Figur

    Setahun Seputar Fakta dan Kesadaran Desman Minang 

    Redaktur:Rusdianto
    06 Maret 2024 pukul 15:05 WITA

    Founder Seputar Fakta, Desman Minang Endianto. (Seputarfakta.com)

    Tacitus dalam salah satu seri Annales, merekam praktik kuno yang menjadi dasar industri media gini hari. Itu adalah medio 37 hingga 54 Masehi, masa di mana Kaisar Nero kerap berselisih paham dengan Senator Thrasea. Intrik keduanya di senat, dicatat sedemikian rupa lalu disebar oleh kurir, ke penjuru Roma yang luas.
    “Jurnal rakyat Romawi dipindai ke seluruh provinsi dan tentara dengan sangat hati-hati terhadap berita tentang apa yang telah dilakukan Thrasea.” Annales 16.22.

    Tacitus, mungkin  sedang membicarakan Acta Diurna. Pengumuman publik yang pada masanya telah ditulis dalam lembaran Papirus; sejenis kertas yang dibuat dari empulur tumbuhan papirus, Cyperus papyrys yang tumbuh di lahan basah. Ia merupakan koran di masa kini. Meski mulanya, pada 130 Sebelum Masehi, Acta Diurna yang juga disebut Acta Populi dipahat pada batu pipih, lalu dipasang di pemandian umum (adalah lazim di masa Roma kuno, warga kota datang ke tempat pemandian umum), pintu kuil dan tentu saja papan pengumuman. 

    Proses penyebaran informasi macam ini, secara konsep masih dilakukan. Secara tekstual maupun kontekstual. Maksudnya, koran dari surat kabar masih diproduksi di pabrik-pabrik. Diedarkan secara masif, oleh loper. Demikian halnya dengan koran daring. Informasi dikurasi, lalu disebar secara terstruktur melalui kanal-kanal media sosial. 

    Acta Diurna, sejak kemunculannya di masa awal Julius Caesar memimpin Roma,  langsung mereguk antusias para Romanian. Meskipun, pada akhirnya era kejayaannya meredup circa 300 Masehi. Tentu, makin lenyap bersamaan hancurnya kekaisaran Romawi. Dulu, Acta Diurna muncul kala sumber informasi masih demikian terbatas. Kehadirannya sebagai hal baru, pasti menarik perhatian. 

    Kini, di era banjir informasi. Industri media menghadapi tantangan yang jauh lebih pelik. Informasi kini menjadi demikian mudah diakses. Batas-batas ruang dan waktu kabur. 


    Aktivitas fisik dari proses penyebaran informasi kian menyusut, disusul kemudahan yang dibawa kemajuan teknologi informasi; internet. 
    Tapi, di tengah badai akan selalu ada celah. Gerombolan informasi yang menyerbu nyatanya menyisakan kekosongan porsi pada validasi informasi. Kekaisaran Roma, dulu mempekerjakan para Actuarii. Mereka adalah para Diurnarii atau orang-orang yang bertugas melakukan pencatatan, yang secara khusus ditunjuk oleh negara, untuk mencatat peristiwa penting. Mulai dari awal terjadinya perang, pencatatan kelahiran dan lainnya. Orang-orang ini tentu punya standar kemahiran, selain dari kecakapan menulis dan mencatat. 

    Pada konstelasi masyarakat Roma, Actuarii menduduki derajat tertentu selayaknya juru tulis negara. Artinya, sejak lama. Kita telah diajarkan untuk meletakkan standar tertentu pada proses pengumpulan informasi. Terutama setelah tatanan pers secara umum telah terstandardisasi. Dari hal-hal itulah, keyakinan pada usaha mengisi celah itu hadir di ruang redaksi sebuah media daring bernama Seputar Fakta. Api yang sudah dinyalakan sejak era Acta Diurna, terus kami jaga. 

    Menerbitkan berita pertama kali pada 6 Maret 2023 lalu, tepat hari ini, sejarah akan terus kami catat. Seperti kata Lenin; “setiap fakta baru… harus dicatat." Demikian kiranya semangat yang hendak dihadirkan Seputar Fakta kepada para pembaca. 

