Salman Lumoindong, Pencipta Metode Belajar Unik dan Menyenangkan untuk ASN 

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Figur

    25 Februari 2024 11:21 WIB

    Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Provinsi Kalimantan Timur, Salman Lumoindong. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Kelas tiba-tiba hening, kala seseorang masuk tanpa salam. Helm dan jaket pun belum dilepas darinya. Ketika dibuka kaca helm, ternyata seorang pria perawakan tak lagi muda, mengenakan pakaian sipil lengkap, dengan kondisi yang kusut, aksesorisnya berantakan, bahkan kancing baju terlepas satu.

    Seluruh peserta di kelas makin dibuat geram, setelah tisu yang berada digenggamannya dibuang sembarangan. Begitupun helm dan jaketnya dilempar, tanpa takut mengenai barang lainnya. Tak hanya itu, ia melanjutkan aktivitasnya membaca koran, memainkan ponselnya, dan mondar-mandir tidak jelas.

    Setelahnya, pria itu keluar kelas, dan masuk kembali dengan kostum berbeda, yakni dengan pakaian formal mengajar. Para peserta di kelas itu pun yang awalnya geram, langsung bertepuk tangan. Bukan tanpa alasan, mereka terkejut, ternyata yang baru disaksikan adalah drama yang dilakoni oleh seorang pengajar bernama Salman Lumoindong.

    Pria yang akrab disapa Salman itu, ternyata sedang memeragakan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tak terpuji. Drama yang dilakukan selama tiga menit itu bagian dari cara mengajar Salman ketika menjadi pengajar pada pelatihan dasar CPNS Kota Bontang Tahun 2020 dengan modul ajar etika publik.

    Atensi yang luar biasa dari seluruh peserta dan memberikan ulasan positif atas pengajaran itu, membuat Salman menemukan gambaran ketika dirinya didapuk sebagai Widyaiswara. Ia menjalani profesi itu sejak dirinya sudah menghabiskan waktunya selama 31 tahun lamanya pada jabatan struktural pemerintahan.

    Dipercaya sebagai Widyaiswara, bukanlah tugas yang mudah. Karena ia memiliki prinsip mendidik, mengajar dan melatih ASN untuk menjadi suara kebenaran bagi ASN dengan mengajarkan nilai-nilai luhur dan berpedoman melayani masyarakat tanpa pamrih.

    Modal pengalaman yang diinvestasikan selama puluhan tahun itu membuahkan hasil. Bagaimana tidak, pria kelahiran Jakarta ini, untuk memulai karirnya menjadi staff teknik KUMAGAI-KADI JO, Jalan Tol Bekasi-Cikampek pada tahun 1985. Sampai menjadi Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2016.

    Tak hanya pengalaman pekerjaan yang dia dapatkan, Salman juga mendapatkan pengalaman itu dari pendidikannya. Ia pernah kuliah di perguruan tinggi ternama di Bandung, yakni Institut Teknologi Bandung pada tahun 1979 di jurusan Teknik Sipil. Kemudian, ia melanjutkan Pascasarjana di Magister Manajemen Universitas Mulawarman pada tahun 2000.

    Untuk mengajar, Salman sudah sejak lama melakukannya dengan metode pada umumnya, bermodal ice breaking untuk mengusir peserta yang menahan kantuknya. Setelah ia purnatugas dari jabatan Kepala Dinas, ia tekun mengikuti kelas untuk modal sebagai Widyaiswara.

    Dalam beberapa kelas side in itu, ia mengamati bahwa setiap pelatihan yang dibuat oleh pemerintahan itu selalu monoton. Dan tidak memiliki kreasi yang meningkatkan gairah peserta mendengarkan pengajar. Ia pun termotivasi untuk mengutak-atik konsep pembelajaran.

    Bekal pengalamannya semakin tajam untuk profesinya saat ini, karena ia selalu  mengasah inovasi dan kreativitasnya. Tak ayal lagi, Salman melakukan dengan begitu semangat. Setiap dia mengajar di kelas pembekalan terhadap ASN, Salman rela menyita waktunya berminggu-minggu untuk menyiapkan satu konsep pembelajaran dengan basis drama.

