibu. Sebagai Pengurus PKK dengan bermacam-macam kegiatan, pameran batik pun pernah terlaksana. Terlebih kegiatan rutinnya Dharma Wanita kala itu, belajar-mengajar batik, yang membuat dirinya secara tidak langsung dapat mengetahui cara membuat batik. Didukung pula ibunya memiliki kompor yang masih menggunakan minyak tanah.

    "Hanya melihat dan coba-coba main seperti itu, tak tahunya sampai sekarang saya melakukannya," imbuhnya.

    Tepat pada 2 Oktober 2009 sebagai momentum bersejarah bagi warga Indonesia yang merasakan hari batik nasional, karena pada tanggal itu, Batik Indonesia telah diakui sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) oleh UNESCO. Setahun setelahnya, Vivi mengakhiri karirnya sebagai karyawan di perusahaan kontraktor, dan mulai menekuni batik.

    Tak semulus bayangannya, batik ini menjadi opsi terakhir setelah banyaknya usaha yang dibuka bersama suaminya sejak tahun 2000. Namun, dari usaha pertamanya itu lah menjadikan LKP Atiiqna Smart ini berdiri hingga besar di seluruh kalangan pecinta batik di Kalimantan Timur.


    Awal Mula LKP Atiiqna

    Vivi bersama suaminya memulai usaha dengan membentuk lembaga kursus dan pelatihan (LKP) Komputer di bawah izin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda yang terletak di Jalan Pramuka, dengan nama Kamil Kom. Nama usaha ini diambil dari nama anaknya yang pertama, Muhammad Kamil Maulidhanie. 

    Dikepung dengan berbagai institusi pendidikan, usaha ini sempat eksis, hingga merambah ke kelas Baca Tulis Hitung (Calistung) atau bimbel untuk anak-anak. Dengan sentuhan dan rangkulan, Vivi pun berhasil menggandeng mahasiswa untuk dapat juga mengajar di tempat bimbel yang ia buat. Ibu-ibu sekitar pun turut mengajar kala itu.

    Vivi memiliki jiwa pemimpin yang kreatif dan inovatif, sehingga ia mengembangkan itu dengan mengajak ibu-ibu tersebut berkarya atau membuat beberapa keterampilan. Ia tularkan ilmu itu kepada ibu-ibu, dan terbentuklah hantaran. Setelah itu, dengan membawa nama Hantaran ini, mereka mendapatkan binaan dari DIsdikbud, dengan mudah mendapatkan sertifikasinya dan kompetensinya di instruktur.

    Hasil dari itu, yang membuat kelompok ini terus berlanjut, selalu menghadirkan kemenangan pada ajang lomba apapun. Sehingga mereka membuat komunitas. Dalam komunitas itu, ia sering mengikuti segala pameran, yang ia bawa saat itu, ada hasil rajutan, sulaman, sulam tumpar, dan ecobrick. Setelah banyaknya pameran dilalui, tercetuslah batik yang menjadi unggulan dalam komunitas ini.

    "Kenapa Batik? karena kemarin beberapa kali saya lomba-lomba itu kan selalu membawa kearifan lokal membawa baju yang kita tampilkan kita pada saat presentasi tampil dengan baju daerah. Nah sementara kadang kita pakai baju itu kan baju biasa nih, yang lain-lain sudah pakai batik. Batik ciri khas yang kayak bawa itu kayaknya Kaltim semua, sedangkan identik dari Samarinda belum ada, dimulai dari situ keinginan kami untuk menciptakan itu," jelasnya.

    Semenjak itulah, Vivi disini mengambil peluang itu, untuk menekuni dunia batik. Semenjak saat itu, mulai berani mengambil langkah untuk belajar batik di jogjakarta pada 2017 sembari mereka mengikuti pameran yang diadakan saat itu di Kota pelajar tersebut. Pembelajaran yang diambil, disini langsung diterapkan, mulai fokus untuk mencari motif yang sesuai namun berbeda dari yang lain.

    Vivi yang berasal dari kawasan yang memiliki kekentalan budaya Kota Samarinda, yakni di Samarinda Seberang, tepatnya di Kampung Baqa. Daerah tersebut membuat dirinya ingin membuat tentang batik itu. Karena selama ini dia mencari keunikannya di Kaltim itu apa.

    Semenjak menemukan jati diri itu, seiring berkembangnya waktu, mulai dikenal batik yang khas dari buah karya dari Vivi dan teman-teman lainnya. Sehingga dari sini cita-cita besar tercipta. Untuk menyebarkan ini, Vivi akhirnya membentuk LKP Atiiqna Smart ini, nama itu diambil dari anak perempuannya yang kedua bernama Nur Azizah Baitul Atiq.

