Figur

    Panggilan Hati Fatur Rahman, Melawan Krisis Sampah Kalimantan Lewat Literasi dan Aksi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Ruadianto
    21 Desember 2025 pukul 16:40 WITA

    Fatur Rahman Subianto sosok inspiratif pemuda yang memiliki segudang prestasi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

    Di bawah terik matahari tepian Sungai Mahakam, tepat di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2019, seorang pemuda berdiri di antara tumpukan beton turap dengan serokan di tangan. 

    Di sekelilingnya, hampir 500 relawan bergerak serempak, memunguti sisa-sisa peradaban yang terbuang, seperti botol plastik, kain bekas, hingga limbah medis yang membahayakan.

    Pemuda itu adalah Fatur Rahman Subianto. Hari itu, aksi bertajuk World Cleanup Day (WCD) yang ia koordinasikan berhasil mengumpulkan hampir tiga ton sampah hanya dalam hitungan jam. 

    Namun bagi Fatur, tumpukan karung sampah itu bukan sekadar angka prestasi, melainkan potret luka lingkungan yang harus segera diobati.

    “Saat itu saya merasakan ada sesuatu yang bergetar. Saya sadar, inilah passion saya. Inilah panggilan hati saya,” kenangnya saat menceritakan kembali awal mula ia terjun sepenuhnya ke dunia aktivisme lingkungan.

    Lahir di Melak, Kabupaten Kutai Barat, pada 15 Desember 1999, Fatur tumbuh dengan kesadaran sosial yang tajam. Ketertarikannya pada isu lingkungan dimulai sejak SMA saat ia bersentuhan dengan WWF. Namun, langkahnya semakin mantap saat menempuh studi di Pendidikan Biologi Universitas Mulawarman.

    Di kampus, ia tidak hanya berkutat dengan mikroskop atau teori sel. Fatur memilih "turun ke parit." 

    Baginya, menjadi sukarelawan adalah bentuk pengabdian yang tidak bisa diukur dengan rupiah. Mengutip salah satu mentornya, Aldi Riandana, Fatur menekankan bahwa sukarelawan tidak dibayar bukan karena mereka tidak berharga, melainkan karena nilai jasanya yang tak ternilai (unlimited).

    "Siapa yang mau jadi sukarelawan? Dapat capeknya, kadang dimarahi, tapi ini soal empati. Kita berbagi rasa kasih bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada makhluk Tuhan lainnya, termasuk tumbuhan dan hewan," ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup BEM KM UNMUL 2021 ini.

    Fatur menyadari bahwa memungut sampah di sungai dan parit adalah aksi reaktif yang tidak akan pernah selesai jika pola pikir masyarakat tidak berubah. 

    Berangkat dari keresahan itu, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Nawadhara Lestari Indonesia. Fokusnya bergeser, dari sekadar aksi fisik menuju edukasi dan literasi.

    Tak main-main, Nawadhara telah melahirkan tiga buku edukasi lingkungan yang menyasar anak-anak. Salah satunya adalah kisah Si Pahu, Badak Kalimantan asal Kutai Barat yang kini statusnya sangat terancam punah. Ada pula buku saku tentang Sungai Karang Mumus dan karakter Si Otan.

    "Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu satwa apa saja yang dilindungi di tanah kelahiran mereka sendiri, Kalimantan Timur. Kami ingin mengenalkan mereka lewat animasi dan cerita, agar rasa memiliki itu tumbuh sejak dini," jelasnya.

    Inisiatif literasi ini bahkan membawa Fatur dan timnya meraih penghargaan sebagai salah satu dari tiga kelompok terbaik nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Meski telah mendapat apresiasi, Fatur tetap menyimpan kritik konstruktif terhadap pengelolaan lingkungan di Kalimantan Timur. Ia menyoroti minimnya infrastruktur pengolahan sampah di Bumi Etam.

    "Hingga saat ini, Kaltim belum punya tempat pengolahan limbah menjadi produk siap pakai. Kita selalu mengekspor sampah ke Jawa atau luar negeri. Harusnya pemerintah bisa bersinergi, bukan menganggap gerakan mahasiswa atau masyarakat sebagai saingan, tapi sebagai mitra," tegasnya.

    Ia juga berharap pemerintah dapat membantu memperluas distribusi buku-buku edukasi satwa ke perpustakaan sekolah secara gratis. Menurutnya, edukasi adalah investasi jangka panjang. Jika aksi bersih-bersih hanya meninggalkan lelah, maka edukasi akan membekas hingga dewasa.

    Di tengah stigma masyarakat yang sering kali menuntut lulusan sarjana untuk segera mencari pekerjaan mapan atau menjadi PNS, Fatur beruntung memiliki orang tua yang suportif. 

    Sang ibu, yang berprofesi sebagai guru, dan sang ayah yang aktif di lingkungan, memberikan restu penuh pada pilihan hidupnya.

    "Orang tua sangat mendukung. Memang sempat diminta fokus skripsi dulu, tapi mereka paham bahwa apa yang saya lakukan adalah untuk memberi dampak," tuturnya sambil tersenyum.

    Bagi Fatur Rahman Subianto, perjalanan masih panjang. Ia bermimpi Indonesia bukan hanya bersih secara fisik, tapi juga bersih dari ketidakpedulian. 

    Sebelum bumi ini benar-benar menjadi "pulau plastik," Fatur memilih untuk terus bergerak, baik dengan serokan sampah di tangan, maupun pena yang menuliskan harapan bagi generasi mendatang.