    "Peserta itu harus terlibat langsung dan memahami, untuk menuju itu kita siapkan konsep. Memang lama, karena saya perlu menyiapkan storyboard, lirik lagu hingga permainan-permainan ringan," ungkap Salman sambil ketawa kecil.

    Salman mengungkapkan tujuan yang dia lakukan saat ini, bukan serta-merta untuk membuat asik saja, namun bagaimana suatu masalah itu dapat terpecahkan. Ia mengakui seringkali dihadapkan dengan materi yang begitu teknis, sehingga menurutnya peserta sulit untuk bisa memahami.

    "Kalau sekedar menjelaskan itu mudah, tapi bagaimana penjelasan kita itu bisa dipahami," ujarnya.

    Oleh karena itu, Salman selalu membuat konsep kejutan bagi para peserta. Bahkan, ia rela menyisihkan uang untuk membuat kostum sesuai dengan tema. Seperti tema kebersamaan, ia mengaitkan itu dengan super Hero yang ada di film fiksi the Avangers. Tak nanggung-nanggung ia memiliki kostum super Hero Captain America.

    "Itu bagian dari aksesoris yang mendukung, kalau tema terkait dokter cinta. Tentu harus menggunakan aksesoris yang sesuai, pakai baju dokter dan mengalungkam stetoskop. Perlu effort lebih agar konsep kita jalan," jelasnya.

    Diketahui, drama yang dimaksud dalam metode pembelajarannya ini sebelumnya sudah diujikan di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia yang berjudul analisis persepsi penerapan live fragmen dalam metode pembelajaran dengan media video conference pada pengembangan kompetensi aparatur sipil negara. Uji coba yang dilakukan ini saat keadaan Covid-19.

    Adapun metode yang dikembangkan ini, Live Fragmen, adalah hasil adopsi metode pengajaran bermain peran (Role Playing). Salman di kelas maupun di video conference ia selalu melibatkan peserta penuh dalam simulasi atau permainan memecahkan kasus.

    Semua konsep yang dituangkan dalam dramanya itu, semua terinspirasi dari apa yang ia tonton. Salman selalu meluangkan waktunya untuk datang ke bioskop menikmati tayangan film negeri maupun luar negeri.

    Pria kelahiran 7 Januari 1969 ini juga menceritakan, bahwa ada film yang disukai, yakni film "Tom Hanks is a man called Otto". Semua Sequel yang ada di film itu sama persis sesuai dirinya.

    "Saya nonton sampai tiga kali, karena yang pemeran tua disitu sama seperti umur saya," sebut Salman sambil ketawa terkekeh-kekeh.

    Kegiatan demi kegiatan Salman lalui, tak ada satupun yang membuat dia kesulitan dalam belajar mengajar. Salman paham betul Medan yang ia lalui, ribuan peserta yang sudah dihadapi dan ratusan konsep yang sudah disediakan. Kebermanfaatannya tak cukup sampai situ, ia menyebarkan hasil pembelajarannya itu melalui sosial media pribadinya, yakni nama pengguna at Salmanlumoindong. Dan ia juga selalu mengunggah karyanya di Instagram BPSDM Kaltim. 

    "Ini supaya orang-orang lihat sebenarnya yang kita lakukan ini apa, dan bagaimana caranya, agar bisa ditiru bagi orang lain, kebaikan itu tidak apa-apa ditiru," tuturnya.

    Dengan media sosial yang ia kembangkan itu, membuat citra diri (personal branding) nya meningkat secara drastis. Hingga kini Salman dikenal sebagai pengajar kreatif. Ia juga menekankan kepada seluruh anak muda, pentingnya membranding diri dengan cara yang baik.

    "Kita harus mengetahui dulu potensi diri kita, jika sudah tau, kita kembangkan, perangi kemalasan itu," pesan Salman untuk anak-anak Gen-Z.

