Figur

    Pelajari JSN Ala Veteran Soeyoto, Perlawanan Tak Kenal Putus Asa

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    14 Agustus 2023 pukul 14:33 WITA

    Legiun Veteran Kalimantan Timur, Soetoyo. (Foto : Maulana/Seputarfakta.com)

    KALA itu memengang senjata bagi pejuang kedaulatan negara adalah harga mati, penuh siaga untuk memberikan perlawanan terhadap musuh. 

    Namun terkadang senjata tak menguntungkan bagi seorang pejuang, hanya tersisa jiwa dan semangat pantang menyerah untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

    Seperti cerita veteram Soeyoto yang berjuang melawan penjajah di perbatasan Kalimantan dan Malaysia.

    Terekam detail di memori Soeyoto, senjata yang ia pegang tengah dalam keadaan tak bersahabat. Tapi dengan semangat tinggi, dirinya bisa menghabisi musuhnya di medan perang .

    Cerita itu membuatnya bisa menyelamatkan sejarah serta dapat mengundang detak kagum pemuda saat ini.

    Awal mula Soeyoto terlahir dari keluarga yang tak memiliki kemampuan ekonomi lebih dari Kabupaten Nganjuk yang memiliki julukan tanah kemenangan dan melahirkan bibit pejuang.

    Seperti dua bersaudara ini, Soeyoto mengikuti jejak kakaknya Kapten Sutarno, sebagai seorang pejuang pembela negara.

    Dirinya bertekad untuk menjiplak kehebatan kakaknya. Sebab di usianya yang baru beranjak tujuh tahun sudah berada di medan tempur ketika agresi militer Belanda 1948.

    Dirinya menggotong senjata milik kakaknya, sebuah pengalaman hidup yang ingin dia teruskan bersama senjata itu. 

    "Di lengan kiri saya ada bekas peluru yang keserempet, sejak saat itu saya berkeinginan menjadi tentara dan itu yang memotivasi saya, dengan tujuan mulia untuk membela negara, bukan untuk mencari pangkat," tutur pria kelahiran 2 November 1942.

    Mimpinya tak jauh setelah dirinya menuntaskan pendidikan formal, di usianya 18 tahun memulai karir militernya di Sekolah Calon Tamtama (Secata) Jember.

    Kemudian di usianya belum genap 22 tahun lulus menjadi Prajurit Dua.

    Ia diterbangkan ke Kalimantan untuk bertugas pada 1962 silam. Setahun beradaptasi di Bumi Borneo, Soetoyo ikut menumpas gerombolan DI/TII pimpinan Ibnu Hajar di Grogot.

    Soetoyo kemudian mendapat tugas kembali untuk menjaga wilayah perbatasan Kaltim dengan Malaysia, pada pertengahan 1963 bersama tujuh rekan lainnya, yakni wilayah perbatasan Krayan, Nunukan menjadi wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Ba'kelalaan, Serawak dengan jarak lima kilometer yang terhalangi oleh bukit dan tanah lapang.

    Di sebuah bandara di Ba'kelalan terdapat batalion tentara Inggris dengan bantuan dari pasukan Gurkha yang selalu bersiaga. 

    "Ketegangan antara Indonesia dan Malaysia sering terjadi. Seperti ketika ada siaran radio milik negara tetangga berbunyi perobekan foto Presiden Soekarno dan diinjaknya lambang garuda Pancasila. Setelahnya kekacauan itu berlangsung karena tentara inggris menyulut serangan yang mengancam kedaulatan Indonesia," jelasnya.

    Saat serangan berlangsung, mereka hanya bermodal senapan mesin jenis M43 melawan satu peleton prajurit musuh, hanya ada asa dan nyali yang kuat, mengejar musuh hingga perbatasan. 

    Namun, dirinya menghadapi bahaya setelah senapan yang digunakannya terkena tembakan musuh. "Leher senapannya tidak bisa memutar, sehingga hanya membidik ke satu arah saja, yang seharusnya 500 peluru dalam satu rantai, bisa menembak lebih prajurit musuh," tangkasnya.

    Ketiga temannya bersimpah darah saat membuka jalur dan Soeyoto bersama temannya yang tersisa menembus pertahanan dengan taktik.

