Figur

    Rohman, Pelopor Pengolahan Limbah Popok Bayi di Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    01 Maret 2026 pukul 11:33 WITA

    Rohman berhasil oleh limbah popok bayi menjadi hal yang bermanfaat. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Di tengah tantangan persoalan sampah perkotaan, Rohman (35) warga Kilometer 12, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara menghadirkan inovasi teknologi berbasis lingkungan dan ekonomi hijau.

    Pria kelahiran Jombang, 20 September 1990 ini dikenal sebagai pelopor gerakan pilah dan pengolahan limbah popok bayi di Balikpapan.

    Rohman yang berpendidikan terakhir S1 dan bekerja sebagai asesor muda itu mulai mengembangkan inovasinya sejak Mei–Juni 2024. Ide tersebut muncul dari pengalaman pribadinya sebagai orang tua.

    Tumpukan popok bekas anaknya yang kini berusia tiga tahun membuatnya berpikir tentang potensi yang bisa dimanfaatkan dari limbah tersebut.

    “Selama ini limbah popok bayi belum pernah dipilah secara khusus. Bahkan di bank sampah pun belum ada pengolahan khusus sebelum bermuara ke TPA,” ucap Rohman saat ditemui media, Minggu (1/3/2026).

    Menurut Rohman, limbah popok bayi menjadi salah satu penyumbang besar volume sampah rumah tangga. Kondisi ini turut berdampak pada daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar yang diproyeksikan akan mencapai kapasitas penuh dalam beberapa tahun ke depan.

    “Saat ini dari tujuh landfill yang tersedia, hanya satu yang masih aktif digunakan,” jelasnya.

    Sebagai kota peraih penghargaan Adipura Kencana, Balikpapan dinilai perlu mempertahankan predikat tersebut melalui inovasi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.

    Rohman pun mengambil peran dengan mengedukasi warga untuk memilah limbah popok bayi sejak dari rumah. Melalui gerakan tersebut, ia berhasil mengolah limbah popok menjadi berbagai produk bernilai guna. Bagian luar popok diolah menjadi bahan bakar padat seperti briket dan bahan bakar cair.

    “Sementara gel penyerap di dalam popok dimanfaatkan sebagai pupuk cair dan pupuk padat. Adapun serat (fiber) popok digunakan sebagai bahan campuran industri furnitur,” terangnya.

    Inovasi ini membuahkan sejumlah prestasi. Rohman meraih Juara 1 lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kecamatan Balikpapan Utara dan Juara 2 tingkat Kota Balikpapan. Terbaru, inovasinya masuk dalam Top 10 Shell LiveWIRE 2025 dan akan mewakili Kalimantan dalam ajang presentasi di Jakarta.

    Keberhasilan tersebut menjadi tonggak awal pengolahan limbah popok bayi di Balikpapan, bahkan disebut sebagai yang pertama di kota ini.

    Rohman berharap gerakan pilah limbah popok dapat diterapkan secara luas, sehingga tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

    “Limbah yang dianggap menjijikkan dan tidak bernilai, ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi,” paparnya.

    (Sf/Lo)

    Figur

    Rohman, Pelopor Pengolahan Limbah Popok Bayi di Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    01 Maret 2026 pukul 11:33 WITA

    Rohman berhasil oleh limbah popok bayi menjadi hal yang bermanfaat. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Di tengah tantangan persoalan sampah perkotaan, Rohman (35) warga Kilometer 12, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara menghadirkan inovasi teknologi berbasis lingkungan dan ekonomi hijau.

    Pria kelahiran Jombang, 20 September 1990 ini dikenal sebagai pelopor gerakan pilah dan pengolahan limbah popok bayi di Balikpapan.

    Rohman yang berpendidikan terakhir S1 dan bekerja sebagai asesor muda itu mulai mengembangkan inovasinya sejak Mei–Juni 2024. Ide tersebut muncul dari pengalaman pribadinya sebagai orang tua.

    Tumpukan popok bekas anaknya yang kini berusia tiga tahun membuatnya berpikir tentang potensi yang bisa dimanfaatkan dari limbah tersebut.

    “Selama ini limbah popok bayi belum pernah dipilah secara khusus. Bahkan di bank sampah pun belum ada pengolahan khusus sebelum bermuara ke TPA,” ucap Rohman saat ditemui media, Minggu (1/3/2026).

    Menurut Rohman, limbah popok bayi menjadi salah satu penyumbang besar volume sampah rumah tangga. Kondisi ini turut berdampak pada daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar yang diproyeksikan akan mencapai kapasitas penuh dalam beberapa tahun ke depan.

    “Saat ini dari tujuh landfill yang tersedia, hanya satu yang masih aktif digunakan,” jelasnya.

    Sebagai kota peraih penghargaan Adipura Kencana, Balikpapan dinilai perlu mempertahankan predikat tersebut melalui inovasi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah.

    Rohman pun mengambil peran dengan mengedukasi warga untuk memilah limbah popok bayi sejak dari rumah. Melalui gerakan tersebut, ia berhasil mengolah limbah popok menjadi berbagai produk bernilai guna. Bagian luar popok diolah menjadi bahan bakar padat seperti briket dan bahan bakar cair.

    “Sementara gel penyerap di dalam popok dimanfaatkan sebagai pupuk cair dan pupuk padat. Adapun serat (fiber) popok digunakan sebagai bahan campuran industri furnitur,” terangnya.

    Inovasi ini membuahkan sejumlah prestasi. Rohman meraih Juara 1 lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kecamatan Balikpapan Utara dan Juara 2 tingkat Kota Balikpapan. Terbaru, inovasinya masuk dalam Top 10 Shell LiveWIRE 2025 dan akan mewakili Kalimantan dalam ajang presentasi di Jakarta.

    Keberhasilan tersebut menjadi tonggak awal pengolahan limbah popok bayi di Balikpapan, bahkan disebut sebagai yang pertama di kota ini.

    Rohman berharap gerakan pilah limbah popok dapat diterapkan secara luas, sehingga tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

    “Limbah yang dianggap menjijikkan dan tidak bernilai, ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi,” paparnya.

    (Sf/Lo)