    Saat menugaskan saya masuk ke redaksi Seputar Fakta, Desman Minang - tokoh konglomerasi Surat Kabar Harian Koran Kaltim - yang adalah pendiri Seputar Fakta, bilang bahwa tugas saya adalah memberi dasar. Musabab awak redaksi diisi talenta-talenta muda nan hijau. Desman yang pernah saya cap sebagai titisan Jacob Oetama ini, seperti sadar bahwa kepakaran adalah wajib, dalam urusan organisasi redaksi. Tanpanya, kurasi informasi habis belaka pada perkara-perkara rutin dan berulang. 

    Tapi Desman juga bilang, di tengah masifnya kemunculan media daring, Seputar Fakta sudah memutuskan kekhasan. Sesuatu yang saya sangat sepakat. Seperti kata Nyoto dalam pidatonya pada HUT ke-IV Harian Rakjat, yang menyebut bahwa kekhasan adalah keniscayaan. 
    "...pendapat yang dikemukakan oleh Lembaga Pers dan Pendapat Umum, bahwa suratkabar-suratkabar Indonesia “semua sama saja”, “tidak ada variasi” dan tidak mempunyai “sifat tersendiri”. Mudah-mudahan Harian Rakjat tidak tergolong pada generalisasi ini," 

    Apa yang khas dari Seputar Fakta? Jawabannya ialah rubrik profil. Secara rutin, awak redaksi menyajikan profil-profil tokoh, baik dari kalangan teknokrat, birokrat, bahkan proletar sekalipun untuk diambil sari dan pelajaran pentingnya bagi pembaca. Sebagai sebuah usaha, ini adalah lebih dari cukup. Dan yang terpenting, ini dilakukan bukan semata demi berbeda. Apalagi waktu yang ditempuh media ini, baru seusia masa Kepresidenan BJ Habibi. Jadi, kepada para pembaca, mohon pinjamkan lebih banyak energi kepada kami, agar kami terus ada dan  bisa mewujudkan cita-cita; Bersama Mencerdaskan.


    Rusdianto 
    Samarinda, 6 Maret 2024

    Figur

    Setahun Seputar Fakta dan Kesadaran Desman Minang 

    Redaktur:Rusdianto
    06 Maret 2024 pukul 15:05 WITA

    Founder Seputar Fakta, Desman Minang Endianto. (Seputarfakta.com)

    Tacitus dalam salah satu seri Annales, merekam praktik kuno yang menjadi dasar industri media gini hari. Itu adalah medio 37 hingga 54 Masehi, masa di mana Kaisar Nero kerap berselisih paham dengan Senator Thrasea. Intrik keduanya di senat, dicatat sedemikian rupa lalu disebar oleh kurir, ke penjuru Roma yang luas.
    “Jurnal rakyat Romawi dipindai ke seluruh provinsi dan tentara dengan sangat hati-hati terhadap berita tentang apa yang telah dilakukan Thrasea.” Annales 16.22.

    Tacitus, mungkin  sedang membicarakan Acta Diurna. Pengumuman publik yang pada masanya telah ditulis dalam lembaran Papirus; sejenis kertas yang dibuat dari empulur tumbuhan papirus, Cyperus papyrys yang tumbuh di lahan basah. Ia merupakan koran di masa kini. Meski mulanya, pada 130 Sebelum Masehi, Acta Diurna yang juga disebut Acta Populi dipahat pada batu pipih, lalu dipasang di pemandian umum (adalah lazim di masa Roma kuno, warga kota datang ke tempat pemandian umum), pintu kuil dan tentu saja papan pengumuman. 

    Proses penyebaran informasi macam ini, secara konsep masih dilakukan. Secara tekstual maupun kontekstual. Maksudnya, koran dari surat kabar masih diproduksi di pabrik-pabrik. Diedarkan secara masif, oleh loper. Demikian halnya dengan koran daring. Informasi dikurasi, lalu disebar secara terstruktur melalui kanal-kanal media sosial. 