    (Sf/Rs)

    Figur

    Panggilan Hati Fatur Rahman, Melawan Krisis Sampah Kalimantan Lewat Literasi dan Aksi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Ruadianto
    21 Desember 2025 pukul 16:40 WITA

    Fatur Rahman Subianto sosok inspiratif pemuda yang memiliki segudang prestasi. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

    Di bawah terik matahari tepian Sungai Mahakam, tepat di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2019, seorang pemuda berdiri di antara tumpukan beton turap dengan serokan di tangan. 

    Di sekelilingnya, hampir 500 relawan bergerak serempak, memunguti sisa-sisa peradaban yang terbuang, seperti botol plastik, kain bekas, hingga limbah medis yang membahayakan.

    Pemuda itu adalah Fatur Rahman Subianto. Hari itu, aksi bertajuk World Cleanup Day (WCD) yang ia koordinasikan berhasil mengumpulkan hampir tiga ton sampah hanya dalam hitungan jam. 

    Namun bagi Fatur, tumpukan karung sampah itu bukan sekadar angka prestasi, melainkan potret luka lingkungan yang harus segera diobati.

    “Saat itu saya merasakan ada sesuatu yang bergetar. Saya sadar, inilah passion saya. Inilah panggilan hati saya,” kenangnya saat menceritakan kembali awal mula ia terjun sepenuhnya ke dunia aktivisme lingkungan.

    Lahir di Melak, Kabupaten Kutai Barat, pada 15 Desember 1999, Fatur tumbuh dengan kesadaran sosial yang tajam. Ketertarikannya pada isu lingkungan dimulai sejak SMA saat ia bersentuhan dengan WWF. Namun, langkahnya semakin mantap saat menempuh studi di Pendidikan Biologi Universitas Mulawarman.

    Di kampus, ia tidak hanya berkutat dengan mikroskop atau teori sel. Fatur memilih "turun ke parit." 

    Baginya, menjadi sukarelawan adalah bentuk pengabdian yang tidak bisa diukur dengan rupiah. Mengutip salah satu mentornya, Aldi Riandana, Fatur menekankan bahwa sukarelawan tidak dibayar bukan karena mereka tidak berharga, melainkan karena nilai jasanya yang tak ternilai (unlimited).

    "Siapa yang mau jadi sukarelawan? Dapat capeknya, kadang dimarahi, tapi ini soal empati. Kita berbagi rasa kasih bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada makhluk Tuhan lainnya, termasuk tumbuhan dan hewan," ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup BEM KM UNMUL 2021 ini.

    Fatur menyadari bahwa memungut sampah di sungai dan parit adalah aksi reaktif yang tidak akan pernah selesai jika pola pikir masyarakat tidak berubah. 

    Berangkat dari keresahan itu, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Nawadhara Lestari Indonesia. Fokusnya bergeser, dari sekadar aksi fisik menuju edukasi dan literasi.

    Tak main-main, Nawadhara telah melahirkan tiga buku edukasi lingkungan yang menyasar anak-anak. Salah satunya adalah kisah Si Pahu, Badak Kalimantan asal Kutai Barat yang kini statusnya sangat terancam punah. Ada pula buku saku tentang Sungai Karang Mumus dan karakter Si Otan.

    "Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu satwa apa saja yang dilindungi di tanah kelahiran mereka sendiri, Kalimantan Timur. Kami ingin mengenalkan mereka lewat animasi dan cerita, agar rasa memiliki itu tumbuh sejak dini," jelasnya.

    Inisiatif literasi ini bahkan membawa Fatur dan timnya meraih penghargaan sebagai salah satu dari tiga kelompok terbaik nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Meski telah mendapat apresiasi, Fatur tetap menyimpan kritik konstruktif terhadap pengelolaan lingkungan di Kalimantan Timur. Ia menyoroti minimnya infrastruktur pengolahan sampah di Bumi Etam.

    "Hingga saat ini, Kaltim belum punya tempat pengolahan limbah menjadi produk siap pakai. Kita selalu mengekspor sampah ke Jawa atau luar negeri. Harusnya pemerintah bisa bersinergi, bukan menganggap gerakan mahasiswa atau masyarakat sebagai saingan, tapi sebagai mitra," tegasnya.

    Ia juga berharap pemerintah dapat membantu memperluas distribusi buku-buku edukasi satwa ke perpustakaan sekolah secara gratis. Menurutnya, edukasi adalah investasi jangka panjang. Jika aksi bersih-bersih hanya meninggalkan lelah, maka edukasi akan membekas hingga dewasa.

    Di tengah stigma masyarakat yang sering kali menuntut lulusan sarjana untuk segera mencari pekerjaan mapan atau menjadi PNS, Fatur beruntung memiliki orang tua yang suportif. 

    Sang ibu, yang berprofesi sebagai guru, dan sang ayah yang aktif di lingkungan, memberikan restu penuh pada pilihan hidupnya.

    "Orang tua sangat mendukung. Memang sempat diminta fokus skripsi dulu, tapi mereka paham bahwa apa yang saya lakukan adalah untuk memberi dampak," tuturnya sambil tersenyum.

    Bagi Fatur Rahman Subianto, perjalanan masih panjang. Ia bermimpi Indonesia bukan hanya bersih secara fisik, tapi juga bersih dari ketidakpedulian. 

    Sebelum bumi ini benar-benar menjadi "pulau plastik," Fatur memilih untuk terus bergerak, baik dengan serokan sampah di tangan, maupun pena yang menuliskan harapan bagi generasi mendatang.

    (Sf/Rs)