    (Sf/Rs)

    Tim Editorial

    Connect With Us

    Copyright @ 2023 seputarfakta.com.
    All right reserved

    Kategori

    Informasi

    Salman Lumoindong, Pencipta Metode Belajar Unik dan Menyenangkan untuk ASN 

    Seputarfakta.com - Maulana -

    Figur

    25 Februari 2024 11:21 WIB

    Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Provinsi Kalimantan Timur, Salman Lumoindong. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Kelas tiba-tiba hening, kala seseorang masuk tanpa salam. Helm dan jaket pun belum dilepas darinya. Ketika dibuka kaca helm, ternyata seorang pria perawakan tak lagi muda, mengenakan pakaian sipil lengkap, dengan kondisi yang kusut, aksesorisnya berantakan, bahkan kancing baju terlepas satu.

    Seluruh peserta di kelas makin dibuat geram, setelah tisu yang berada digenggamannya dibuang sembarangan. Begitupun helm dan jaketnya dilempar, tanpa takut mengenai barang lainnya. Tak hanya itu, ia melanjutkan aktivitasnya membaca koran, memainkan ponselnya, dan mondar-mandir tidak jelas.

    Setelahnya, pria itu keluar kelas, dan masuk kembali dengan kostum berbeda, yakni dengan pakaian formal mengajar. Para peserta di kelas itu pun yang awalnya geram, langsung bertepuk tangan. Bukan tanpa alasan, mereka terkejut, ternyata yang baru disaksikan adalah drama yang dilakoni oleh seorang pengajar bernama Salman Lumoindong.

    Pria yang akrab disapa Salman itu, ternyata sedang memeragakan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tak terpuji. Drama yang dilakukan selama tiga menit itu bagian dari cara mengajar Salman ketika menjadi pengajar pada pelatihan dasar CPNS Kota Bontang Tahun 2020 dengan modul ajar etika publik.

    Atensi yang luar biasa dari seluruh peserta dan memberikan ulasan positif atas pengajaran itu, membuat Salman menemukan gambaran ketika dirinya didapuk sebagai Widyaiswara. Ia menjalani profesi itu sejak dirinya sudah menghabiskan waktunya selama 31 tahun lamanya pada jabatan struktural pemerintahan.

    Dipercaya sebagai Widyaiswara, bukanlah tugas yang mudah. Karena ia memiliki prinsip mendidik, mengajar dan melatih ASN untuk menjadi suara kebenaran bagi ASN dengan mengajarkan nilai-nilai luhur dan berpedoman melayani masyarakat tanpa pamrih.

    Modal pengalaman yang diinvestasikan selama puluhan tahun itu membuahkan hasil. Bagaimana tidak, pria kelahiran Jakarta ini, untuk memulai karirnya menjadi staff teknik KUMAGAI-KADI JO, Jalan Tol Bekasi-Cikampek pada tahun 1985. Sampai menjadi Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2016.

    Tak hanya pengalaman pekerjaan yang dia dapatkan, Salman juga mendapatkan pengalaman itu dari pendidikannya. Ia pernah kuliah di perguruan tinggi ternama di Bandung, yakni Institut Teknologi Bandung pada tahun 1979 di jurusan Teknik Sipil. Kemudian, ia melanjutkan Pascasarjana di Magister Manajemen Universitas Mulawarman pada tahun 2000.

    Untuk mengajar, Salman sudah sejak lama melakukannya dengan metode pada umumnya, bermodal ice breaking untuk mengusir peserta yang menahan kantuknya. Setelah ia purnatugas dari jabatan Kepala Dinas, ia tekun mengikuti kelas untuk modal sebagai Widyaiswara.

    Dalam beberapa kelas side in itu, ia mengamati bahwa setiap pelatihan yang dibuat oleh pemerintahan itu selalu monoton. Dan tidak memiliki kreasi yang meningkatkan gairah peserta mendengarkan pengajar. Ia pun termotivasi untuk mengutak-atik konsep pembelajaran.

    Bekal pengalamannya semakin tajam untuk profesinya saat ini, karena ia selalu  mengasah inovasi dan kreativitasnya. Tak ayal lagi, Salman melakukan dengan begitu semangat. Setiap dia mengajar di kelas pembekalan terhadap ASN, Salman rela menyita waktunya berminggu-minggu untuk menyiapkan satu konsep pembelajaran dengan basis drama.

