Figur

    Prof Haviluddin Jadi Guru Besar Pertama Informatika dan Sains Data di Kaltim, Dorong Inovasi AI

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Lodya A
    10 Agustus 2026 pukul 20:48 WITA

    Prof Ir Haviluddin S.Kom.,M.Kom.,Ph.D., IPM (foto: Screenshot Dok. Orasi Ilmiah Prof Haviluddin)

    Tana Paser - Perkembangan teknologi dan komputasi global saat ini berada di titik puncak revolusi digital. Di tengah riuhnya teknologi secara global, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan sejarah penting di bidang akademik dengan lahirnya Guru Besar pertama yang berorientasi di sektor Informatika dan Sains Data yaitu Prof Ir Haviluddin S.Kom., M.Kom., Ph.D., IPM.

    Haviluddin pertama kali menempuh pendidikan formal di bidang informatika pada saat ia menjadi mahasiswa S1 Jurusan Teknik Informatika di STMIK Widya Cipta Darma Samarinda. Atas dasar ketertarikannya di bidang itu, ia kembali melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada.

    Tidak berhenti sampai di situ, kehausannya terhadap keilmuan kembali membuatnya melanjutkan pendidikan S3 Computer Science di Universitas Malaysia Sabah.

    Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul 'Peranan Inovasi Kecerdasan Buatan dan Sains Data untuk Pembangunan Generasi yang Lebih Baik' Haviluddin menjabarkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan sains data terkait erat dengan disiplin ilmu teknologi informasi dan komputasi yang kini menjadi topik hangat di tingkat global. Menurutnya, seluruh universitas dan industri di dunia sedang berlomba-lomba mengadopsi teknologi tersebut.

     

    Ia juga menyoroti terkait pentingnya peran data di era modern yang akan menjadi bahan pengolahan ketika menggunakan AI.

    "Jika algoritma kecerdasan buatan merupakan pembelajaran mandiri, maka data merupakan kekayaan intelektual sehingga memunculkan terminologi sains data," jelas Haviluddin dalam Orasi Ilmiahnya.

    Ia menilai, meskipun kemajuan AI merupakan hal yang tidak dapat dicegah, namun hal itu tidak akan menghilangkan peran manusia secara menyeluruh.

    Haviluddin berpandangan ada empat tantangan utama yang dihadapi dalam perkembangan AI dan Sains Data. Di antaranya, kesiapan tenaga kerja terampil yang mengembangkan dan menggunakan AI, kesiapan regulasi yang mengatur etika penggunaan dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, kesiapan infrastruktur komputasi serta kesiapan industri dan sektor publik dalam mengadopsi inovasi AI.

    Awal mula ketertarikan Haviluddin pada bidang sains informasi dikarenakan penerapan kecerdasan buatan bidang analisa prediksi saya menempuh program magister dan doktor dengan mode full research selama enam tahun.

    Sekembalinya ke Unmul, ia membentuk Kelompok Riset Kecerdasan Buatan (KRKB). Menurutnya, sains data merupakan salah satu keahlian di masa depan yang dibutuhkan dunia dengan didukung fondasi keilmuan algoritma machine learning.

    Selain kolaborasi riset, KRKB juga telah membentuk lima konsorsium internasional conference yaitu ICSITech, EIConCIT, ICCST, SAIN-IJAIN dan ICACSE dan satu seminar nasional bernama SAKTI.

    Pada 2014, ia juga merintis berdirinya International Journal of Advances in Intelligent Informatics (IJAIN) yang sejak 2018 hingga sekarang telah terindex Scopus.

    “Wadah-wadah ini sebagai sasaran luaran

    kegiatan riset yang kami lakukan bersama rekan dosen, mahasiswa dan mitra dari seluruh dunia," tambahnya.

    Dalam momen pengukuhannya, Prof Haviluddin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Rektor UNMUL Prof Dr Ir Abdunnur, M.Si., IPU, jajaran pimpinan, Senat UNMUL, serta pimpinan Fakultas Teknik UNMUL.

    Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada lembaga riset pendukung seperti Artificial Intelligence Research Unit (AIRU), Universiti Malaysia Sabah, The Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Association for Scientific Computing Electronics and Engineering (ASCEE), markas "Hantu" Fakultas Teknik UNMUL, APTIKOM, Relawan Jurnal Indonesia (RJI), para mitra akademisi dalam dan luar negeri, hingga para guru sekolah (SD, SMP, SMEA) dan keluarga besar Majelis Khataman Qur’an maupun Majelis Dzikrussa'adah.

    Penghargaan khusus dialokasikan kepada sang ibunda, Mamak Djama’iah, sang istri Prof Dyah Sunggingwati, S.Pd., M.Pd., Ph.D., sang putra Dinnuhoni Trahutomo, serta almarhum sang ayah, Drs Sukirno.

    Haviluddin juga mengenang pesan almarhum ayahnya saat pertama kali bertugas di UNMUL. "Nak, rezeki adalah ilmu dan amal yang bermanfaat bukan semata materi. Ingatlah, jangan pernah mengambil hak orang dan jangan pernah meminta jabatan,” kenangnya.