    Semangat lainnya tercipta, setelah LKP ini mendapat perhatian dari Bank Indonesia melalui Mini Bank University, untuk membina kelompok ini agar adanya keberlanjutan dan kemajuan. Peningkatan itu dilihat dari segi omset, ilmu dan lainnya.

    "Alhamdulillah selalu meningkat, sampai saat ini, tentu binaan ini sangat berarti bagi kami, sehingga kami terus menggali karya terbaik," ujar Vivi.

    Dari terbentuknya LKP ini, Vivi selalu mendapatkan prestasi - prestasi gemilang. Selalu mendapatkan juara satu menjadi instruktur di Samarinda, bahkan tingkat nasional Vivi meraih juara ke-5 se-Indonesia. Selain itu, pengalamannya paling besar dapat berkolaborasi dan menggambar batik dengan Tema Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara baru-baru ini yang fenomenal.


    Batik Baqa ini Bercerita

    Motif buah baqa, buah bolok, Pohon sukun dan daun ulin menjadi karya yang membuka pintu gerbang Vivi melanjutkan karirnya di dunia batik. Inspirasi tanah kelahirannya ini diabadikannya melalui karya batiknya itu. Buah baqa adalah nama dari suatu kampung halaman keluarganya di Samarinda Seberang, sebuah daerah tertua di Samarinda dan juga cikal bakal berdirinya Kota Samarinda di zaman Kesultanan Kutai. 

    Buah baqa memiliki daging buah berwarna putih dan empuk serta manis saat matang. Masing-masingnya menghadirkan asal usul yang menarik. Kala itu, pohon Baqa dan pohon Sukun berjejer di bantaran sungai Mahakam. Banyaknya itu memiliki makna dan harapan untuk kemakmuran masyarakat sekitar, serta memiliki manfaat yang banyak.

    Gambar-gambar buah itu, terealisasi dalam kain putih yang dimiliki Vivi dan digambarkannya daun, akar, dan batang semua dijadikan motif. 

    "Nah, ternyata setelah jadi motif kita cetuskan didalam kain bagus juga gitu. Banyak yang tanya ini apa? Nah, saya selalu bercerita. Makanya motif kita penuh dengan cerita, jadi setiap motif-motif itu kita punya cerita, dibalik itu ada filosofi," bebernya.

    Selain motif-motif tersebut, Atiqna Batik juga membuat ikon-ikon lain seperti pesut atau lembuswana (ikon Kaltim), lampu dubai (ikon Samarinda), masjid tua Sirathal Mustaqiem (ikon Samarinda), kampung warna-warni (ikon Samarinda), cagar budaya Rumah Tua (ikon Samarinda), dan lain-lain³. Motif-motif ini dipilih karena mencerminkan kekayaan budaya dan keindahan alam Samarinda.

    "Kami berusaha membuat dan mencari ide batik kearifan lokal, yang mencerminkan ciri untuk batik. Selama ini comtohnya di Samarinda yang tenar dan khad kan ada sarung Samarinda. Kami menemukan semacam lampu dubai di Taman Samarendah dan kami bisa buat motifnya. Adapula kampung baqa berupa bayik motif daun baqa dikombinasi buah bolok," tutur Silvi Vidiarti.

    Atiqna Batik tidak hanya menjual produk-produknya secara online melalui media sosial atau marketplace, tetapi juga menerima kunjungan maupun pelatihan dari orang-orang yang tertarik belajar membatik. Silvi Vidiarti mengatakan bahwa ia ingin melestarikan nama kampung halamannya dengan menuangkannya dalam motif batik.

    "Saya ingin membuat orang-orang lebih mengenal dan mencintai batik sebagai warisan budaya kita. Saya juga ingin memberikan peluang bagi orang-orang muda untuk belajar membatik agar mereka bisa mengembangkan potensi diri mereka," pungkas Silvi Vidiarti.

    Dari keseluruhan motif yang ada, dari tahun 2019 beberapa karyanya telah diberikan hak cipta. Bahkan karya-karya lainnya seperti yupa prasasti itu pun mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI). Itu tak luput pula dari bantuannya Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim dan Diskominfo Kaltim.

    Dengan berdirinya LKP ini, Vivi berharap untuk kedepan terus dapat mensosialisasikan dan ia mengingkan selalu ada kebersamaan setelahnya ketika mulai ramai yang telah membatik. Kelestarian batik ini harus tetap di budayakan oleh masyarakat Kaltim secara keseluruhan, termasuk generasi Z.

    "Saya selalu menularkan untuk mengajar walaupun basic saya bukan pengajar. Tapi kalau pada saat pengin lihat malam enggak perlu jauh-jauh lagi untuk belajar, cuku di Samarinda. Dengan pembelajaran ini kita sama-sama bisa melestarikan budaya kita," tutup Vivi.

    (Sf/Rs)