    Ditembakkan peluru ke atas, seolah-olah prajurit yang bersama Soeyoto banyak. "Untuk menakuti-nakuti agar tidak masuk ke wilayah kompi agar tidak terjadi perang yang lebih besar, kami mengusir dengan politik perang, yang mana teman-teman menembakkan peluru keatas secara konsisten, agar terlihat banyak. Kalau mengarahkan kedepan nanti terkena teman sendiri," bebernya.

    Strategi tersebut akhirnya dapat mengusir musuh untuk tidak memasuki wilayah Indonesia, kecerdikannya tersebut membawa dirinya didapuk penghargaan Satyalancana Wira Dharma dari Jenderal Abdul haris Nasution.

    Prestasi yang diraih itu ternyata membawa ke puncak karir dan mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan militernya dan sebagai pengawal Presiden Soeharto tempo itu.

    Namun kesempatan tersebut dikubur dalam-dalam olehnya. Sebelumnya, ia menikahi seorang wanita yang masih menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat bernama Tasmiyah pada 29 September 1965. Kisah cintanya, ketika itu Tasmiyah setelah ujian langsung dilamar oleh Soetoyo dengan segera, karena setelah sah pernikahannya ia mendapatkan tugas kembali di luar daerah.

    Harmonisnya keluarganya dalam kesederhanaan dan gaji cukup untuk kebutuhan rumah tangga.

    Ia pun dikaruniai tujuh anak dan dalam memperhatikan pertumbuhan dan pendidikan anak secara langsung, Soetoyo tidak mengambil kesempatan emas untuk karirnya meningkat.

    Prinsip yang dipegang begitu kuat untuk pendidikan anak, sehingga sangat khawatir meninggalkan anak-anaknya di Samarinda dalam keadaan masih menempuh pendidikan, ia takut terbengkalai.

    Tapi, kekuatan doa dan usaha dapat menyekolahkan anaknya.

    Tuhan mengilhami semua anaknya kecerdasan dan dapat menuntaskan gelar Sarjana. Dan dalam keluarganya terdapat berbagai jurusan dan keahlian, ada yang fokus dalam berwiraswasta, kedinasan, hingga pengajar. 

    Ia sukses dalam mengajarkan anak-anaknya dalam pendidikan dan ia berharap terus menurunkan kepada pionir mudanya (cucu, red) untuk selalu peduli terhadap pendidikan. Dan pendidikan pula membentuk anaknya pribadi yang berakhlak mulia dan berbakti kepada orang tua.

    Langkah Soetoyo tak berhenti disitu, setelah pensiun sejak 1990, ia bergerilya sebagai legiun veteran. Aktif dipanggil oleh pemerintahan tingkat daerah maupun kota. Dan saat ini didapuk menjadi Ketua Dewan Perwakilan Cabang Legiun Veteran Republik Indonesia (DPC LVRI) Kota Samarinda. Karena ia seorang veteran yang terlahir dari militer, ia memiliki sejarah yang dapat diceritakan kepada anak-anak sekolah hingga pegawai kantor.

    "Saya sering bercerita bersama anak-anak sekolah tentang perjuangan kala itu, adapun berbagai seminar saya selalu dimandatkan mewakili LVRI, dan ketika hari-hari besar nasional seperti Hari Pahlawan dan sebagainya," jabarnya.

    Veteran yang saat ini memiliki usia senja, hidup berdua bersama istrinya di rumah sederhananya, di Jalan Sukorejo RT 42 nomor 4 Lempake. Kesabarannya sering diuji kala hujan deras melanda, rumahnya sering tergenang banjir. Walaupun ditinggikan tak sanggup menahan air yang selalu menggenangi halaman depan rumahnya.

    Anak-anaknya sudah memiliki keluarga dan tempat tinggal masing-masing. Momentum hari lebaran dimanfaatkan untuk bertemu dengan anak cucunya yang berkunjung ke rumahnya.

    Dan terakhir dia mendapatkan penghargaan penulisan karya yang menjelaskan pemuda tanpa pamrih. Didalamnya berpesan kepada para pemuda untuk selalu menghormati veteran. "Menghormati veteran itu mudah, bagaimana pemuda itu harus menghormati JSN (Jiwa Semangat Nilai-Nilai Juang 45), karena di dalamnya terdapat spirit pemuda jangan mengerjakan sesuatu itu butuh imbalan, teladani pejuang terdahulu tanpa pamrih untuk bangsa ini," tutupnya.