    (Sf/Lo)

    Figur

    Prof Haviluddin Jadi Guru Besar Pertama Informatika dan Sains Data di Kaltim, Dorong Inovasi AI

    Penulis:Padliannor|Redaktur:Lodya A
    10 Agustus 2026 pukul 20:48 WITA

    Prof Ir Haviluddin S.Kom.,M.Kom.,Ph.D., IPM (foto: Screenshot Dok. Orasi Ilmiah Prof Haviluddin)

    Tana Paser - Perkembangan teknologi dan komputasi global saat ini berada di titik puncak revolusi digital. Di tengah riuhnya teknologi secara global, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan sejarah penting di bidang akademik dengan lahirnya Guru Besar pertama yang berorientasi di sektor Informatika dan Sains Data yaitu Prof Ir Haviluddin S.Kom., M.Kom., Ph.D., IPM.

    Haviluddin pertama kali menempuh pendidikan formal di bidang informatika pada saat ia menjadi mahasiswa S1 Jurusan Teknik Informatika di STMIK Widya Cipta Darma Samarinda. Atas dasar ketertarikannya di bidang itu, ia kembali melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada.

    Tidak berhenti sampai di situ, kehausannya terhadap keilmuan kembali membuatnya melanjutkan pendidikan S3 Computer Science di Universitas Malaysia Sabah.

    Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul 'Peranan Inovasi Kecerdasan Buatan dan Sains Data untuk Pembangunan Generasi yang Lebih Baik' Haviluddin menjabarkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan sains data terkait erat dengan disiplin ilmu teknologi informasi dan komputasi yang kini menjadi topik hangat di tingkat global. Menurutnya, seluruh universitas dan industri di dunia sedang berlomba-lomba mengadopsi teknologi tersebut.

     

    Ia juga menyoroti terkait pentingnya peran data di era modern yang akan menjadi bahan pengolahan ketika menggunakan AI.

    "Jika algoritma kecerdasan buatan merupakan pembelajaran mandiri, maka data merupakan kekayaan intelektual sehingga memunculkan terminologi sains data," jelas Haviluddin dalam Orasi Ilmiahnya.

    Ia menilai, meskipun kemajuan AI merupakan hal yang tidak dapat dicegah, namun hal itu tidak akan menghilangkan peran manusia secara menyeluruh.

    Haviluddin berpandangan ada empat tantangan utama yang dihadapi dalam perkembangan AI dan Sains Data. Di antaranya, kesiapan tenaga kerja terampil yang mengembangkan dan menggunakan AI, kesiapan regulasi yang mengatur etika penggunaan dan pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, kesiapan infrastruktur komputasi serta kesiapan industri dan sektor publik dalam mengadopsi inovasi AI.

    Awal mula ketertarikan Haviluddin pada bidang sains informasi dikarenakan penerapan kecerdasan buatan bidang analisa prediksi saya menempuh program magister dan doktor dengan mode full research selama enam tahun.

    Sekembalinya ke Unmul, ia membentuk Kelompok Riset Kecerdasan Buatan (KRKB). Menurutnya, sains data merupakan salah satu keahlian di masa depan yang dibutuhkan dunia dengan didukung fondasi keilmuan algoritma machine learning.

    Selain kolaborasi riset, KRKB juga telah membentuk lima konsorsium internasional conference yaitu ICSITech, EIConCIT, ICCST, SAIN-IJAIN dan ICACSE dan satu seminar nasional bernama SAKTI.

    Pada 2014, ia juga merintis berdirinya International Journal of Advances in Intelligent Informatics (IJAIN) yang sejak 2018 hingga sekarang telah terindex Scopus.

    “Wadah-wadah ini sebagai sasaran luaran

    kegiatan riset yang kami lakukan bersama rekan dosen, mahasiswa dan mitra dari seluruh dunia," tambahnya.

    Dalam momen pengukuhannya, Prof Haviluddin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Rektor UNMUL Prof Dr Ir Abdunnur, M.Si., IPU, jajaran pimpinan, Senat UNMUL, serta pimpinan Fakultas Teknik UNMUL.

    Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada lembaga riset pendukung seperti Artificial Intelligence Research Unit (AIRU), Universiti Malaysia Sabah, The Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Association for Scientific Computing Electronics and Engineering (ASCEE), markas "Hantu" Fakultas Teknik UNMUL, APTIKOM, Relawan Jurnal Indonesia (RJI), para mitra akademisi dalam dan luar negeri, hingga para guru sekolah (SD, SMP, SMEA) dan keluarga besar Majelis Khataman Qur’an maupun Majelis Dzikrussa'adah.

    Penghargaan khusus dialokasikan kepada sang ibunda, Mamak Djama’iah, sang istri Prof Dyah Sunggingwati, S.Pd., M.Pd., Ph.D., sang putra Dinnuhoni Trahutomo, serta almarhum sang ayah, Drs Sukirno.

    Haviluddin juga mengenang pesan almarhum ayahnya saat pertama kali bertugas di UNMUL. "Nak, rezeki adalah ilmu dan amal yang bermanfaat bukan semata materi. Ingatlah, jangan pernah mengambil hak orang dan jangan pernah meminta jabatan,” kenangnya.

    (Sf/Lo)