    Acta Diurna, sejak kemunculannya di masa awal Julius Caesar memimpin Roma,  langsung mereguk antusias para Romanian. Meskipun, pada akhirnya era kejayaannya meredup circa 300 Masehi. Tentu, makin lenyap bersamaan hancurnya kekaisaran Romawi. Dulu, Acta Diurna muncul kala sumber informasi masih demikian terbatas. Kehadirannya sebagai hal baru, pasti menarik perhatian. 

    Kini, di era banjir informasi. Industri media menghadapi tantangan yang jauh lebih pelik. Informasi kini menjadi demikian mudah diakses. Batas-batas ruang dan waktu kabur. 


    Aktivitas fisik dari proses penyebaran informasi kian menyusut, disusul kemudahan yang dibawa kemajuan teknologi informasi; internet. 
    Tapi, di tengah badai akan selalu ada celah. Gerombolan informasi yang menyerbu nyatanya menyisakan kekosongan porsi pada validasi informasi. Kekaisaran Roma, dulu mempekerjakan para Actuarii. Mereka adalah para Diurnarii atau orang-orang yang bertugas melakukan pencatatan, yang secara khusus ditunjuk oleh negara, untuk mencatat peristiwa penting. Mulai dari awal terjadinya perang, pencatatan kelahiran dan lainnya. Orang-orang ini tentu punya standar kemahiran, selain dari kecakapan menulis dan mencatat. 

    Pada konstelasi masyarakat Roma, Actuarii menduduki derajat tertentu selayaknya juru tulis negara. Artinya, sejak lama. Kita telah diajarkan untuk meletakkan standar tertentu pada proses pengumpulan informasi. Terutama setelah tatanan pers secara umum telah terstandardisasi. Dari hal-hal itulah, keyakinan pada usaha mengisi celah itu hadir di ruang redaksi sebuah media daring bernama Seputar Fakta. Api yang sudah dinyalakan sejak era Acta Diurna, terus kami jaga. 

    Menerbitkan berita pertama kali pada 6 Maret 2023 lalu, tepat hari ini, sejarah akan terus kami catat. Seperti kata Lenin; “setiap fakta baru… harus dicatat." Demikian kiranya semangat yang hendak dihadirkan Seputar Fakta kepada para pembaca. 

    Saat menugaskan saya masuk ke redaksi Seputar Fakta, Desman Minang - tokoh konglomerasi Surat Kabar Harian Koran Kaltim - yang adalah pendiri Seputar Fakta, bilang bahwa tugas saya adalah memberi dasar. Musabab awak redaksi diisi talenta-talenta muda nan hijau. Desman yang pernah saya cap sebagai titisan Jacob Oetama ini, seperti sadar bahwa kepakaran adalah wajib, dalam urusan organisasi redaksi. Tanpanya, kurasi informasi habis belaka pada perkara-perkara rutin dan berulang. 

    Tapi Desman juga bilang, di tengah masifnya kemunculan media daring, Seputar Fakta sudah memutuskan kekhasan. Sesuatu yang saya sangat sepakat. Seperti kata Nyoto dalam pidatonya pada HUT ke-IV Harian Rakjat, yang menyebut bahwa kekhasan adalah keniscayaan. 
    "...pendapat yang dikemukakan oleh Lembaga Pers dan Pendapat Umum, bahwa suratkabar-suratkabar Indonesia “semua sama saja”, “tidak ada variasi” dan tidak mempunyai “sifat tersendiri”. Mudah-mudahan Harian Rakjat tidak tergolong pada generalisasi ini," 

    Apa yang khas dari Seputar Fakta? Jawabannya ialah rubrik profil. Secara rutin, awak redaksi menyajikan profil-profil tokoh, baik dari kalangan teknokrat, birokrat, bahkan proletar sekalipun untuk diambil sari dan pelajaran pentingnya bagi pembaca. Sebagai sebuah usaha, ini adalah lebih dari cukup. Dan yang terpenting, ini dilakukan bukan semata demi berbeda. Apalagi waktu yang ditempuh media ini, baru seusia masa Kepresidenan BJ Habibi. Jadi, kepada para pembaca, mohon pinjamkan lebih banyak energi kepada kami, agar kami terus ada dan  bisa mewujudkan cita-cita; Bersama Mencerdaskan.


    Rusdianto 
    Samarinda, 6 Maret 2024