    (Sf/By)

    Figur

    Pelajari JSN Ala Veteran Soeyoto, Perlawanan Tak Kenal Putus Asa

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    14 Agustus 2023 pukul 14:33 WITA

    Legiun Veteran Kalimantan Timur, Soetoyo. (Foto : Maulana/Seputarfakta.com)

    KALA itu memengang senjata bagi pejuang kedaulatan negara adalah harga mati, penuh siaga untuk memberikan perlawanan terhadap musuh. 

    Namun terkadang senjata tak menguntungkan bagi seorang pejuang, hanya tersisa jiwa dan semangat pantang menyerah untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

    Seperti cerita veteram Soeyoto yang berjuang melawan penjajah di perbatasan Kalimantan dan Malaysia.

    Terekam detail di memori Soeyoto, senjata yang ia pegang tengah dalam keadaan tak bersahabat. Tapi dengan semangat tinggi, dirinya bisa menghabisi musuhnya di medan perang .

    Cerita itu membuatnya bisa menyelamatkan sejarah serta dapat mengundang detak kagum pemuda saat ini.

    Awal mula Soeyoto terlahir dari keluarga yang tak memiliki kemampuan ekonomi lebih dari Kabupaten Nganjuk yang memiliki julukan tanah kemenangan dan melahirkan bibit pejuang.

    Seperti dua bersaudara ini, Soeyoto mengikuti jejak kakaknya Kapten Sutarno, sebagai seorang pejuang pembela negara.

    Dirinya bertekad untuk menjiplak kehebatan kakaknya. Sebab di usianya yang baru beranjak tujuh tahun sudah berada di medan tempur ketika agresi militer Belanda 1948.

    Dirinya menggotong senjata milik kakaknya, sebuah pengalaman hidup yang ingin dia teruskan bersama senjata itu. 

    "Di lengan kiri saya ada bekas peluru yang keserempet, sejak saat itu saya berkeinginan menjadi tentara dan itu yang memotivasi saya, dengan tujuan mulia untuk membela negara, bukan untuk mencari pangkat," tutur pria kelahiran 2 November 1942.

    Mimpinya tak jauh setelah dirinya menuntaskan pendidikan formal, di usianya 18 tahun memulai karir militernya di Sekolah Calon Tamtama (Secata) Jember.

    Kemudian di usianya belum genap 22 tahun lulus menjadi Prajurit Dua.

    Ia diterbangkan ke Kalimantan untuk bertugas pada 1962 silam. Setahun beradaptasi di Bumi Borneo, Soetoyo ikut menumpas gerombolan DI/TII pimpinan Ibnu Hajar di Grogot.

    Soetoyo kemudian mendapat tugas kembali untuk menjaga wilayah perbatasan Kaltim dengan Malaysia, pada pertengahan 1963 bersama tujuh rekan lainnya, yakni wilayah perbatasan Krayan, Nunukan menjadi wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Ba'kelalaan, Serawak dengan jarak lima kilometer yang terhalangi oleh bukit dan tanah lapang.

    Di sebuah bandara di Ba'kelalan terdapat batalion tentara Inggris dengan bantuan dari pasukan Gurkha yang selalu bersiaga. 

    "Ketegangan antara Indonesia dan Malaysia sering terjadi. Seperti ketika ada siaran radio milik negara tetangga berbunyi perobekan foto Presiden Soekarno dan diinjaknya lambang garuda Pancasila. Setelahnya kekacauan itu berlangsung karena tentara inggris menyulut serangan yang mengancam kedaulatan Indonesia," jelasnya.

    Saat serangan berlangsung, mereka hanya bermodal senapan mesin jenis M43 melawan satu peleton prajurit musuh, hanya ada asa dan nyali yang kuat, mengejar musuh hingga perbatasan. 

    Namun, dirinya menghadapi bahaya setelah senapan yang digunakannya terkena tembakan musuh. "Leher senapannya tidak bisa memutar, sehingga hanya membidik ke satu arah saja, yang seharusnya 500 peluru dalam satu rantai, bisa menembak lebih prajurit musuh," tangkasnya.

    Ketiga temannya bersimpah darah saat membuka jalur dan Soeyoto bersama temannya yang tersisa menembus pertahanan dengan taktik.