    "Peserta itu harus terlibat langsung dan memahami, untuk menuju itu kita siapkan konsep. Memang lama, karena saya perlu menyiapkan storyboard, lirik lagu hingga permainan-permainan ringan," ungkap Salman sambil ketawa kecil.

    Salman mengungkapkan tujuan yang dia lakukan saat ini, bukan serta-merta untuk membuat asik saja, namun bagaimana suatu masalah itu dapat terpecahkan. Ia mengakui seringkali dihadapkan dengan materi yang begitu teknis, sehingga menurutnya peserta sulit untuk bisa memahami.

    "Kalau sekedar menjelaskan itu mudah, tapi bagaimana penjelasan kita itu bisa dipahami," ujarnya.

    Oleh karena itu, Salman selalu membuat konsep kejutan bagi para peserta. Bahkan, ia rela menyisihkan uang untuk membuat kostum sesuai dengan tema. Seperti tema kebersamaan, ia mengaitkan itu dengan super Hero yang ada di film fiksi the Avangers. Tak nanggung-nanggung ia memiliki kostum super Hero Captain America.

    "Itu bagian dari aksesoris yang mendukung, kalau tema terkait dokter cinta. Tentu harus menggunakan aksesoris yang sesuai, pakai baju dokter dan mengalungkam stetoskop. Perlu effort lebih agar konsep kita jalan," jelasnya.

    Diketahui, drama yang dimaksud dalam metode pembelajarannya ini sebelumnya sudah diujikan di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia yang berjudul analisis persepsi penerapan live fragmen dalam metode pembelajaran dengan media video conference pada pengembangan kompetensi aparatur sipil negara. Uji coba yang dilakukan ini saat keadaan Covid-19.

    Adapun metode yang dikembangkan ini, Live Fragmen, adalah hasil adopsi metode pengajaran bermain peran (Role Playing). Salman di kelas maupun di video conference ia selalu melibatkan peserta penuh dalam simulasi atau permainan memecahkan kasus.

    Semua konsep yang dituangkan dalam dramanya itu, semua terinspirasi dari apa yang ia tonton. Salman selalu meluangkan waktunya untuk datang ke bioskop menikmati tayangan film negeri maupun luar negeri.

    Pria kelahiran 7 Januari 1969 ini juga menceritakan, bahwa ada film yang disukai, yakni film "Tom Hanks is a man called Otto". Semua Sequel yang ada di film itu sama persis sesuai dirinya.

    "Saya nonton sampai tiga kali, karena yang pemeran tua disitu sama seperti umur saya," sebut Salman sambil ketawa terkekeh-kekeh.

    Kegiatan demi kegiatan Salman lalui, tak ada satupun yang membuat dia kesulitan dalam belajar mengajar. Salman paham betul Medan yang ia lalui, ribuan peserta yang sudah dihadapi dan ratusan konsep yang sudah disediakan. Kebermanfaatannya tak cukup sampai situ, ia menyebarkan hasil pembelajarannya itu melalui sosial media pribadinya, yakni nama pengguna at Salmanlumoindong. Dan ia juga selalu mengunggah karyanya di Instagram BPSDM Kaltim. 

    "Ini supaya orang-orang lihat sebenarnya yang kita lakukan ini apa, dan bagaimana caranya, agar bisa ditiru bagi orang lain, kebaikan itu tidak apa-apa ditiru," tuturnya.

    Dengan media sosial yang ia kembangkan itu, membuat citra diri (personal branding) nya meningkat secara drastis. Hingga kini Salman dikenal sebagai pengajar kreatif. Ia juga menekankan kepada seluruh anak muda, pentingnya membranding diri dengan cara yang baik.

    "Kita harus mengetahui dulu potensi diri kita, jika sudah tau, kita kembangkan, perangi kemalasan itu," pesan Salman untuk anak-anak Gen-Z.

    (Sf/Rs)