    Ditembakkan peluru ke atas, seolah-olah prajurit yang bersama Soeyoto banyak. "Untuk menakuti-nakuti agar tidak masuk ke wilayah kompi agar tidak terjadi perang yang lebih besar, kami mengusir dengan politik perang, yang mana teman-teman menembakkan peluru keatas secara konsisten, agar terlihat banyak. Kalau mengarahkan kedepan nanti terkena teman sendiri," bebernya.

    Strategi tersebut akhirnya dapat mengusir musuh untuk tidak memasuki wilayah Indonesia, kecerdikannya tersebut membawa dirinya didapuk penghargaan Satyalancana Wira Dharma dari Jenderal Abdul haris Nasution.

    Prestasi yang diraih itu ternyata membawa ke puncak karir dan mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan militernya dan sebagai pengawal Presiden Soeharto tempo itu.

    Namun kesempatan tersebut dikubur dalam-dalam olehnya. Sebelumnya, ia menikahi seorang wanita yang masih menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat bernama Tasmiyah pada 29 September 1965. Kisah cintanya, ketika itu Tasmiyah setelah ujian langsung dilamar oleh Soetoyo dengan segera, karena setelah sah pernikahannya ia mendapatkan tugas kembali di luar daerah.

    Harmonisnya keluarganya dalam kesederhanaan dan gaji cukup untuk kebutuhan rumah tangga.

    Ia pun dikaruniai tujuh anak dan dalam memperhatikan pertumbuhan dan pendidikan anak secara langsung, Soetoyo tidak mengambil kesempatan emas untuk karirnya meningkat.

    Prinsip yang dipegang begitu kuat untuk pendidikan anak, sehingga sangat khawatir meninggalkan anak-anaknya di Samarinda dalam keadaan masih menempuh pendidikan, ia takut terbengkalai.

    Tapi, kekuatan doa dan usaha dapat menyekolahkan anaknya.

    Tuhan mengilhami semua anaknya kecerdasan dan dapat menuntaskan gelar Sarjana. Dan dalam keluarganya terdapat berbagai jurusan dan keahlian, ada yang fokus dalam berwiraswasta, kedinasan, hingga pengajar. 

    Ia sukses dalam mengajarkan anak-anaknya dalam pendidikan dan ia berharap terus menurunkan kepada pionir mudanya (cucu, red) untuk selalu peduli terhadap pendidikan. Dan pendidikan pula membentuk anaknya pribadi yang berakhlak mulia dan berbakti kepada orang tua.

    Langkah Soetoyo tak berhenti disitu, setelah pensiun sejak 1990, ia bergerilya sebagai legiun veteran. Aktif dipanggil oleh pemerintahan tingkat daerah maupun kota. Dan saat ini didapuk menjadi Ketua Dewan Perwakilan Cabang Legiun Veteran Republik Indonesia (DPC LVRI) Kota Samarinda. Karena ia seorang veteran yang terlahir dari militer, ia memiliki sejarah yang dapat diceritakan kepada anak-anak sekolah hingga pegawai kantor.

    "Saya sering bercerita bersama anak-anak sekolah tentang perjuangan kala itu, adapun berbagai seminar saya selalu dimandatkan mewakili LVRI, dan ketika hari-hari besar nasional seperti Hari Pahlawan dan sebagainya," jabarnya.

    Veteran yang saat ini memiliki usia senja, hidup berdua bersama istrinya di rumah sederhananya, di Jalan Sukorejo RT 42 nomor 4 Lempake. Kesabarannya sering diuji kala hujan deras melanda, rumahnya sering tergenang banjir. Walaupun ditinggikan tak sanggup menahan air yang selalu menggenangi halaman depan rumahnya.

    Anak-anaknya sudah memiliki keluarga dan tempat tinggal masing-masing. Momentum hari lebaran dimanfaatkan untuk bertemu dengan anak cucunya yang berkunjung ke rumahnya.

    Dan terakhir dia mendapatkan penghargaan penulisan karya yang menjelaskan pemuda tanpa pamrih. Didalamnya berpesan kepada para pemuda untuk selalu menghormati veteran. "Menghormati veteran itu mudah, bagaimana pemuda itu harus menghormati JSN (Jiwa Semangat Nilai-Nilai Juang 45), karena di dalamnya terdapat spirit pemuda jangan mengerjakan sesuatu itu butuh imbalan, teladani pejuang terdahulu tanpa pamrih untuk bangsa ini," tutupnya.

    (Sf/By)